Melukis dengan Hati di Nol Kilometer Malioboro Yogyakarta

0
289

Oleh: Pandu Galih Prakoso

[Yogyakarta, 17 Desember 2019] “Apa bisa seorang yang kurang penglihatan itu melukis?” Pertanyaan itu datang dari warga di Yogyakarta, dan tentu menjadi pertanyaan sama bagi kita semua. Bertepatan dengan peringatan hari disabilitas internasional, komunitas Bala Vision (Balvi) mengadakan kegiatan melukis di area Nol Kilometer Malioboro Kota Yogyakarta tepat di sore hari yang merupakan salah satu program dari komunitas tersebut bernama “Melukis dengan Hati”. Menggunakan media kanvas, kuas, cat air, mereka mengekspresikan perasaan dan pikiran lewat warna tanpa visual dengan didampingi tutor serta relawan membantu memilihkan warna yang diinginkan oleh teman-teman difabel netra.

“Tujuan dari kegiatan ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa difabel netra mampu berkarya seni bukan hanya seni musik tetapi juga seni rupa sehingga masyarakat bisa mengetahui bahwa di balik keterbatasan ada kelebihan, semoga masyarakat bisa lebih mengenal disabilitas, pemerintah bisa memperhatikan dan memenuhi hak-hak penyandang disabilitas dari berbagai aspek terutama aksesibilitas yang bisa menunjang kebutuhan sehari-hari.” ujar Zainal, ketua dari komunitas Balvi.

Baca: Cara Perempuan Difabel Netra Berdandan

Salah satu peserta melukis, Loveita Uki Damayanti mengatakan “Kendala yang dihadapi adalah pemilihan warna untuk melukis, tetapi itu semua dimudahkan dengan dibantu oleh tutor serta  pendamping. Saya senang sekali karena dengan melukis kita bisa mengekspresikan gambar yang ada dalam imajinasi untuk dituangkan pada kanvas dalam bentuk abstrak.”

Selain melukis, kegiatan yang lain yaitu sosial-edukasi dimana komunitas tersebut menanyakan kepada warga sekitar Yogyakarta, apa itu disabilitas, dan bagaimana cara   mendampingi disabilitas. Komunitas Balvi juga ingin mengetahui aksesibilitas tempat wisata di Kota Yogyakarta.

Baca: Hari Disabilitas Internasional PBB

Semoga dalam peringatan hari disabilitas khususnya pemerintah dan semua masyarakat pada umumnya bisa mengenal disabilitas agar tidak terjadi stigma negatif yang memunculkan paradigma diskriminatif.