NPCI Antara Canda dan Olahraga

0
99

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 12 September 2020] Ungkapan bentuk kasih sayang tidak selalu harus ditandai dengan sebuah pelukan atau pemberian hadiah berupa barang. Jalinan kesetiaan untuk mewujudkan kesamaan misi berorganisasi, yang telah melewati satu periode masa kerja sering kali diuji oleh nyali. Antara profesi dan canda, menunjukkan sikap yang tidak bisa direkayasa saat membaur bersama.

Ada yang unik dalam rangka mengisi Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun ini. National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung menyemangati para kru dan atlet dari ragam cabang olahraga, untuk gim volly duduk saat jadwal latihan. Notabene-nya, mereka tidak semua tergabung dalam cabang olahraga tersebut. Peluang yang diberikan kepada kru yang selama ini sering mendampingi atlet, agar mereka dapat merasakan langsung atmosfir bermain di lapangan.

Keseruan lain muncul di akhir gim. Djumono (53) tim pengurus NPCI Kota Bandung, dikejutkan dengan canda bentuk kasih sayang dari kebersamaan selama mendedikasikan diri dalam tugas. Bertepatan dengan pertambahan usianya yang telah melewati setengah abad, mendapatkan ungkapan selamat hari lahir dengan versi usia remaja.

“Ini bentuk kasih sayang dari kami semua terhadap Pak Djumono sebagai wakil sekretaris NPCI Kota Bandung, selama ini beliau merupakan yang paling aktif dan kami merasa bangga terhadap dedikasinya,” tutur Adik Fachroji, ketua NPCI Kota Bandung.

Adik juga mengagumi dedikasi lain yang dilakukan Djumono diluar ranah NPCI, seperti konsistensinya dalam memperjuangkan kesetaraan untuk difabel. Kejutan yang dirancang bersama tim NPCI Kota Bandung untuk memberikan kesan tersendiri pada pertambahan usia rekan kerjanya, murni antara canda dan olahraga yang biasa terjalin dalam tim.

Bukan bahasan tentang usia lagi, melainkan kesetaraan tidak membedakan saat bercanda dalam satu wadah organisasi dan satu perjuangan. Sebagai teman dan sesepuh, yang tetap memiliki jiwa muda dalam tim olahraga.

“Kita tanamkan pada difabel, kalau kita merasa tua dan ada kekurangan pula, akhirnya kebersamaan akan terhalangi oleh itu,” terang Adik.

Hubungan secara emosional antara pengurus, atlet dan kru yang nondifabel selalu terjalin dengan baik. Sama, setara seperti masyarakat umum lainnya. Kebersamaan yang selalu ditanamkan  tersebut diharapkan dapat menjadi contoh untuk banyak pihak. Dalam sebuah organisasi akan terlihat waktu pembeda antara saat bercanda seperti memberikan kejutan, dan saat serius seperti dalam rapat.

Mewakili keluarga, Bagus Rahman Putra (19) anak bungsu Djumono menyampaikan harapan agar sang ayah yang aktif dalam beragam kegiatan, tetap diberi kesehatan, dan terus meyuarakan dengan lantang dalam setiap hal yang diperjuangkan bersama difabel lainnya.

“Untuk memberikan dukungan dan semangat pada papa saat tanding, sempat membawa teman-teman juga,” tutur Bagus.

Secara pribadi, Bagus merasa berinteraksi dengan lingkungan difabel bukan lagi menjadi dunia baru. Ia bahkan pernah mengikuti kegiatan sang ayah berkali-kali. Keakraban bersama para difabel terjalin dengan semua ragam kedifabelan tanpa terkecuali. Ia juga berharap untuk para difabel agar lebih berani menunjukan diri kepada dunia, dengan semua kemampuan yang dimilikinya. Remaja yang sudah mulai berkecimpung sebagai entertain ini pun, berkata siap untuk berkolaborasi dengan para difabel dalam aktivitasnya.

Ditemui diakhir kegiatan mengisi Haornas yang jatuh setiap 9 September, sekaligus mengenang hari lahir, Djumono menyampaikan rasa syukurnya atas nikmat hidup, dan hingga saat ini masih dapat mengisinya dengan hal yang bermanfaat.

Untuk momentum Hari Olahraga Nasional tersendiri, bersyukur masih dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat memalui virtual. Termasuk di tingkat pusat.