Menjadi Smart Mom dengan Smartphone

0
352

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 5 November 2018] Pesona smartphone dengan segala kecanggihannya mampu memikat siapa saja termasuk ibu rumah tangga tunanetra (blind mom) seperti saya. Tunggu sebentar! Barisan kata-kata di atas apa tidak salah? Tentu saja tidak salah. Dengan fasilitas screen reader, saat ini tunanetra dapat mengakses segala jenis perwujudan smartphone, baik untuk telepon, saling mengirim pesan singkat (SMS), berselancar dengan mesin-pencari, bersosmed ria, Facebook-an, Whatsapp-an, BBM-an, Line, Zello, Instagram, atau cuat-ciut di Twitter, sampai dengan berbisnis online, semuanya bisa dilakukan. Hm, menarik, bukan?

Ups, yuk mari kita kembali ke dunia saya, dunia
seorang ibu rumah tangga tunanetra (blind
mom
) yang kepincut banget sama benda yang dinamai smartphone ini. Kenapa, sih, bisa jatuh hati sekali? Bagaimana tidak, dengan smartphone, saya tidak saja dapat
berkomunikasi dengan orang lain baik melalui sambungan telepon atau media sosial, tapi saya juga
dapat memberikan pendidikan dasar bagi putri saya. Pendapat saya, bahwa pendidikan keluarga adalah pendidikan pertama dan
utama dapat dilakukan seorang blind mom
seperti saya dengan bantuan smartphone.

Saat usia putri saya sudah pada tahap dimana dia harus mulai menganal angka, huruf, warna, saya memanfaatkan video-video dari youtube. Macamnya banyak dan menarik untuk belajar angka, huruf, dan warna. Judulnya, belajar sambal bermain. Apa enggak bahaya, tuh, anak kecil nonton youtube? Tentu saja tidak, menurut saya. Kenapa? Karena saya mendampinginya. Saya yang pegang smartphone-nya. Trik ini dapat juga dipakai buat mengajarka Bahasa Inggris sedikit-sedikit. Belajar mengenal angka, huruf, dan warna, ditambah Bahasa Inggris. Sekali mengayuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Video youtube
yang begitu variatif
sangat menguntungkan saya sebagai seorang blind
mom
. Macam-macam hewan, buah-buahan, sayuran,
jenis-jenis kendaraan, bentuk, dan masih banyak lagi hal yang saya kenalkan
dengan memanfaatkan video-video edukasi dari youtube.

Saat putri saya berusia enam bulan dan masuk periode
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP ASI), berarti
putri saya sudah harus berlatih makan dan minum. Saya kembali mereguk nikmatnya
manfaat smartphone untuk menggali
pengetahuan sekitar MP ASI.

Tunggu dulu, apa, sih, MP ASI itu? Menurut informasi yang saya peroleh dari Ibudanbalita.com, pengertian MP ASI adalah “Makanan atau minuman yang mengandung gizi yang
diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP ASI merupakan
proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang
semi padat.”

Hasil pencarian saya mengenai MP ASI sangat memuaskan. Dari mbah google, saya mendapatkan banyak resep MP ASI yang bisa dibuat di rumah sampai dengan
resep yang dibuat oleh chef tenar nan
cantik jelita, Farah
Quinn. Saya juga berhasil menemukan komunitas Homemade Baby Food yang memberikan informasi seputar
pemberian MP ASI, mulai dari cara pembuatan sampai dengan kandungan gizi dan
lain-lain. Di komunitas ini, saya tidak saja membaca artikel yang telah diunggah, tapi, saya juga dapat berinteraksi dengan ibu-ibu lain
yang juga bergabung di komunitas ini. Mereka
berasal dari seluruh Indonesia. Bagi saya, hal
ini luar biasa karena dengan keterbatasan pengelihatan, saya dapat melakukan hal tersebut.

Masih tentang memanfaatkan smartphone, saya dan beberapa teman
tunanetra yang sudah menyandang gelar ibu rumah tangga membuat grup Whatsapp dengan nama Blind Moms.
Melalui grup ini, kami berbagi pengalaman yang berhubungan dengan profesinya
sebagai ibu rumah tangga tnanetra tentu saja. Mulai dari bagaimana cara
memberikan ASI, sampai bagaimana cara memakaikan popok. Mulai dari acara
masak-memasak, sampai dengan acara menjadi “Macan Ternak” alias “mamah cantik nganter anak”. Jangan salah lho, ya, masak dan nganter anak adalah hal sepele yang
teramat gampang-gampang susah bagi blind
moms
. Nah, grup Whatsapp Blind Moms ini sangat membantu para ibu rumah tangga
tunanetra untuk terus belajar bagaimana menjadi seorang blind mom yang
cerdas dan mandiri. Dengan grup ini, pengalaman demi pengalaman dapat menjadi
pengetahuan yang hanya bisa didapat dari sesuatu yang telah dialami oleh
seorang ibu rumah tangga tunanetra itu sendiri.

Smartphone ini
juga lah yang membantu saya mengajar cara membaca pada putri saya. Caranya,
saya ketik kata, dan anak saya baca kata tersebut. Melangkah ke barisan kalimat
pun demikian. Saya ketikkan kalimat, dan
putri saya membacanya. Dengan cara demikian, saya tidak khawatir huruf yang
dibaca putri saya salah. Karena saya sendiri yang mengetiknya dan screen reader membacakannya untuk saya.

Kembali dengan bantuan smartphone, saat ini saya dapat bebas bermobilisasi kemana saja
yang saya mau dengan mudah. Ke pasar, swalayan, sekolah
tempat putri saya bersekolah, tempat
les, dan kemana pun yang saya mau, pokoknya.
Ya, kemudahan itu saya peroleh dari para penyedia layanan transportasi online yang sangat
aksesibel bagi disabilitas netra. Saat ini, putri saya sedang asyik dengan les
biolanya. Dan lagi-lagi, smartphone
memudahkan saya untuk memberikan asupan referensi instrumen biola kepadanya.
Tidak saja dari hasil mengunduh, lagu-lagu
instrumen biola juga saya dapat dari aplikasi Violin Instrumental yang sangat aksesibel untuk saya.

Sebagai ibu rumah tangga tunanetra, saya pun dapat menyejajarkan kemampuan saya sehingga sama dengan emak-emak kekinian di luar sana. Hm, tidak jarang saya berbelanja online. Baju, tas, sepatu, hingga
bahan-bahan pokok sehari-hari. Memburu diskon atau cash back menjadi hobi saya.

Satu lagi yang menambah rasa cinta saya kepada smartphone adalah, bersamanya, saya dapat mengumpulkan rupiah. Benarkah? Tentu saja benar. Sudah
hampir satu tahun ini saya menjalankan bisnis online.

Masih banyak manfaat smartphone yang membuat saya jatuh cinta kepadanya. Benar bahwa teknologi adalah kunci kemajuan sebuah peradaban, nah, kemajuan teknologi tidak salah, yang salah adalah cara menggunakannya. Menjadi bijak adalah kunci.  Thank’s to smartphone.