Pelatihan Mobile Aplikasi untuk Difabel

0
394
Anton Budyana (Affiliate Director) dalam presentasinya tentang pembuatan aplikasi mobile kepada difabeldi Hotel LJ (23/09). Foto: Pandu

Oleh: Pandu

[Bandung, 30 September 2018] Di era digital ini semua aktivitas semakin bisa dikendalikan oleh sentuhan jari seperti streaming television, belanja, mendapatkan jasa pelayanan transportasi, bahkan memesan makanan favorit, bisa dengan menunggu sambil duduk manis di rumah. Banyak kebutuhan bisa kita peroleh melalui daring. Perusahaan bidang jasa pelayanan transportasi maupun bidang gerai pakaian merasa omsetnya semakin menurun jika tidak mengubah atau mengombinasikan sistem penjualannya lewat daring.

Arus teknologi menyeret kita untuk terlibat di dalamnya, suka atau tidak suka, kemajuan adalah takdir sejarah. Jika kita menolak dan tak mau fleksibel, tentu kita akan digulung kemajuan itu sendiri. Maka dari itu jangan sampai kita tidak mengikuti kemajuan zaman karena kita akan disebut gaptek alias gagap teknologi. Zaman terus bergerak, meninggalkan dermaga di belakang, berlayar memunggungi masa lalu yang usang. Pergerakan zaman inilah kunci dari sebuah peradaban, sedangkan kemajuan teknologi, sepanjang catatan sejarah, banyak dimulai dari imajinasi.

‘Zaman menjanjikan sukses bagi siapa saja yang bisa mengikuti kemajuan dan perubahan’, tutur Andrie Wongso, Komisaris Compro Indonesia dalam sebuah pelatihan membuat mobile aplikasi bagi difabel. Pelatihan yang dilaksanakan di Hotel LJ, Jalan Malabar, No. 2, Bandung, dihadiri sekitar 25 peserta difabel tunadaksa, tunarungu, dan tunanetra. Modal yang dibawa oleh peserta dalam pelatihan bertema Workshop Creativity for Disability hanya menggunakan hand phone berbasis android. Penyelenggara, Bandung Digital Community, menggaet Compro Indonesia untuk mendekatkan teknologi aplikasi kepada kelompok difabel. Pada pembuatan mobile aplikasi ini tidak menggunakan bahasa pemrograman yang  sangat sulit dipahami oleh orang awam. Tetapi hanya menggunakan media website Compro dengan account demo 4 langkah yaitu create, design, content, dan publish. Menurut Anthon Budyana, sebagai Affiliate  Director Compro Indonesia sekaligus Digital Business Consultant mengatakan, ‘Workshop ini diadakan dengan tujuan membantu teman-teman difabel untuk menambah kemampuan yang terbatas, yang diharapkan bisa menjadi content developer dan mobile apps developer yang pada saat ini menjadi tools marketing mobile aplikasi yang kekinian.’
Hani, perempuan tunanetra (low vision) memberikan pendapat tentang pelatihan ini, ‘Menurut saya, workshop kali ini merupakan pengalaman baru bagi saya, dan sebuah tantangan baru yang bisa memajukan juga mengembangkan bisnis saya dalam membuat mobile aplikasi  ini. Pesan dari saya, semoga workshop ini diadakan kembali dengan lebih terperinci dan detil.’ ujarnya yang juga seorang guru dan entrepreneur.

Compro Indonesia sendiri adalah sebuah branding dari PT. Kotak Pratama yang di dalamnya merupakan gabungan dari pengusaha ritel yang dinamakan Bandung Digital Community. Workshop ini dibuka secara gratis bagi teman-teman difabel yang ingin mempelajari pembuatan mobile aplikasi mulai hari Senin sampai Jumat dengan melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui narahubung Anthon Budyana yang bertempat di basement Hotel LJ.

Teknologi memang memudahkan manusia, namun kita mesti bijak dalam menggunakan. Kita tentu ingat, 20 tahun yang lalu, sebuah komputer canggih rancangan IBM bernama Deep Blue bahkan bisa mengalahkan grand master catur dunia, Garry Kasparov. Ini sebagai salah satu bukti bahwa teknologi akhirnya akan mengalahkan manusia, selain memmudahkannya. Di situlah pentingnya pengetahuan sosial agar kita tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk kepentingan yang melanggar hukum Negara.