Mitra Netra Memutar Film Inklusi Sejauh Ku Melangkah

0
672

Penulis: Delia 

Newsdifabel.com — Menonton sebuah film terkadang menjadi hobi kebanyakan orang. Hiruk-pikuk saat bekerja membuat jiwa raga serta alam bawah sadar menjadi sangat lelah, sehingga membuat jutaan manusia mencari hiburan untuk melepas penat sejenak agar bugar saat kembali bekerja. Salah satu hiburan itu adalah menonton film. Saat ini menonton film tidak harus di bioskop, banyak media dan aplikasi yang menyediakan film box office, gratis maupun berbayar.

Tapi jangan salah, penikmat film juga banyak datang dari teman difabel. Lalu, bagaimana mereka bisa mengikuti alur cerita sebuah film jika mereka tidak bisa melihat ataupun mendengar adegan dan percakapan di dalamnya? Film yang mampu menjawabnya adalah film inklusi.

Kebanyakan orang yang menonton film di bioskop akan mengajak pasangan yang jadi gebetannya setiap malam minggu. Kali ini, dengan menghadirkan lebih dari 170 peserta dari Mitra Netra mengadakan acara menonton film berjudul Sejauh Ku Melangkah melalui aplikasi Zoom pada Sabtu, 16 Januari 2021. Film ini menceritakan tentang kehidupan dua remaja difabel netra yang tinggal terpisah, di Amerika dan Indonesia.

Selain pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi “Peran Tunanetra Muda dalam Berkomunikasi di Masyarakat” bersama Ucu Agustin (sutradara dan produser film), Andrea Darmawan (pemeran film yang tinggal di Amerika), dan Taufik Zulfikri (remaja difabel netra yang aktif berkomunitas di Jakarta dan sedang menekuni hobi sebagai pemandu acara)

Salah satu panitia dari Yayasan Mitra Netra, Juwita Maulida (32) ketika kami hubungi secara daring menyatakan bahwa film inklusi Sejauh Ku Melangkah ini merupakan rangkaian kampanye dampak Indonesia Inklusif dari tim impact campaign Sejauh Ku Melangkah dan Mitra Netra menjadi salah satu partner dari kegiatan tersebut.”

Mitra Netra ingin mengajak sebanyak mungkin masyarakat umum serta komunitas, baik difabel maupun nondifabel untuk membangun ruang dialog bersama difabel netra. Dengan adanya ruang dialog, diharapkan masyarakat berpikir terbuka tentang difabel dan mendorong difabel muda aktif berkomunitas di tengah masyarakat.

Film yang dipersembahkan untuk difabel netra dan tuli ini merupakan film peraih Piala Citra 2019 untuk kategori dokumenter pendek terbaik. Film tersebut dirilis September 2019 di Indonesia Forum Film New York, Amerika Serikat. Film ini sempat berkeliling di beberapa festival film internasional serta telah melakukan pemutaran publik baik di Indonesia maupun Amerika Serikat. Pendistribusian film ini sayangnya sempat terhalang wabah Covid pada Maret 2020.

Sahabat netra dan tuli yang ikut serta dalam penayangan film ini tidak akan dibantu seorang pembisik ataupun juru bahasa isyarat karena sudah dilengkapi dengan audio description, atau biasa disingkat AD, dan closed caption, atau biasa disingkat sebagai CC. Dengan AD dan CC, maka sepanjang pemutaran film berlangsung akan ada suara yang mendeskripsikan adegan, tulisan ataupun teks film yang menerangkan bahasa asing untuk difabel netra, sedangkan untuk difabel tuli, tentu saja semua audio akan ditulis pada bagian bawah layar layaknya seperti teks film.

Dengan demikian masyarakat Indonesia bisa semakin menyadari dan menumbuhkan kepedulian akan keberadaan difabel. Kemudian setelah menyadari, lalu memahami kebutuhan mereka, bisa menjadi pondasi meruntuhkan sekat-sekat perbedaan. Melalui perubahan stigma, bisa memberdayakan dan bersahabat dengan difabel sehingga sanggup mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif.