Mewujud Harap pada Terang yang Gulita

0
392

Oleh: Wisanggeni

[Bandung, 11 Oktober 2020] Minggu (4/10) sore di lapangan bola voli Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung suasana terasa begitu sangat hareudang.

Anak-anak debu berlarian bermain petak umpet di pelupuk mata. Sementara bau kering rerumputan seolah menapaki cerita gulita, di terik matahari pada sekelompok anak muda yang berolahraga.

Gelap, samar, dan buram adalah garis nasib yang tak bisa ditawar dalam keseharian mereka. Tidak selaiknya masyarakat umum yang mampu membaca pelangi, mereka menguliti masa demi masa tanpa warna; kerdil, bahkan fana cahaya.

Namun mereka tidak mengeluh. Canda dan tawa adalah oksigen dalam aorta nadi yang memompa kebahagiaan untuk mengeja kata cinta.

Ya, sore itu diiringi desir angin, para sahabat tunanetra berlatih silat dalam arena wisata rasa.

“Satu, dua, tiga. Tendang!” teriak para pesilat pemula itu.

Lamunan buyar seperti bara yang dilempar batu menjadi lelatu. Gerakan mereka yang kaku dan tidak terarah, digiring angin menuju tanah harapan yang tidak tercatat dalam peta.

Teriakan itu menyelinap masuk genderang telinga dan memutar secara langsung lantang pandang ingatan yang pudar. Entah kenapa sore itu mereka berubah menjadi Barda Mandrawata alias Si Buta Dari Gua Hantu. Seorang pesilat yang mumpuni mampu merubuhkan kekuatan kuda-kuda lawan bermodal bisikan angin, dan isyarat debu.

Bagi generasi milenial tentu Si Buta Dari Gua Hantu awam di telinga mereka. Padahal tokoh yang diciptakan Ganes T.H pada kurun 1960-an, pernah berjaya dan menjadi santapan ruhani para penggemar komik.

Dus, tanpa disadari komik silat itu mampu meracuni anak muda untuk mencintai silat dan bangga terhadap warisan budayanya sendiri.

Tokoh silat difabel ini memang sangat inspiratif, mampu berbicara tentang hak dan kelebihan para penyandang tunanetra. Pun pesan moral yang tinggi tentang melawan keterbatasan yang tiada berbatas.

Akh, sudahlah, biarkan si buta berkelana memancuhkan kebenaran dengan jalan kematian. Sore yang kering diseling suara klakson dan teriakan knalpot yang batuk menahun, sekelompok anak muda itu tampak serius berlatih.

Keringat telah membuat aliran sungai di wajah mereka. Nafas tembakau yang tersengal, menguras isi paru-paru dan mengambil oksigen dari pepohonan di sekelilingnya.

Salah satu kawan yang tampak lelah adalah Ridwan. Pemuda usia 19 tahun yang sedang mendalami keilmuan memijat ini menyatakan ketertarikannya berlatih Silat.

“Selain olahraga, penting juga untuk menjaga warisan budaya ini” ucap lelaki yang hidup dengan low vision ini.

Ridwan, yang kelahiran Ciamis ini, memang mengenal silat sejak lama. Apalagi di tanah kelahirannya; kedekatan dengan tradisi begitu lekat. Tak ubahnya seperti Bisma dengan mata panah di Kurusétra.

Ridwan berharap silat mampu menembus batas dan menghilangkan sekat dalam masyarakat; termasuk difabel di dalamnya.

“Selain belajar gerakan kita latih juga kekuatan jarinya. Agar kalau mereka memijat jari-jarinya tidak mudah lelah” timpal Dedy Ardian yang menjadi ketua Apsidi sekaligus instruktur silat.

Dedy memahami kebutuhan para pesilat yang ikut berlatih sore itu. Dimana umumnya hampir yang terlibat memiliki profesi sebagai tukang pijat. Untuk itulah pengembangan menguatkan jari merupakan bagian penting dari pembelajaran silat untuk mereka.

Dedy yang juga berprofesi sebagai guru SLB, tidak hanya mengajak dan mengajarkan silat kepada difabel yang sudah dewasa. Di sekolah tempatnya mengajar, silat menjadi program yang disertakan untuk anak didik.

Guna mewadahi hal tersebut, Dedy berinisiatif membuat organisasi yang diberi nama Apsidi, akronim dari Asosiasi Pencak Silat Disabilitas.

Apsidi yang berdiri 17 Februari 2018 lalu, diawali dengan melatih dan mengenalkan seni pencak silat yang ada di sekolah.

Menurut Dedy, silat menjadi media terapi gerak. Selain itu  bertujuan mulia untuk membina, memupuk serta memantapkan keterampilan, ketangkasan dalam seni bela diri dan keteguhan jiwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Silat menjadi media penting menuangkan ekspresi bagi setiap orang, termasuk penyandang disabilitas. Jadi, selain sebagai sarana terapi, silat pun merupakan ajang eksistensi bagi mereka yang berkebutuhan khusus,” ungkapnya.

Keinginan membumikan silat memang bukan hanya sebatas melahirkan orang-orang yang berkemampuan beladiri, lebih dari itu unsur terapi menjadi bagian terpenting dari program Apsidi.

Pada sesi latihan yang selalu digelar Minggu sore, hadir pula sosok seorang terapis dan pengajar ABK yaitu Wasisno Hadi.

Tatapan pak guru Wasisno tajam memperhatikan setiap detil gerak para pesilat yang mengikuti arahan pelatih. Beberapa kali dirinya membekukan peristiwa kehidupan di depannya dalam kamera gawai.

Sebelumnya, sesaat sebelum latihan, Wasisno menjelaskan aspek penting dari olahraga silat yang dilakoni para pesilat difabel itu. “Kesehatan fisik jelas akan didapat mereka, tapi yang paling penting mereka dilatih secara kepekaan” ungkapnya, seraya menikmati sepoi angin yang mencumbu daun.

Dalam pengamatannya memang seni menjadi ruang ekspresi para pesilat difabel yang berlatih. Pada sisi mental pun Wasisno melihat hal tersebut akan terbangun apabila para pesilat melakoni latihan secara sungguh. “Aspek tenaga dalam pada silat bisa mereka pelajari juga” tegasnya.

Wasisno memang belum mampu secara utuh melihat aspek terapi untuk para pesilat, karena saat itu merupakan kali pertama dirinya melihat secara langsung mereka berlatih.

Namun secara singkat dari sekian waktu berbincang dengan dirinya, Wasisno mendukung kegiatan silat untuk kemajuan para pesilat difabel ini.

Sementara itu harapan yang ingin dikejar Dedy dengan Apsidi yang dikelolanya adalah memasukkan silat pada cabor yang diperlombakan untuk atlit difabel.

“Ke depan, sih, harapan jelas silat bisa diperlombakan, semisal di Peparnas” ucapnya, dengan mata menatap jauh ke depan.

Tugas berat membumikan Pencak Silat bukan hanya ada di pundak Dedy dan Apsidi-nya. Namun menjadi pgram bersama setiap individu yang mencintai Silat.

Apalagi jika merujuk hasil sidang ke-14 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Bogota, Kolombia, pada Kamis, 12 Desember 2019, menetapkan Pencak Silat masuk ke dalam UNESCO sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO memandang pelestarian Tradisi Pencak Silat telah menunjukkan aspek yang mendorong penghormatan dan persaudaraan serta mendorong kohesi sosial, tidak hanya di satu wilayah, tetapi juga secara nasional bahkan di dunia internasional.

“Ya, kang, mudah-mudahan silat bisa masuk jadi cabor yang dilombakan. Saya pengen jadi atlet silat.” ucap Ridwan antusias.

Akh, Ridwan, semoga harapanmu bisa mewujud, bukankah seorang Aristoteles pernah berkata “Harapan adalah mimpi dari seorang yang terjaga.”