Memanusiakan Manusia

1
353
Foto: http://fra.europa.eu

Oleh: Zainal |

[Bandung, 2 September 2018] Seorang tunanetra bernama Pandu Galih Prakoso yang berasal dari kota Cimahi ini mengatakan bahwa makna kemanusiaan adalah memanusiakan manusia secara inklusi sesuai dengan peraturan pemerintah baik untuk umum maupun disabilitas agar mendapat keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang dikatakan oleh Multatuli, (aktivis anti penjajahan Belanda jaman pra kemerdekaan): “Tugas utama manusia adalah menjadi manusia.”

Benar, adanya kemanusiaan itu sangat penting meskipun tidak otomatis membuat banyak orang ingin ikut berkontribusi di dalamnya untuk meningkatkan rasa kemanusiaan tersebut. Mengapa tidak otomatis manusia pasti berkemanusiaan? Karena, kemanusiaan adalah hasil latihan hidup sehari-hari yang diuji oleh praksis keseharian. Rasa kemanusiaan harus diuji karena tidak semua manusia memiliki derajat kemanusiaan yang tinggi; ada yang miskin empati, ada yang hatinya banjir kebaikan. Dengan apa kemanusiaan diuji? Dengan meruntuhkan ego, dan meninggikan welas-asih pada yang lain.

Menurut Pandu, melalui organisasilah ia mampu menuangkan ekspresi dan pendapatnya untuk memperjuangkan peningkatan fasilitas umum ataupun aksesbilitas untuk disabilitas. Salah satu komunitas yang ia ikuti ialah Balap Vision yang ikut tergabung dalam komunitas besar dengan tujuan disabilitas bergerak untuk mengangkat isu-isu disabilitas ke pemerintahan seperti DPR, sehingga aspirasi tentang kemanusiaan bisa terlaksana dan terrealisasikan. Selain alat perjuangan, sebaik-baiknya organisasi adalah sebuah kumpulan orang yang mampu saling mengasuh antar individu, menyayangi kawan seperjuangan, bisa memahami pedihnya air mata yang diteteskan orang lain. Kepedulian.

Kepedulian harus terus diasuh agar hidup di tengah-tengah masyarakat. Untuk bisa hidup, kepedulian pada kemanusiaan harus dijadikan sebagai nilai-budaya agar bisa dipraktikkan dalam hal-hal kecil seperti menyeberangkan jalan untuk penyandang disabilitas, ataupun, di pelajaran SD kita pernah diajarkan agar membantu lanjut-usia menyeberangkan jalan. Mungkin mereka mampu untuk melakukannya sendiri tapi dari sinilah kita mampu melihat rasa kemanusiaan itu terbentuk.

Berbicara tentang kepedulian, kaum disabilitas seperti kita sering diabaikan. Namun ini bukan sebuah pernyataan sentimentil meminta perhatian tetapi, kembali ke judul tulisan, sebagai upaya mengkonstruksi bagaimana seharusnya manusia dimanusiakan oleh pemerintah dalam bentuk kebijakan. Bukankah sejak 1 Juni 1945, sejak kelahiran Pancasila, sila kelima tetap berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”? Sudah 72 tahun sila itu menancap di dada burung garuda, dan sudah 72 tahun tertempel bisu di dinding-dinding gedung besar pembuat kebijakan. Tragis dan mengkhawatirkan jika, Pancasila dipandang sebagai sebuah gejala, dipuja hanya sebagai benda berpigura (fethis) namun tak dipraksiskan oleh pemerintah, legislatif maupun yudikatifnya.

Memanusiakan manusia harus hidup sebagai nilai yang akan tumbuh sebagai buah dari pohon kebudayaan.


1 COMMENT