Menyoroti Pendidikan Khusus di Arab Saudi Saat Pandemi

0
587

Penulis: Malik

Newsdifabel.com – Hampir setahun telah berlalu sejak lebih dari 6 juta siswa di Arab Saudi “dipulangkan” dari sekolah pada awal merebaknya virus corona (Covid-19). Pergeseran ke pembelajaran jarak jauh sulit dilakukan oleh semua anak di seluruh dunia; Namun, hal itu menimbulkan tantangan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus, keluarga, dan para guru.

Menurut angka Kementerian Pendidikan Saudi pada 2019, ada lebih dari 76.000 siswa berkebutuhan khusus di bawah Negara bersistem monarki itu. Para siswa ini berhak atas layanan pendidikan khusus yang dirancang untuk membantu mereka berhasil di sekolah. Namun, layanan tersebut tidak selalu mudah dialihkan ke pembelajaran jarak jauh atau bahkan pembelajaran langsung dengan jarak sosial.

Kepala Autism Center of Excellence sekaligus penasihat Kementerian Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Sosial untuk masalah autisme dan difabel, Dr. Faisal Al-Nemary kepada Arab News mengatakan bahwa pandemi pasti berdampak pada semua orang, pembelajaran tatap muka atau layanan terapi langsung sangat penting untuk kebutuhan khusus dan anak-anak difabel. Terlepas dari tantangan tersebut, perubahan mendadak ke pendidikan virtual juga memiliki sisi baik, karena lebih banyak orang tua yang terlibat dalam proses pendidikan anak-anak mereka, dan mereka lebih sadar akan perannya dalam membantu anak-anak meningkatkan keterampilan.

Faisal memiliki argumen bahwa dulu, sangat sulit melibatkan keluarga dalam proses pendidikan dan terapi. Namun, karena situasi mendesak dimana anak-anak tidak lagi menghabiskan sekitar 20 jam di sekolah per minggu, orang tua tidak punya pilihan selain terlibat. Situasi itu yang menurut Faisal harus dimanfaatkan untuk membangun pola tanggung jawab keluarga dalam pendidikan.

Menurut vox pop (meminta pendapat warga) yang dilakukan oleh Arab News, empat dari tujuh orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mengatakan bahwa pengalaman mereka terhadap pembelajaran jarak jauh buruk dan kinerja anak-anak mereka menurun, sementara dua orang mengatakan itu baik, dan satu mengatakan itu sudah bagus.

Namun, lima orang tua mengatakan bahwa pengalaman tersebut membuat mereka lebih sadar akan kemampuan dan kondisi anak mereka, dan tiga orang tua setuju bahwa mereka menjadi lebih terlibat dalam proses pendidikan anak.

Para orang tua berbicara tentang tantangan, termasuk perjuangan siswa untuk memahami dan mengerjakan pekerjaan rumah, serta ketidakmampuan mereka untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Meski sebagian orang tua mengatakan pembelajaran jarak jauh itu belum berhasil untuk siswa.

Para pengamat pendidikan Arab Saudi juga senada menyimpulkan bahwa model pendidikan jarak jauh bagi difabel jangan dijadikan satu-satunya layanan pendidikan karena jika dibandingkan dengan anak-anak nondifabel, kekhususannya adalah membutuhkan lebih banyak pendampingan pembelajaran profesional daripada yang lain, membutuhkan seseorang untuk berbicara dengan mereka dan menunjukkan hal-hal kepada mereka, mendukung mereka secara fisik dalam melakukan kegiatan tertentu dan mengembangkan keterampilan tertentu.

Beberapa guru berbicara tentang kurangnya konten pendidikan interaktif yang tersedia dalam bahasa Arab untuk siswa berkebutuhan khusus, juga memberi usulan bahwa kebutuhan keluarga berpenghasilan rendah untuk dukungan peralatan pembelajaran jarak jauh perlu diperhatikan. Selain itu, masih kurangnya fleksibilitas sistem.

Al-Nemary mengatakan ada dua model pendidikan di masa-masa yang penuh tantangan tersebut, yaitu model fully virtual dan hybrid approach (anak-anak bersekolah sekali atau dua kali seminggu).

Fully virtual adalah orang tua harus menerima pelatihan tentang cara mengajar, melatih anak-anak mereka di lingkungan rumah dan mengembangkan keterampilan mereka. Sedangkan, model hybrid approach adalah keluarga datang dan menghadiri sesi satu jam selama dua belas minggu dan mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana mengajari anak-anak mereka keterampilan tertentu, seperti komunikasi, bahasa, bermain, dan kemandirian.

Model hybrid dirasa fleksibel, berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak, sehingga bisa menentukan model apa yang harus dilakukan pada siswa pendidikan khusus itu. Misalnya, beberapa siswa mungkin memerlukan 50 persen virtual dan 50 persen tatap muka, siswa lain mungkin membutuhkan 30 hingga 70 persen atau sebaliknya.

Model hybrid approach dinilai lebih efektif untuk peningkatan layanan pendidikan dan terapeutik, bahkan setelah pandemi berhasil dikendalikan, selain karena lebih hemat biaya.