Menyingkap Tabir Tragedi Kolam Renang

0
696

Penulis: Siti Latipah  

Newsdifabel.com — Hari begitu cerah. Matahari bernyanyi riang gembira. Membakar kulit seorang ibu muda yang berbalut baju renang.

“Mari kita pakai kacamata renang bermerek luar negeri ini. Topi renang juga dong, jangan lupa. Wih! Sang mantan atlet renang paralimpik siap beraksi. Satu, dua, satu, dua, satu, dua. Ipeh berhitung dalam hati. Kepalanya diputar ke kanan dan ke kiri.”

“Pemanasan, guys!” Ipeh berbincang dengan dirinya sendiri.

Setelah menggerak-gerakkan kepala, Ipeh beralih ke gerakan tangan, badan, lalu kaki. Jerit anak-anak yang takut air serta tawa pengunjung menjadi musik pemanasannya kali ini. Ipeh sendiri saja. Dirinya sudah mafhum betul tata lokasi kolam renang tersebut. Bata panas di bawah kakinya yang berbicara bahwa, dirinya masih sekitar 1 meter kurang lebih dari bibir kolam. Suara musik yang melagukan irama dangdut di kantin jadi patokan arah untuknya.

Selesai pemanasan ringan, dengan langkah mantap, Ipeh menuju ke ujung kolam. Kakinya meraba pinggiran kolam. “Hm, untung kolam sepi. Jadi bebas berenang, nih.” ucapnya dalam hati lagi.

Ipeh belajar renang sejak kanak-kanak. Ayahnya yang mengajari Ipeh hingga mahir berenang. Gaya dada andalannya. Tembok pinggiran kolam atau lintasan tali yang terpasang adalah objek yang dijadikan panduan saat dirinya berenang. Jika tidak ada lintasan atau tidak menjadikan pinggiran kolam sebagai acuan, maka Ipeh akan menjelajahi seluruh kolam renang.

Byuuur!” Ipeh mulai beraksi.

Gerakan slow motion, berenang-renang manja. Bolak-balik, bolak-balik, dirinya tidak ganti-ganti gaya. Di lintasan tengah dan ujung-seberang, Ipeh mendengar beberapa pengunjung yang juga asik berenang atau hanya sekedar ngobrol santai sambil berendam. Tapi, di ujung sana, dirinya tidak mendapati suara apapun.

Sudah hampir 4 x 50 meter. Di balikan kelima, dirinya agak ngebut. Ada sedikit tenaga yang dipakainya. Mungkin karena Ipeh percaya diri tidak ada hambatan dan aral melintang di hadapan.

Kecipak, kecipuk!, air beriak karena kayuhan tangan dan kaki Ipeh yang begitu lincah bagai putri duyung kayangan.

Dengan lincah dan cepat, Ipeh hampir menyentuh garis finish. Tiba-tiba Ipeh menjerit dalam hati.

“Aww!”

Tangan kanannya tak menyentuh tembok finish, melainkan meraba sesuatu yang kenyal berlapis bahan pakaian. Ipeh mengambang seraya minta maaf. Dalam hatinya, Ipeh sudah menduga, meski ragu menyimpulkan apakah aku menyentuh sesuatu milik laki-laki itu, ya.

“Maaf, Kak, maaf.” Ipeh meminta maaf sambil menahan malu. Mukanya mungkin sudah seperti kepiting rebus.

“Gak kelihatan ya, Mbak. Kacamatanya gelap?” ujar laki-laki setengah baya yang bagian bawah tubuhnya tersentuh Ipeh.

Dengan malu bercampur kaget, Ipeh menuturkan keadaannya pada laki-laki itu.

“Oh, ok. Gak ada yang nemenin, Mbak? Hm, gak bisa liat, tapi bisa renang. Jagoan, Mbaknya. Gak apa-apa, Mbak. Lagian salah saya juga istirahat bukan ngadep tembok. Eh, malah ngadep kolam.” respon laki-laki itu.

Ipeh pun segera berbalik arah dan menyudahi aktivitas renangnya.

Bagi sebagian besar masyarakat, keberadaan seorang difabel di sarana olahraga memang tampak ganjil. Sebuah kejanggalan yang harus segera diluruskan. Karena kesehatan hak setiap individu. Kemampuan berolahraga juga dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk difabel. sepanjang ada kemaun untuk bergerak ditambah kesadaran akan kesehatan diri.

Sarana olahraga pun termasuk fasilitas publik yang seyogyanya sudah harus memperhatikan pengunjung atau pengguna difabel agar terlayani optimal.

Nurlatipah. Demikianlah namanya. Perempuan difabel netra yang hobi olahraga renang. Ipeh sama sekali tidak memiliki sisa penglihatan.