Musisi Difabel Netra Eksis di Tengah Pandemi

0
186

Oleh: Sri

[Bandung, 6 September 2020] Kemampuan atau skill seseorang dalam bidang tertentu dapat menjadi potensi untuk menopang perekonomian secara mandiri. Lendra Jaya Ambara (30) yang mahir bermain alat musik keyboard sudah membuktikan. Dari keahlian tersebut, sosok difabel netra bertubuh tambun ini mampu menopang kebutuhan perekomonian keluarga kecilnya.

Sebagai musisi, ia mencoba untuk terus eksis di tengah pandemi. Potensi yang diasah sejak di bangku SMA, menjadi jalan untuk bidang profesi yang ditekuni hingga sekarang. Didasari keinginan untuk bisa bermain alat musik selain gitar bas, ketertarikannya sejak kecil untuk belajar keyboard sudah menggebu.

“Dulu belum ada alat sehingga belum bisa beraktivitas, baru sekitar tahun 2016 punya keyboard sendiri,” kenang Lendra.
Dirinya pernah mengikuti kursus piano selama enam bulan, dan berhenti sebab tidak sesuai dengan kurikulum yang diminatinya. Ia selebihnya belajar secara otodidak mengembangkan diri sendiri dalam bermain alat musik. Dua tahun belajar alat musik selama masih menjadi siswa SMA dirasakan Lendra sebagai modal yang lebih berkesan dalam sarana untuk mencari nafkah hingga saat ini.

“Pertama dapat job itu, sebutannya OT Plus atau Organ Tunggal Plus dengan tambahan alat musik kendang, gitar, dan seruling. Dan itu awal saya mendapatkan penghasilan, dan dibayar secara profesional,” ucapnya.

Saat tampil bermain keyboard, ia selalu berkolaborasi baik dengan sesama difabel maupun non difabel. Jam terbang juga menjadi nilai tambah untuk mendapatkan job. Selama menjalani profesinya, banyak undangan mengisi pangung di acara pesta dari berbagai wilayah seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung bahkan ke daerah Garut. Sebagai musisi, koneksi merupakan faktor lain yang dapat merekomendasikan kemampuannya untuk mendapatkan job secara profesional yang artinya akan terima honor sesuai kesepakatan.

Sebelum pandemi, Lendra mengaku mudah mendapatkan job tampil. Setiap minggu selalu ada yang mengundangnya secara reguler di grup bandnya. Termasuk event-event tahunan seperti bulan haji, yang marak digunakan masyarakat untuk mengadakan acara resepsi.

“Selama pandemi saya off dari mulai April hingga Agustus. Ada yang mengundang di Agustus itu pun dari saudara,” katanya.

Bagi masyarakat awam, yang masih meragukan tentang skill para musisi difabel netra dalam bermain alat musik saperti gitar, bas, dan keyboard masih dapat dikatakan wajar. Mereka yang belum menyaksikan sendiri bagaimana musisi difabel netra mahir bermusik, tentu akan memiliki rasa penasaran bahkan ketidak percayaan terhadap kemampuannya.

Peran dokumentasi berupa video dan foto, saat tampil bermusik akan menjadi sebuah bukti yang dapat disodorkan pada masyarakat. Ini juga yang kemudian dapat dijadikan sebagai media promosi para musisi difabel netra.

Tanggapan positif dari masyarakat pun mulai dirasakan. Sebagai musisi juga ditantang dengan memperkaya perbendaharaan lagu, ini termasuk salah satu hal penting yang terkadang masih terlupakan. Musisi difabel netra juga harus terus menambah ilmu wawasan dalam bidang musik, selain kemampuan skill bermain alat musik.

“Agar masyarakat jadi tahu bagaimana saya tampil bermusik, dan itu harus ada bukti nyata bukan hanya dalam bentuk kabar lisan saja. Dulu juga sempat mengira dokumentasi itu kurang penting, sekarang paham kalau itu bisa jadi satu bukti keprofesionalan untuk musisi difabel netra adalah dalam bentuk video,” papar Lendra.

Mengantipasi saat off job atau selama pandemi yang sempat menutup semua area tempat rekreasi dan arena hiburan, para musisi difabel netra sudah seharusnya memikirkan alternatif lain untuk bertahan hidup. Alih profesi lain yang sifatnya sementara semisal menjadi terapis pijat juga dapat dilakukan. Namun, aturan pandemi yang melarang kontak fisik menjadi sekat tersediri. Mengandalkan bantuan sosial yang menjadi program pemerintah terkadang kurang tepat sasaran.

Satu-satunya harapan walau masih kondisi new normal pandemi adalah memberi kelonggaran bukan membuka seluruhnya, melainkan membuka kebijakan baru pada musisi untuk dapat mencari nafkah agar tidak terlalu dibatasi. Dengan tetap menjalankan aturan protokol kesehatan yang diwajibkan. Agar karir para musis difabel netra dapat eksis kembali di dunia hiburan.