Memaknai Sumpah Pemuda

0
337

Penulis: Ravindra Abdi Prahaswara

Newsdifabel.com — Sumpah pemuda dicetuskan tanggal 28 Oktober 1928, dan selalu diperingati tiap tahunnya. Jika dilihat dari sejarah, sebenarnya perjalanan lahirnya sumpah pemuda ini sudah dimulai sejak Kongres Pemuda I tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia. Pada waktu itu dihadiri oleh perwakilan dari perhimpunan pemuda/pemudi termasuk Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahasaers, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Theosofi, dan masih banyak lagi.

Sayangnya Kongres Pemuda I diakhiri tanpa hasil yang memuaskan bagi semua pihak lantaran masih adanya perbedaan pandangan. Setelah itu, digelar lagi beberapa pertemuan demi menemukan kesatuan pemikiran. Pada 27 dan 28 Oktober 1928 kembali digelar Kongres Pemuda II yang bertujuan melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia, membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia, memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Dari prosesi panjang yang sudah digelar selama dua hari tersebut, para peserta Kongres Pemuda II kemudian bersepakat merumuskan tiga poin ikrar yang sekarang disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Menurut Sri Sudarmiyatun dalam buku berjudul Makna Sumpah Pemuda (2012) menyebutkan nilai-nilai Sumpah Pemuda antara lain adalah patriotisme, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, kerukunan, kerja sama, cinta damai, serta tanggung jawab. Lahirnya sumpah pemuda menandakan awal dimulainya kebangkitan bangsa Indonesia. Terbukti 17 tahun kemudian dibacakannya teks proklamasi, sebagai tanda sah kemerdekaan Indonesia.

Setelah 88 tahun berselang dari Sumpah Pemuda, tepatnya pada tahun 2016, disahkannya Undang-Undang No. 8 tentang Penyandang Disabilitas sebagai landasan aturan hukum yang menjamin hak dan perlindungan terhadap difabel di Indonesia. Lahirnya undang-undang tersebut tak bisa terlepas dari adanya persatuan segenap penyandang difabel yang menginginkan perubahan di segala aspek.

Harus ada perubahan paradigma bahwa difabel harus diletakkan sebagai subjek bukan sebagai objek yang syarat akan stigma negatif. Peristiwa itu menggambarkan pada kita semua akan pentingnya persatuan antar sesama, termasuk sesama penyandang difabel itu sendiri.

Jangan lagi muncul pengkotak-kotakan, hanya bersatu dengan jenis difabel yang sama, seperti difabel netra dengan difabel netra, daksa dengan daksa, atau tuli dengan tuli.

Tugas kita adalah menghilangkan cara seperti itu guna kemajuan bersama. Bahkan yang tak kalah penting juga ialah persatuan itu hendaknya bukan hanya sesama penyandang difabel saja, melainkan juga harus bisa bersatu dengan yang non difabel juga.

Saat ini waktunya kita bekerjasama, menciptakan inklusi sosial di tengah masyarakat. Lakukanlah perubahan-perubahan kecil yang dapat dimulai dari dalam diri sendiri, seperti menahan ego. Lewat momentum sumpah pemuda ini, kita semua, termasuk para penyandang difabel, untuk sama-sama bersatu dan menghasilkan karya bersama.