Pelatih Renang Khusus Difabel di NPCI Kota Bandung

0
571

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com — Kecipak-kecipuk riuh mendendangkan lengan yang menari di atas air biru. Suara hentakan dan tamparan mengayuh buih-buih oksigen dalam air untuk mengadu kecepatan renang beberapa atlet di tengah kolam. Bagaikan mitologi duyung, manusia-manusia itu bisa bergerak cepat, berenang membelah lintasan air demi menggapai garis finis. Siapa yang menyangka jikalau perenang-perenang ini adalah difabel yang memiliki mobilitas tak sebebas nondifabel. Begitulah manusia, makhluk ajaib yang bisa beradaptasi pada lingkungan apapun berkat kebiasaan dan latihan khusus serta semangat melepas keterbatasan.

Membuat seseorang dengan keterbatasan fisik mampu berenang lincah di permukaan air bukanlah perkara yang mudah, butuh usaha yang keras untuk melawan tantangan serta membentuk keberanian mental diri agar tidak tenggelam dalam bayangan tangan gravitasi yang siap menenggelamkan atau fobia air. Tim pelatih atlet renang khusus difabel yang berhasil kami hubungi di kantor NPCI Kota Bandung yang di antaranya adalah Marsudi (51), Maman (40), Aef Saefudin (38), dan Tryash Destrianawaty (26) akan menggambarkan bagaimana lika-liku mereka dalam melatih ragam difabel dalam cabang olahraga renang.

Tim ini mulai melatih sejak tahun 2009, dengan tujuan melatih anak-anak difabel untuk bisa menjadi atlet profesional dan meraih gelar juara di cabang olahraga renang. Meskipun dengan beberapa kendala yang dihadapi seperti kurangnya disiplin waktu anak-anak dalam proses latihan serta panjangnya durasi latihan membuat beberapa anak merasa jenuh dan adanya perbedaan metode latihan yang diberikan untuk klasifikasi atau jenis difabel yang berbeda sehingga jelas step-step pembelajaran teknis dasar harus lebih detail dan memakan waktu yang lebih lama.

Salah satu mentor mengatakan, “Cara mengatasinya kami biasanya dari waktu ke waktu, anak-anak dibiasakan untuk disiplin dan memiliki rasa tanggung jawab. Dari sisi teknis, pelatih harus sabar dan tidak boleh gampang bosan dalam melatih anak-anak.”

Pada dasarnya metode latihan yang digunakan hampir sama dengan yang dipakai atlet umum, hanya saja ada sedikit tambahan untuk difabel netra yang menggunakan alat bantu berupa tongkat untuk memberitahukan ketika sampai garis finis sedangkan untuk difabel tuli menggunakan bendera sebagai aba-aba memulai latihan sebagai tanda waktu untuk terjun ke dalam kolam renang.

Kendala yang dihadapi serta usaha yang dilakukan tentu saja bukan hal yang sia-sia. Prestasi tertinggi yang pernah dicapai selama melatih, tim pelatih renang NPCI Kota Bandung mampu mengantarkan atletnya sampai di ajang internasional seperti Asean Para games yaitu Ilham Kholik (difabel netra) dan Irvan Septiana (difabel grahita) sedangkan untuk atlet pelajar membawa nama Ragil Silikawati di ajang Peparpenas. Hal ini tentu saja tidak lepas dari perhatian serta dukungan dari NPCI Kota Bandung yang sangat konsen dalam proses jalannya latihan, terbukti dengan dukungan kelengkapan peralatan renang yang memadai dan pembiayaan ketika latihan.

Dalam proses latihan, tim pelatih renang NPCI Kota Bandung selalu melakukannya secara bersama-sama. Dengan cara sinkronisasi program latihan dengan pembagian tugas di tiap-tiap pelatih. Setiap pelatih memiliki tugas masing-masing, baik pelatih teknik, fisik mental psikologi dan pencatat perkembangan fisik maupun psikologis atlet. Semuanya bekerja berkesinambungan untuk mencapai tujuan yang sama dalam kolaborasi serta bimbingan dari koordinator pelatih.

Dalam bidang olahraga, setiap orang dengan cabornya memiliki perbedaan dalam penguasaan dan pemahaman teknik yang diberikan. Bukan seperti harimau yang dari lahir sudah memiliki insting predator atau anak ikan yang baru lahir sudah pandai berenang. Setiap anak berbeda-beda waktu dan cara menangkap materi program yang di berikan pelatih. Pada umumnya untuk menguasai tehnik cabang olahraga renang dari dasar sampai sempurna bagi disabilitas minimal membutuhkan waktu dua tahun.

Menjadi suatu kebanggaan bagi seorang pelatih dalam membina atlet-atletnya di NPCI Kota Bandung untuk bisa menjadi juara di ajang pertandingan olahraga internasional dalam membawa nama harum bangsa dan negara Indonesia. Terlepas dari keinginan serta harapan mendapatkan kesetaraan, baik hak dan kedudukan di tengah masyarakat, tim pelatih renang khusus difabel ini juga sangat berharap anak-anaknya bisa mendapat pengakuan dan penghargaan yang diperoleh sama dengan atlet umum.