Menemukan Inspirasi di Tengah Pandemi

0
237

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 9 Oktober 2020] Pandemi belum berakhir. Aktivitas masyarakat secara umum banyak terganggu bahkan menjadi lumpuh secara total. Kebijakan aturan protokol kesehatan mewajibkan kepada setiap orang untuk mengurangi beraktivitas di luar, dengan menerapakan kegiatan yang dianjurkan dilaksanakan dari rumah saja. Kondisi ini membuat sebagian besar masyarakat menjadi kurang produktif. Terlebih bagi mereka yang kehilangan pekerjaan dan belum mampu menemukan pekerjaan baru, baik akibat pemutusan hubungan kerja atau “dirumahkan sementara” hingga situasi kondusif.

Dampak pandemi juga dirasakan ustaz Iwan Taufik, yang nyaris tanpa mendapatkan undangan untuk mengisi ceramah-ceramahnya di berbagai tempat seperti biasa. Namun, sosok difabel daksa ini malah mampu bermetamorfosis dalam hal pemberdayaan untuk mengisi waktu luang di rumah. Ia mendirikan pondok muhasabah difabel dengan mengajarkan mengaji atau membaca Al-Qur’an pada difabel dan anak yatim serta yatim-piatu yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Iwan menyampaikan, kegiatan yang dilakukan tersebut sudah berjalan sejak pandemi hadir. Gagasan ini muncul di tengah maraknya rasa kekhawatiran masyarakat, termasuk para difabel tentang akibat kematian yang disebabkan oleh Covid-19.

“Niat awal kita berdoa bersama, lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebab apapun kondisinya kematian itu sesuatu yang pasti terjadi pada setiap mahluk bernyawa,” kata Iwan.

Menempati sepetak bangunan di samping rumahnya, pondok muhasabah difabel menjadi tempat sederhana untuk para santriwan dan santriwati usia anak serta remaja yang mendalami ilmu pengetahuan tentang agama. Sayang, secara legalitas belum tercantum sebagai lembaga atau yayasan dan sejenisnya. Dalam mengembangkan pondok dan melengkapi setiap kebutuhan yang menunjang proses belajar mengajar para santri, ustaz Iwan belum pernah mengambil cara dengan membebankan iuran kepada anak didiknya.

“Siapa pun yang ingin belajar di pondok ini tidak dipungut bayaran alias gratis,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan finansial ditambah masa pandemi yang masih berkepanjangan, tidak menyurutkan semangat dan niat ustaz Iwan untuk membangun generasi penerus yang menjadikan agama sebagai pondasi dalam kehidupannya. Setiap niat baik akan dimudahkan dan dibukakan jalan keluar sesuai dengan yang dibutuhkan.

Keberadaan pondok muhasabah difabel yang berada jauh dari tengah kota, menggerakan langkah berbagai komunitas baik komunitas difabel maupun nondifabel yang berasal dari Kota Bandung. Pondok tersebut sudah mendapat kunjungan dari komunitas pengguna motor roda tiga yang tergabung dalam Disabel Motor Federation atau Modif dan komunitas lain.

“Kami sudah mendapatkan kunjungan serta bantuan donasi kebutuhan pondok dari tim Sanepina, Modif, All Bikers, Disable Motor Indonesia, tim Badut Necis, Kawanku Beristiqomah,” ungkap Iwan.

Dengan kunjungan serta bakti sosial yang dilakukan komunitas difabel dan komunitas lain yang memiliki kepedulian sosial terhadap keberadaan pondok muhasabah difabel yang dikelolanya, menjadi satu langkah optimis bagi ustaz Iwan untuk melanjutkan inspirasi yang coba ia aplikasikan di tengah pandemi.