Menengok dan Menikmati Perpustakaan Nasional

0
162

Oleh: Ravindra Abdi Prahaswara

[Jakarta, 16 Maret 2019] Mendengar kata “perpustakaan”, tentu semua orang tahu bahwa di sanalah tempat mencari dan membaca buku. Beragam jenis buku bisa dengan mudah kita jumpai dalam sebuah perpustakaan. Dari mulai jenis buku fiksi, non fiksi, sampai karya ilmiah pun ada. Namun tak semua orang dapat menikmati rasanya membaca buku langsung di perpustakaan. Penyandang difabel misalnya, seringkali tidak menemukan buku yang aksesibel untuk mereka baca di perpustakaan. Padahal seharusnya, fasilitas publik hendaknya dapat dinikmati semua orang tanpa terkecuali.

Berapa banyak perpustakaan di sekolah dan universitas yang menyediakan buku dalam format braille atau audio? Tentu jumlahnya sangat sedikit. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak menyediakan sama sekali. Ini sangat bertentangan dengan campaign dari pemerintah lewat Mendikbud yang menyerukan aksi tingkatkan budaya literasi atau program dari Ristekdikti yang menyerukan untuk meningkatkan riset di kalangan akademisi. Padahal budaya literasi dan peningkatan riset mustahil berjalan tanpa adanya pemenuhan sumber bacaan yang memadai. Percuma rasanya jika bukunya ada tapi tidak bisa diakses oleh semua kalangan.

Di hari sabtu, 9 Maret 2019, saya bersama salah seorang siswa sekolah luar biasa berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Nasional yang berlokasi di kawasan Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kami berjalan menggunakan moda transportasi umum Trans Jakarta dari halte RS. Harapan Bunda Jakarta Timur menuju halte Balai Kota DKI dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan.

Setelah turun dari halte, kami diantar menuju pintu masuk perpustakaan nasional oleh petugas Trans Jakarta yang kemudian disambut oleh satpam di depan pintu masuk perpustakaan nasional RI. Oleh satpam kemudian kami diantar menemui petugas pustakawan yang bertugas memandu perjalanan di dalam perpustakaan nasional. Selama berjalan dengan dipandu petugas perpustakaan, kami mendapat perlakuan yang cukup baik. Seluruh area perpustakaan nasional sudah dilengkapi guiding block untuk memudahkan mobilitas bagi difabel netra. Di sana kami melihat dan meraba rak buku yang tingginya mencapai 4 lantai. perjalanan dilanjutkan dengan naik ke lantai 6 dengan menggunakan lift. Lantai 6 sendiri adalah tempat untuk beribadah. Kemudian selanjutnya kami langsung bergegas menuju lantai 7, tempat dimana tersedia area baca khusus difabel. Di tempat ini terdapat beberapa buku dalam bentuk tulisan braille dan audio book. Koleksinya juga beragam, dari mulai novel, biografi tokoh, hingga buku bacaan lainya. Seluruh buku di sini merupakan hasil cetakan dari Yayasan Mitra Netra, dan BPBI Abiyoso.

Untuk menunjang akses buku bagi kalangan difabel, perpustakaan nasional juga sedang menyiapkan mesin scanner dan komputer-bicara yang nantinya akan memudahkan difabel netra untuk membaca buku.

Saya sudah ajukan itu ke pimpinan tahun lalu. Komputer bicaranya sudah ada. Tinggal menunggu mesin scanner-nya saja”, kata Ramdan, salah seorang pustakawan perpustakaan nasional RI.

Selain itu, koleksi perpustakaan nasional juga akan ditambah secara bertahap. Untuk itu Ramdan mengajak seluruh difabel untuk berkunjung ke perpustakaan nasional dan membaca buku yang telah disediakan. “Kami senang apabila ada difabel yang berkunjung. Kami menunggu kehadiran kalian di sini”, ajak Ramdan.

Setelah beberapa jam kami membaca buku di area khusus difabel, kami kemudian menikmati pemandangan yang indah dari lantai 24 perpustakaan nasional. Tempat ini katanya adalah tempat paling bagus untuk berfoto dengan latar belakang monumen nasional. Ibrahim Biku Rohman atau Baim salah seorang siswa SLB kelas VIII memberikan kesannya di akhir perjalanan yang sudah dilaluinya. “Suasananya nyaman dan petugasnya asik”, kata Baim.

Meskipun kami adalah difabel netra total, tapi tenang saja, di sana para petugas selalu siap menawarkan diri untuk membantu kami mengambil foto di tempat itu secara sukarela.

Berhubung hari sudah sore dan perpustakaan nasional akan tutup, kami menyudahi perjalanan di sana dengan rasa senang, meskipun sebenarnya masih ada tempat menarik lain yang belum sempat kami kunjungi.