Muslim: Jangan Sembunyikan Anak Difabel di Kolong Ranjang

0
737

Penulis: Ramadhan Bayu Pratama

Newsdifabel.com — “Jangan sembunyikan anak disabilitas di kolong ranjangmu.” pesan Muslim. Pria yang saat ini berusia 50 tahun itu mengimbau kepada keluarga-keluarga yang memiliki anak difabel untuk tidak menyembunyikan anaknya dari dunia. Memingitnya dari masyarakat. Laki-laki yang telah mengantongi sertifikat wasit dari Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) dan paragame ini mengeluhkan masih ada fenomena menyembunyikan anggota keluarga difabel di rumahnya. Hal seperti itu masih sering terjadi di masyarakat dengan berbagai alasan.

“Hendaklah bagi keluarga yang memiliki angota keluarga disabilitas, paling tidak bawalah mereka ke komunitas-komunitas disabilitas agar mendapatkan edukasi untuk mengembangkan potensinya. Di masa seperti saat ini banyak saluran-saluran untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak disabilitas, contohnya seperti (komunitas—red) olahraga catur. Dengan bermain catur, banyak disabilitas yang mampu meraih prestasi seperti pada ajang Asia Paragame 2018 di Indonesia.” tutur Muslim.

Catur merupakan cabang olahraga yang benyak digemari dan dipertandingan di segala ajang baik daerah, nasional maupun internasional. Bagi teman-teman tuli dan difabel daksa, bermain catur tidak benyak memerlukan modifikasi, hanya saja bagi difabel netra perlu ada modifikasi pada papan catur dan bidak-bidaknya agar tidak mudah terjatuh saat tersenggol ketika memindahkan bidak catur. Hal itu disiasati dengan cara melubangi kotak pada papan catur.

Selain itu, setiap bidaknya diberi batang kayu pada dasar bidak catur untuk dimasukan ke dalam kotak yang telah dilubangi agar dapat berdiri dan tidak terjatuh saat tersentuh atau tersenggol. Kotak-kotak hitam dan putih pada papan pun diberi tanda agar mudah mengetahui langkah bidak menggunakan taktil atau perabaan dengan meninggikan dan merendahkan salah satu kotak hitam atau putih.

Dalam melakukan kegiatan program pelatihan catur bagi atlet catur difabel pemula, Muslim yang sejak 2016 menjadi pelatih catur melihat adanya kebutuhan pembelajaran catur yang khusus untuk difabel. Metode pembelajaran langsung (direct instructions) menjadi pilihan dalam melatih atlet catur difabel.

Pembelajaran langsung itu sendiri dalam implementasinya, Muslim terlebih dulu memposisikan duduk atlet difabel netra agar nyaman. Dirinya juga menghindari kata-kata instruktif yang bersifat ambigu bagi difabel netra seperti “di sana, di sini”. Muslim mengutamakan kata-kata yang bersifat konkret seperti “di sebelah kanan, di sebelah kiri“. Kemudian, dengan sentuhan taktil memberikan gambaran posisi meja, papan catur, bidak catur, dan pembelajaran notasi menjadi materi permulaan dimana nantinya atlet catur difabel netra akan memiliki kemampuan pemetaan dalam bermain catur, sehingga latihan pun dapat dilakukan dari jarak jauh dengan memanfaatkan sarana komunikasi seperti telepon pintar dan lain-lain. Sedangkan pembelajaran yang dilakukan terhadap atlet catur teman-teman tuli, Muslim juga menggunakan sentuhan taktil dalam proses pembelajarannya. Pria berkursi roda itu menggunakan komunikasi oral (gerak bibir) dalam melakukan komunikasi kepada atlet catur tuli. Sedangkan untuk atlet catur difabel daksa, pembelajaran dilakukan tidak terlalu banyak adaptasi khusus.

Untuk memotivasi para atlet caturnya yang masih pemula, Muslim memberikan contoh dan mengenalkan mereka kepada atlet-atlet senior yang sudah memiliki banyak prestasi, sehingga dapat merangsang semangat. Harapan pria yang saat ini tergabung dalam tim pelatih catur National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Cabang Kota Bandung itu menginginkan agar pemerintah dapat mengakomodasi kebutuhan sarana dan prasarana khusus bagi atlet catur difabel di Kota Bandung untuk menunjang atlet-atlet difabel saat berlatih karena untuk saat ini mereka masih menumpang di gedung Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia).

Walaupun pihak Percasi tidak mempermasalahkan hal tersebut, alangkah baiknya memiliki sarana prasarana sendiri agar fokus dalam menjalankan program latihan. Sedangkan bagi atlet catur difabel pemula, Muslim berharap kepada mereka untuk memiliki komitmen dan tekat dalam belajar dan berlatih, karena hanya dengan semangat dan tekat yang kuatlah prestasi dapat diraih.