Mengejar Mimpi Sendirian

0
289
Foto: https://dextrocephalic.wordpress.com

Oleh: Sista |

A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality.’ (John Lennon)

[Bandung, Newsdifabel.com] Tiap manusia mempunyai angan dan mimpi, karena ini menjadi salah-satu tujuan hidup, terlepas bagaimana atau seperti apa jalannya. Angan dan mimpi dikemas dengan imajinasi yang melambung hingga ke titik terjauh dari cakrawala.

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang seseorang yang mengejar mimpi dengan kekuatannya sendiri. Langsung saja, yuk, kita bahas.

Sebut saja namanya Tina. Perempuan 14 tahun asal Salatiga ini seorang anak baik. Ia tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sejauh ini, hanya Tina lah yang menjadi tumpuan keluarga, termasuk merawat neneknya. Tina kecil, tanpa lelah dan malu, bersekolah sambil menjajakan makanan untuk dijual pada teman-temannya; gorengan, es dan kue-kue camilan. Keuntungan Tina sebenarnya tidak mencukupi buat kehidupan ia bersama nenek, apalagi, tiap berganti bulan, Tina harus membeli obat-obatan buat nenek termasuk membayar uang sekolahnya sendiri.

Sepulang sekolah, Tina kembali ke rumah untuk menyuapi nenek tercinta serta memastikan kondisinya baik-baik saja. Setelah beres mengurusi sang nenek, ia pun kembali menjejakkan kaki setapak-demi-setapak mengais rezeki dengan berjualan jajanan di sekolah madrasah atau kita kenal sebagai sekolah yang berbasis keagamaan. Begitulah rutinitas Tina kecil sehari-hari.

Di jauh terdalam hatinya, ingin sekali Tina menikmati masa keriangan kanak-kanak sebagaimana anak seusianya namun, apa dikata, jalan tiap manusia berlainan, begitu pun jalan hidup Tina. Tina selalu menunggu sekolah sepi, dan ia pun segera menghitung pundi-pundi uang yang didapatkan tiap hari. Setelah beres menghitung, Tina tak lupa mengucapkan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikannya.

Keuntungan Tina berjualan tiap hari memang tak menentu, namun pada hari itu ia mendapat untung-lebih sebesar dua puluh ribu rupiah. Sisanya ia setorkan kepada penjual tempat ia mengambil barang dagangan. Sangat miris memang, perempuan sekecil itu harus berjibaku demi kehidupan, hal ini terjadi karena orang tua Tina sudah mendahului menghadap sang pencipta.

Keuntungan bersihnya berjualan langsung Tina berikan kepada Nenek. Tina hanya mengambil dua ribu rupiah saja untuk disisihkan ke dalam celengan mungil miliknya. Sebenarnya sang nenek merasa bersalah dan malu kepada Tina karena yang seharsnya mencari nafkah adalah orang tua, bukan anak, tapi apa mau dikata, lilitan kemiskinan dan kesehatan sang nenek sudah tidak bisa diajak kompromi dengan kehidupan. Setiap menjelang malam, Tina selalu memandang wajah nenek tercinta yang lelap tetirah di atas kasur dengan kapuk yang sudah tak banyak berguna untuk melapisi tubuh, di saat seperti itu, sering kali ia mengucurkan air mata melihat penyakit neneknya tak kunjung reda. Di tiap sepertiga malam dalam sujudnya, ia selalu memanjatkan doa-doa untuk kesembuhan sang nenek, dan menyelipkan doa untuk diri agar cita-citanya bisa terwujud. Ia ingin sekali menjadi seorang dokter, dan kemudian ia bisa mengabdikan ilmu pengetahuannya untuk mengobati orang miskin.

Dari cerita di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa, impian dan cita-cita tidak bisa digapai dengan mudah. Maka, jangan takut bermimpi. Bermimpilah jauh sejauh jarak.