Mimpi Zainal

1
252
Foto: https://www.micheleknight.com

Oleh: Pandu |

[Bandung, 5 September 2018] Laki-laki yang lahir 26 tahun lalu di Pulau Borneo ini bernama Zainal. Dia mendapati keterbatasan pada kedua matanya ketika menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama tepatnya kelas II. Dengan tinggi 160 sentimeter dan berat badan 60 kilogram, Zainal diberi warna di kulitnya oleh Tuhan sawo-matang. Dia tinggal bersama neneknya sejak usia 4 tahun. Kedua orang tuanya telah berpisah. Zainal memahami bahwa takdir tak bisa dia pesan seperti daftar menu makanan di restoran siap saji atau di warung-warung. Takdir bekerja dengan cara-cara yang misterius, kita, manusia, hanya harus terus menelusuri setapak demi setapak jalan, berpegang pada prinsip, kebajikan, harapan. Lalu bersyukur pada pemberi hidup. 

Di usianya yang 16 tahun, kedua mata Zainal mengalami penurunan kemampuan. Penyebabnya adalah toksoplasmosis, infeksi pada manusia yang ditimbulkan oleh parasit toxoplasma gondii. Parasit ini bisa menginfeksi mayoritas hewan dan burung. Toxoplasma gondii bisa ditemukan pada kotoran kucing yang terinfeksi, serta daging binatang yang terinfeksi.

Kini kedua mata Zainal mengalami low vision atau rendah pengelihatan, tetapi sejak usia tersebut dia telah bekerja di berbagai tempat di antaranya menjadi staf di sebuah perusahaan, cleaning service hingga berwirausaha.

Tepat pada tahun 2017, sesuai informasi yang didapat dari organisasi Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Zainal datang ke kota Bandung untuk mengambil pendidikan di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wiyata Guna, Bandung. Kelak, sekembalinya ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Zainal memiliki tekad mengembangkan pengalaman beserta pengetahuannya, dan mengabdikan diri dalam misi kemanusiaan: berbagi ilmu kepada kawan-kawan disabilitas yang ada di kota kelahirannya, termasuk menyampaikan informasi bahwa disabilitas telah mempunyai undang-undang yang menjamin adanya penyetaraan perlakuan dan aksesbilitas bagi penyandang disabilitas.

1 COMMENT