Mengejar Konser Lagu Merakit

0
397

Oleh: Dera Sofiarani

[Bandung, 14 Maret 2019] Terkadang, apa yang sama sekali tidak mungkin menurut kita, bahkan menurut orang lain, itu akan menjadi sebuah kenyataan, dan hal itu akan terjadi. Bukan masalah reaksi berlebihan yang terkadang dikatakan banyak orang, tapi jika dirinya merasakan, mungkin luapan kebahagiaannya bisa lebih dari ini. Awalnya aku juga sedikit menyangka bahwa ini tak mungkin terjadi kepadaku, tapi ternyata entah apa yang harus kusebutkan, mukjizat kah atau pertolongan dari Tuhan?

Menjadi seorang difabel mungkin masih terdengar aneh bagi sebagian masyarakat, entah apa yang membuat mereka berpresepsi seperti itu. Tapi bagi yang menjalaninya, maka itu akan terasa nyaman, dan semakin mengajarkan bagaiana agar kita senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Tepat tanggal 9 Februari 2019, bertempat di Lapangan Pussenif Kota Bandung, sebut saja aku, seorang difabel netra yang berani dan memberanikan diri menonton langsung konser salah satu penyanyi dengan suara yang khas itu, memberanikan diri berada di tengah-tengah ribuan orang untuk difabel seperti aku memang sedikit susah, tapi aku lakukan hanya karena ingin menyaksikan secara langsung pembawaan lagu itu. Lagunya berjudul Merakit.

Percayalah bahwa Tuhan memang tahu dan begitu tepatnya dalam memberikan keajaiban sehingga tersalurkan suara-suara difabel melalui karya yang nyata.

Di arena konser penyanyi idolaku, di antara ribuan penonton, hujan jatuh begitu deras. Aku mengabaikan hujan yang datang, malah mengilhaminya sebagai berkah. Oleh kebanyakan orang, kedatangan hujan biasanya disesali, sebab itu hujan sebenarnya adalah berkah yang dihindari.

Dalam hujan, aku menyusup di antara ribuan orang yang sedang bernyanyi mengikuti alunan musik dari penyanyi yang lain, tapi untukku, aku hanya ingin mendengar satu lagu itu saja, karena aku tahu penyanyi itu pernah membawakan lagu yang terinspirasi oleh kelompok difabel.

Saat kudengar lagu itu, air mata bercampur dengan air hujan. Aku bukan menangis karena susah bernafas dan juga bukan karena aku terinjak oleh kaki orang, tapi aku menangis karena aku bahagia ketika kudengar cerita langsung tentang lagu itu.