Memasak dengan Intuisi dalam Gulita

0
212
Foto: www.cheapcooking.org

Oleh: Wigi Desi Amalia

[Bandung, 27 September 2018] Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah tunanetra bisa memasak? Jawabannya, tentu saja bisa. Manusia kalau ada niat dan kemauan, pasti bisa melakukkan apapun yang dimauinya. Tidak peduli seberapa besar bahaya yang akan dihadapinya. Saya sendiri awalnya ragu, apakah saya bisa melakukannya. Tapi setelah mengetahui ternyata banyak seperti saya yang bisa memasak, saya pun mencoba. Saya suka memasak semenjak saya sadar, saya harus mengurangi ketergantungan saya kepada orang lain dalam hal apapun. Salah satunya, makan. Saya tidak mungkin terus mengandalkan Mama, atau saudara saya yang lain untuk masak.  Walaupun sekarang, seiring dengan kemajuan teknologi, makanan bisa delivery, tapi menurut saya, masak sendiri itu bisa lebih menghemat pengeluaran.

Pertama kali memasak, saya gugup luar biasa. Apalagi pada saat itu, di rumah sedang tidak ada orang. Saya memang sengaja melakukan percobaan pertama ini saat tidak ada siapapun, terutama Mama. Karena pasti, Mama akan melarang saya. Namanya orang tua, pasti khawatir. Saya waktu itu memilih untuk memasak mi. Karena dalam bayangan saya, itu yang paling mudah. Seperti memasak mi pada umumnya, saya menyiapkan air, mendidihkannya, dan memasukkan mi-nya. Bagaimana caranya mengetahui air itu mendidih? Saya menggunakan indera pendengaran saya untuk mendengarkan bunyi atau suara yang lain dari kompor. Dan saya memasukkan mi itu setelah memastikan posisi yang pas. Dan, percobaan pertama saya berhasil. Saya senang sekali. Setelah semuanya siap, saya memakannya. Menurut lidah saya, rasanya sama dengan mi yang biasa Mama masak. Semenjak itu, saya suka memasak mi. Alasannya, ya, karena mudah.

.: Baca juga: Si Terampil dengan Bahasa Isyarat, Band Difabel di Taman Lalu Lintas

Saya sebenarnya ingin bisa memasak yang lain seperti menggoreng telur, tahu, tempe, dan masakan-masakan lain. Tapi, saya belum berani melakukannya. Akhirnya saya menunda keinginan itu. Entah kenapa, saya tidak seberani melakukan percobaan seperti membuat mi. Kebetulan di sekolah saya waktu itu, tidak ada pelajaran memasak untuk tunanetra. Jadi, saya hanya bisa bertanya kepada kenalan-kenalan saya lewat telepon tentang pengalaman mereka memasak. Mereka bilang, memasak itu asyik. Apalagi rame-rame. Jadi ‘nggak takut. Wah, saya jadi berpikiran sama. Tak lama, saya ditawari untuk masuk sebuah lembaga sosial tunanetra. Katanya, di sana hal-hal seperti memasak itu diajarkan. Saya akhirnya menerima tawaran itu.

Saya masuk lembaga tersebut 6 bulan setelah menyelesaikan sekolah SMA. Di sana, saya banyak mendapatkan pengalaman baru. Memasak juga tentunya. Saya dan teman-teman beberapa kali melakukan percobaan memasak. Karena belum ada kompor di asrama, akhirnya kami menggunakan rice cooker. Saya seringnya memasak nasi goreng mentega, dan sebuah camilan sederhana, kami suka menyebutnya, berok. Bahan dasarnya kerupuk. Sejenis seblak kering. Cara saya memilih bumbu adalah dengan meraba atau mencium wanginya. Jika sudah begitu, insyaallah tidak akan salah bumbu. Kalau garam atau gula, saya suka mencicipinya terlebih dahulu atau menyimpannya dalam wadah yang berbeda. Justru yang sulit adalah memperkirakan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng atau menumis. Selain itu, saya juga masih mengalami kesulitan saat membalik masakan. Saat menggoreng telur, misalnya. Pernah sekali waktu, saya bersama beberapa teman membuat mi dadar. Proses pengadonan berjalan lancar. Tapi, proses menggoreng yang tidak berjalan mulus. Minyak yang kami perkirakan cukup, ternyata sebaliknya. Alhasil, mi dadar tersebut susah dibalik karena lengket, menempel di pengorengan. Dan lagi, api kompornya waktu itu terlalu besar. Jadilah mi dadar itu gosong, dan remuk tidak utuh. Ah, pokoknya berantakan. Padahal menurut saya dan teman-teman, rasa mi dadar itu enak kalau saja tidak gosong. Namun, kegagalan tersebut tidak membuat saya menyerah dan putus asa. Malah saya sering menyempatkan diri terus melakukan percobaan menggoreng di sela-sela waktu saya yang sedang menyelesaikan pendidikan di lembaga tersebut. Karena kelak, jika saya sudah berkeluarga, saya ingin memasak untuk keluarga.

Memasak, meskipun sulit, tapi menurut saya, manfaatnya luar biasa. Selain menghemat pengeluaran, sehat atau tidaknya makanan tersebut, kita pasti mengantisipasi dengan memasak sehigienis mungkin. Karena prosesnya juga kita tahu. Tentu berbeda ketika kita beli di luaran yang ‘nggak tahu bagaimana proses mengolah masakannya. Itulah kenapa saya pantang menyerah untuk bisa memasak. Saya berharap, lembaga ini ke depannya bisa lebih berkembang. Terutama dalam mengajarkan peserta didiknya untuk memasak. Karena, sayang sekali jika fasilitas dasar memasak sudah ada, tapi masih belum dapat digunakan secara maksimal. Saya juga kalau ‘nggak banyak tanya dan minta diajarkan sama teman, entah bisa entah ‘nggak. Karena di sini, yang saya rasakan, hanya sepintas saja instruktur mengajarkan memasak.