Memahami Difabel Lebih Dari Sekadar Hari Perayaan

0
652

Penulis: Nassir

Newsdifabel.com — Peringatan hari difabel adalah perayaan sogokan inklusi yang akan berhenti sebagai perayaan. Biasanya, seringkali lembaga resmi pemerintah, akan memanfaatkan hari peringatan difabel untuk mengakumulasi modal sosial yaitu citra inklusi, dengan sedikit bumbu pemberian bantuan kursi roda atau buku braille. Setelah peringatan berlalu, satu hari atau satu bulan berikutnya, trotoar di sepanjang jalan masih saja rusak dan diskriminasi belum padam.

Formalitas hari peringatan ini membuat kita memahami bahwa keberadaan difabel bisa digunakan membangun citra positif lembaga negara atau swasta.

Kegelisahan itu pula yang dirasakan Amanda Owen, pendiri dan direktur eksekutif Puzzle Pieces, organisasi nirlaba yang melayani dan mengadvokasi difabel intelektual, pebisnis, sekaligus blogger. Dia sering membagikan pengalamannya menjadi saudara dari seorang difabel.

Sepertinya, saya sama dengan Amanda, sama-sama tak menyukai hari peringatan difabel. Tapi, jangan tergesa-gesa bereaksi. Nick, kakak laki-laki Amanda menderita sindrom kromosom 4XY, sebuah sindrom paling langka. “Tapi, apakah peringatan hari disabilitas mempedulikan kakak saya?” tanya Amanda pada siapapun. Absennya jaring yang bisa menangkap kegelisahan Amanda adalah persoalan serius karena difabel seperti Nick tak mendapatkan manfaat apa-apa dari model perayaan formal belaka.

“Saya tak akan mengambil perayaan yang hingar-bingar tanpa menyelesaikan masalah inti. Itu selalu menjadi filosofi dalam hidupku.”

Amanda, adalah sedikit orang yang bisa membongkar selubung formalitas perayaan inklusi.

Suatu hari, beberapa tahun lalu, seorang gadis berusia 16 tahun datang ke Puzzle Pieces, organisasi nirlaba yang didirikan Amanda. Dia baru saja melahirkan sekitar enam minggu sebelum datang dengan membawa bayi. Dokter lalu memeriksa dan menemukan bahwa anaknya mengalami sindrom down.

Beberapa pertanyaan datang di benak Amanda: Apakah dia akan bersamaku selamanya? Apakah dia bisa pergi ke sekolah? Apa dia bisa mendapatkan pekerjaan? 

Pertanyaan itu selalu datang sebagai bentuk kekhawatiran atas pengabaian terhadap difabel. “Sebagian besar pendidikan kita terkait dengan difabel adalah pemahaman kuno yang diturunkan dari generasi sebelumnya atau yang ditampilkan masyarakat termasuk dari menonton TV dan film. Melalui pendidikan usia dini, saya bermimpi bahwa inklusi bagi difabel akan menjadi norma dan bukan sesuatu yang kita perjuangkan.” kata Amanda Owen.

Puzzle Pieces memimpikan bahwa, di masa depan, orang tua yang menerima kabar bahwa anaknya lahir dengan difabel akan mendapatkan kenyamanan dan tetap bahagia tanpa ada malu atau khawatir akan masa depan anaknya.

Untuk mewujudkannya, mereka menggunakan cara pendidikan dan pemahaman inklusi usia dini, memulai percakapan dengan anak-anak tentang difabel di rumah dan di kelas, anak-anak perlu mendengar bahwa orang yang mereka anggap berbeda dari diri mereka sebenarnya tidak terlalu berbeda sama sekali.

Itulah mengapa Amanda Owen menulis buku anak-anak, “Owen the Wonderer,” yang pertama dari seri buku anak-anak, yang mengajarkan anak-anak bahwa tidak apa-apa untuk selalu ingin tahu tentang difabel. Buku pertama, “Owen the Wonderer and the New Kid in Class,” berpusat pada seorang gadis dengan down sindrom.

Owen the Wonderer” bertujuan untuk mengajari anak-anak kita bahwa mereka yang memiliki kedifabelan menginginkan hal yang sama seperti anak-anak lain yaitu persahabatan dan diakui. Anak-anak harus diberi pemahaman bahwa inklusi.bukan “bagaimana saya bisa membantu,” melainkan, “bagaimana saya bisa memberdayakan”.