Menyulam Asa di Parijs van Java

0
319
Foto: www.infobdg.com

Oleh: Putra

[Bandung, 23 September 2018] Makna di balik pepatah ‘Carilah ilmu hingga ke negeri Cina’ relevan dengan apa yang sedang dijalani oleh seorang temanku. Dia memang tidak benar-benar pergi ke negeri Tirai Bambu untuk menuntut ilmu, tetapi dia menyeberangi laut Jawa menuju Parijs van Java dari pulau seribu sungai (Kalimantan) di utara Indonesia sana. Selain berniat menuntut ilmu di kota Bandung yang jauh dari tempat kelahirannya itu, dia juga datang untuk menggali potensi yang dimiliki, sekaligus ingin menambah pengalaman hidupnya.

Sejak bertemu, kami sering bertukar cerita perihal kehidupan; sebab-sebab menjadi tunanetra, pengalaman bersekolah, hingga akhirnya dia bercerita tentang hal pribadinya. Sejak kecil, ternyata dia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia habiskan masa kecilnya bersama sang Nenek. Kedua orang tuanya bercerai, sehingga memaksa dirinya untuk hidup tanpa kasih sayang dari sosok yang seharusnya menjadi panutan dalam hidupnya. Saat dia beranjak dewasa, dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan nenek tercintanya. Dengan keterbatasan pengelihatan yang diakibatkan oleh serangan virus pada matanya, dia mampu bertahan di tengah-tengah masyarakat yang masih minim pengetahuan menganai disabilitas. sampai pada suatu ketika, dia memutuskan untuk pergi merantau ke kota lain, dan Bandung lah yang menjadi pilihan.

Di Bandung, dia bertahan hidup dengan tidak mengandalkan uang kiriman dari siapa pun. Dia mempunyai satu kakak perempuan, tetapi dia tidak meminta kakaknya untuk menghidupi dirinya. Dengan modal yang seadanya, dia mampu merintis usaha kecil. Dari usahanya itulah, dia dapat membiayai hidup di kota perantauan. Jika ada penghasilan lebih, dia kirimkan uang hasil usahanya itu kepada nenek yang sangat dia sayangi.

Dalam sela-sela kesibukannya belajar di PSBN Wyata Guna, Bandung, sering sekali dia mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan orang banyak. Tidak jarang juga dia ikut serta dalam sebuah pelatihan yang sering diadakan baik oleh komunitas disabilitas di kota Bandung atau oleh organisasi masyarakat, bahkan pelatihan yang diadakan oleh pemerintah setempat.

Kemandirian temanku itu memotivasi diriku untuk tetap berjuang dalam keadaan sesulit apapun. Kemandiriannya lahir dari dorongan keadaan. Namun, situasi sulit itu menjadikannya tegar dan mampu bertahan. Keinginan bisa lahir dari diri sendiri, dan menjadi motor utama dalam pergerakan ke arah yang diharapkan. Dengan niat dan tekad, temanku tak gentar menghadapi kehidupan meski tidak ada orang tua yang seharusnya membimbing dan mengarahkan. Tetapi, kasih sayang seorang nenek menjadi pondasi dirinya menyulam asa di Parijs van Java.