Mengenal Low Vision Bersama Komloving

0
846

Penulis: Delia

Newsdifabel.com — Seperti yang kita tahu difabel netra dibagi menjadi dua bagian, totally blind atau kebutaan total atau hanya dapat membedakan siang dan malam, sedangkan bagian lain disebut dengan low vision. Low vision adalah kategori difabel netra yang masih memiliki sisa penglihatan baik kanan atau pun kiri saja dengan jarak dan klasifikasi tertentu.

Untuk mengedukasi masyarakat tentang pengertian dasar low vision, 29 Januari 2021 diadakan sebuah webinar dari komunitas low vision bernama Komloving (Komunitas Low Vision New Generation) bekerjasama dengan Yayasan LAYAK untuk mengajak masyarakat, khususnya sahabat low vision, juga orang tua dengan anak low vision dengan tema Mengenal Apa Itu Low Vision.

Menurut WHO tahun 1992, seseorang dikatakan low vision jika masih memiliki fungsi penglihatan meskipun telah dilakukan pengobatan, misalnya operasi atau koreksi refraksi standar (kacamata atau lensa) dan mempunyai tajam penglihatan kurang dari 6/18 hingga persepsi cahaya atau luas penglihatan kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi, namun secara potensial dapat menggunakan penglihatannya untuk perencanaan dan atau pelaksanaan suatu tugas.

Untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan dalam diskusi, webinar ini menghadirkan Natalia Christina (Konselor Yayasan LAYAK), Indra C. Wiguna (Ketua Komunitas Low Vision New Generation), dan Khamal Nurdin Cahyadi (Wakil Ketua Komunitas Low Vision New Generation).

Webinar yang berlangsung dalam platform Zoom ini menghadirkan kurang lebih 100 peserta secara daring. Natalia Christina membuka penjelasannya dengan pertanyaan seputar definisi dasar tentang low vision. Samakah difabel netra atau yang sering dibilang tunet dengan low vision? Low vision adalah orang yang memiliki masalah penglihatan jarak dekat serta berbeda satu sama lainnya.

Beberapa klasifikasi orang dengan low vision diantaranya, pertama, kehilangan penglihatan titik fokus atau centeal. Diibaratkan melihat lubang kunci, bagian tepi dari penglihatan mata terlihat jelas namun hanya bagian lubang kunci tertutup. Kedua, kehilangan penglihatan tepi, dimana pada mata ini, seluruh bagian tepi dari penglihatan tertutup atau buram dan hanya melihat pada bagian central saja. Hambatan yang dihadapi oleh orang dengan low vision jenis ini biasanya akan mendapat masalah dalam mobilitas sehari-hari. Sulit jika berjalan di tengah banyak orang atau barang-barang yang diletakkan berserakan. Ketiga, penglihatan yang ditutupi dengan bercak-bercak hitam. Dan keempat adalah penglihatan mata rabun. Seorang dengan low vision akan merasa terbantu atau terganggu dengan adanya tinggi rendahnya jumlah cahaya dan kontras warna yang dilihat. Dengan kontrol sangat dapat membantu mereka untuk mengenal objek ataupun membaca dalam sebuah ruangan.

Selain penjelasan dasar tentang low vision, dalam webinar ini juga menerangkan bagaimana perjuangan dan pengalaman Khamal Nurdin Cahyadi dalam perjuangannya sebagai seorang low vision. Bukan waktu yang singkat untuk wakil ketua dari komunitas yang bergerak di sekitar Jakarta ini dalam mencari jati diri serta beradaptasi dengan kondisinya yang baru. Khamal merasa lebih percaya diri menggunakan tongkat dan berada di lingkungan yang senasib mampu membuatnya semangat dan mandiri untuk mencapai cita-cita. Pria yang masih aktif sebagai mahasiswa di Universitas Pamulang ini berkata, “Sempat lama diam di rumah sebelum menemukan lingkungan dan teman-teman low vision lain. Kemana-mana saya selalu diantar dengan orang tua atau saudara. Tapi setelah melihat banyak teman-teman, saya bisa kemanapun yang mereka mau hanya dengan tongkat. setelah saya mendapatkan tongkat dan menggunakannya, membuat saya bisa kemanapun dan masyarakat lebih cepat tanggap dalam membantu.”

Kebanyakan awal dari seorang low vision malu dan tidak percaya diri menggunakan tongkat dalam mobilitasnya, disebabkan karena dia masih merasa bisa melihat dan mampu berjalan sendiri. Tapi justru dari hal inilah identitas mereka sebagai difabel netra tidak diketahui oleh masyarakat. Pastinya seorang low vision akan merasakan banyak perbedaan dari segi keuntungan dalam pemanfaatan tongkat untuk mobilitas sehari-hari dimanapun ia berada.

Berikut ini adalah ciri-ciri seorang low vision yang wajib kita ketahui, agar saat kita melihatnya, bisa langsung bertanya dan membantu. Pertama, bentuk bola mata yang terlihat berbeda, biasanya orang dengan penyakit katarak di matanya akan terlihat titik putih pada bagian pupilnya. Ada juga yang terlihat putih menyeluruh akibat bekas operasi serta terlihat juling karena minus yang terlalu tinggi dan tak seimbang di kedua mata. Kedua, membaca dan menulis sangat dekat. Ketiga, melihat dengan memiringkan kepala, hal ini biasanya terjadi pada low vision dengan penglihatan buta sebagian tepi atau buta pada bagian sentral. Keempat, bola mata terus bergerak atau tidak stabil, bola mata akan terlihat semakin cepat bila harus fokus melihat sebuah benda.

Kesulitan yang dihadapi orang dengan low vision secara umum ada cukup banyak meskipun dapat dibantu dengan beberapa alat seperti kacamata, kaca pembesar, dan teleskop. Low vision dengan masalah luas penglihatan biasanya sulit mengenal siapa orang di depannya dan membaca tulisan di papan tulis meskipun sudah duduk di kursi paling depan. Kesulitan dalam hal pembiasan cahaya yang masuk ke mata sering terjadi ketika berjalan di jalan raya tersilaukan oleh cahaya kendaraan yang terang atau mencari barang di kondisi ruangan yang minim cahaya. Seorang low vision harus bisa memahami seberapa tingkat cahaya yang dibutuhkan dalam penglihatannya agar tidak menyilaukan mata atau terlalu redup sehingga dalam melihat bisa lebih maksimal.

Jarak penglihatan yang pendek, membuat seorang low vision kebingungan berada di tempat yang baru seperti di dalam gedung atau jalan. Pepatah lama mengatakan, malu bertanya sesat di jalan, mengharuskan seorang low vision untuk berani bertanya dimana posisi dan kemana alamat yang harus dituju.

Solusi yang bisa kita lakukan apabila memiliki keluarga yang mengalami low vision di antaranya adalah memastikan seberapa rendah tingkat penglihatannya melalui rekam medis dan membantu memaksimalkan penglihatan itu dengan alat bantu optik dan non optik seperti kaca pembesar, teleskop atau mengatur pencahayaan tempatnya beraktivitas. Dari segi pendidikan, sebaiknya semua orang tua memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya dengan diberi kesempatan di sekolah umum atau inklusi sebelum sekolah luar biasa dengan fasilitas yang mendukung. Tapi tak lepas dari keadaan anak, terkadang teman yang ramah dan suasana belajar nyaman akan sangat menentukan.

Ketua Komloving yang berhasil dihubungi secara daring di kediamannya di Jakarta, Indra (26), berharap agar masyarakat memahami apa itu low vision, bagaimana bisa bersikap jika suatu saat bertemu dengan teman low vision. Sedangkan untuk teman low vision bisa lebih memahami kondisi dan memotivasi diri bahwa low vision juga bisa.