Menemukan Kehangatan Sentuhan

0
575

Oleh: Barra

[Bandung, 14 November 2018] Elizabeth Jameson adalah seorang seniman dan penulis yang baik, hidup dengan multiple sclerosis. Catherine Monahon juga seorang seniman dan penulis. Elizabeth yang ramah dan hangat kini kehilangan sentuhannya.

Salah satu temanku datang berkunjung. Kami sudah saling kenal lama, saling mengisi, pernah sama-sama masuk dan keluar dari kehidupan yang satu ke kehidupan yang lain. Dan kini mencapai tonggak bersama. Kami sama-sama menikahi rekan kerja. Dahulu, hampir tiap hari kami beriringan berjalan melewati fakultas hukum dan kedokteran. Kami memiliki anak-anak dan hidup rukun bertetangga. Tapi waktu perlahan-lahan seperti menjauhkan kami. Sudah setahun aku tidak lagi melihatnya di komplek rumah.

Suatu saat aku menemukan keberadaannya di suatu tempat. Dia dengan hati-hati berbaring di sofa, sementara aku duduk di dekatnya. Dia tidak terlihat baik-baik saja. Lebih kurus daripada yang pernah kulihat, lemah, dan kesakitan. “Bagaimana kabarmu?” Aku bertanya.

“Ya, aku menderita kanker,” katanya dengan jelas. Dia mengubah subjek pembahasan, tidak merasa perlu untuk meneruskan pembicaraan hasil prognosisnya baru-baru ini. Yang ingin aku lakukan hanyalah memegang tangannya, menggosok pundaknya dan mengatakan padanya betapa dia sangat berarti bagiku, dengan sentuhan yang kuat dan penuh kasih. Aku tetap jauh darinya, tidak bisa bergerak. Aku membayangkan membelai rambutnya atau memberinya bantal agar merasa lebih nyaman, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Percakapan kami surut, mengalir, lalu menetes ke keheningan; tidak banyak lagi yang bisa dikatakan.

Dia meletakkan tangannya di atas perutnya, memegang tempat yang paling sakit. Lima tahun yang lalu, aku akan menjembatani keheningan ini dengan pelukan lembut atau sentuhan. Tapi aku seperti membeku, tidak bergerak, tidak mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan. Aku tidak membiarkan diriku menangis saat mengucapkan selamat tinggal padanya.

Ketika aku tidak bisa menggunakan tanganku, aku kehilangan bahasa cinta. Aku menderita multiple sclerosis, yang mengakibatkan hilangnya penggunaan anggota tubuhku. Multiple sclerosis (MS) adalah kondisi imun yang mempengaruhi sel saraf dalam otak dan tulang belakang. Akibat lainnya adakah myelin rusak atau meradang, dan mengganggu sinyal saraf, menyebabkan kerusakan pada serat saraf dasar dan gejala lainnya. Multiple sclerosis di tubuhku berkembang sangat lambat sehingga aku terkejut ketika aku tidak bisa lagi melakukan sesuatu. Sedikit yang kutahu, aku telah kehilangan rentang gerak dengan sepersekian sentimeter setiap hari. Awalnya, aku kehilangan penggunaan kaki, kemudian lengan, pergelangan tangan, tangan, jari telunjuk, dan jempol.

Aku tidak dapat memberi tahu padamu kapan tepatnya menjadi lumpuh, hanya saja aku tahu sekarang aku adalah bagian dari komunitas. Kelumpuhan membatasiku merasakan sentuhan sampai ke ujung jari. Aku tidak dapat mengoperasikan kursi roda, tidak dapat memegang cangkir kopi, apalagi tangan seseorang. Aku tidak dapat secara aktif menyentuh dengan cara apapun. Seperti ada sebuah benteng melingkupi tubuhku. Rasanya seperti ada kaca tebal yang memisahkanku dari dunia luar, dan karena kondisi ini, aku mulai percaya bahwa aku tidak berdaya untuk melaluinya.

Selama bertahun-tahun, aku telah mencoba untuk sekalian membuat benteng, seperti gelembung kaca yang melingkari kehidupnku, sambil dengan tidak nyaman mengatasi kesedihan. Ada saat-saat ketika aku merasa terhubung dengan orang lain, tetapi dalam banyak situasi, aku menjadi pasif. Aku bekerja keras untuk melupakan bagaimana indahnya menyentuh hangat penuh kasih. Aku adalah orang yang positif, aku katakan pada diri sendiri, aku dapat menangani hal ini. Aku mendirikan kemah di dasar Gunung Everest dan mencoba untuk tidak melirik apa yang aku rindukan.

Tetapi aku merasakan kehilangan sentuhan seolah-olah itu adalah anggota tubuh yang telah dipenggal dari tubuhku, luka yang tidak terlihat dan terbuka yang dengan susah payah kututupi setiap hari. Aku sangat menyadari saat-saat ketika kata-kata tidak cukup. Ketika menyentuh tangan seseorang adalah satu-satunya caraku untuk benar-benar dapat mengkomunikasikan perasaanku. Aku tidak bisa lagi menyapa seseorang yang akrab dengan menempatkan tanganku di bahu mereka dengan hangat. Atau ketika aku tahu seseorang sedih, dan tidak pantas untuk berbicara tentang apa yang salah; aku tidak dapat meyakinkan mereka dengan penuh kasih sayang. Situasi itu membuatku seperti tidak bisa bernafas.

Aku selalu menyukai makanan. Aku mengumpulkan keberanian untuk meminta seseorang bergabung denganku untuk sesi makan kue mewah untuk dua jam. Kami meluangkan waktu untuk menikmati setiap gigitan dari satu kue, makan bersama, dan aku ingin merasa terhormat, dicintai.

Aku mulai melihat diriku dalam diri orang lain: aku adalah bagian dari sebuah kelompok. Pengguna kursi roda, orang dengan multiple sclerosis, lansia dengan tongkat dan pejalan kaki, orang-orang yang berjuang dengan aphasia atau cedera tulang belakang. Kami ada dimana-mana.

Di sebuah lift yang hampir sesak, mataku tertuju pada lelaki tua berusia 90 tahun. Dia memberi tip padaku dengan senyuman hangat. Aku juga melihat seorang perempuan dengan alat bantu mobilitas di jalan, dan kami saling tersenyum. Aku mengolok-olok ketidakmampuanku sendiri, menciptakan humor dimana ada rasa malu. Ketika aku minum air, aku tidak punya cara untuk berhenti, jadi ketika seseorang membuat lelucon, aku tertawa dan memuntahkan air ke depanku. Itu memalukan, tetapi histeris lucu pada saat yang bersamaan.

Aku sekarang tahu, tanpa bisa merasakan sentuhan, keintiman hangat kasih-sayang bisa ada dimana-mana. Kalian semua (yang membaca tulisan ini) sedang aku bagi momen intim saat ini–karena kalian sudah sampai sejauh ini membaca tanpa berpaling. Kalian adalah bagian dari kelompok eksklusif orang-orang yang benar-benar mau mengaerti tentang aku.

Tetapi pada akhirnya, pencarianku akan keintiman membawa kembali ke awal. Tentang sebuah sentuhan. Menyentuh.

Sahabatku kembali mengunjungi. Kami mencoba lebih sering bertemu satu sama lain dengan lebih sedikit waktu tersisa, itu wajar saja. Dia berbaring di sofa, dan aku mengatakan secara verbal semua yang aku simpan terakhir kali betapa aku ingin membelai rambutnya, menggenggam tangannya, duduk di sebelahnya. Dia tersenyum penuh pengertian sambil mengarahkan pembicaraan kembali padaku. Kami berbicara sedikit lebih banyak, dan semakin berani dengan pengakuanku. Aku bertanya padanya apakah dia akan meraih tanganku jika tidak terlalu sakit untuk bergerak. Perlahan, dia duduk, dan pengasuhku menggeser kursi sedekat mungkin dengannya. Dia mengulurkan tangannya, mengistirahatkannya di tanganku. Kami saling memandang dan bernapas.

Multiple sclerosis membuatku kehilangan rasa sentuhan, namun memberikanku jalan lain bagaimana memberi kehangatan kasih-sayang.

(Dialih-bahasakan secara bebas dan disadur dari https://www.nytimes.com/2018/09/19/opinion/disability-multiple-sclerosis-losing-touch.html)