Melalui Stand Up Comedy, Difabel Mempertanyakan: Apa Itu Normal?

0
705

Penulis: Zaenal 

Newsdifabel.com — Melawak sendiri atau lawak tunggal di atas panggung sudah hadir di dunia hiburan Indonesia sejak 1950-an. Nama-nama seperti Bing Slamet, Iskak, S. Bagyo, dan Eddy Sud merupakan deretan jawara melawak tunggal. Dalam perkembangannya, mereka juga bergabung dengan grup lawak.

Era 1990-an memunculkan nama Taufik Savalas. Asisten grup lawak Warkop DKI itu lebih dikenal sebagai pembawa acara ketimbang pelawak tunggal. “Tren pada saat itu, kalau ngelawak harus nge-grup, minimal tiga orang dan maksimal lima orang,” kata pelopor stand up comedy Indonesia, Iwel Sastra.

Iwel menyebut lawak tunggal berbeda dengan stand up comedy. Iwel menuturkan materi stand up comedy memiliki pakem sendiri dalam materi. Sedangkan untuk lawak tunggal, ada kebebasan dalam menyampaikan materi. “Bit-nya tidak boleh panjang-panjang, ada dua pakem stand up comedy, yaitu set up dan punchline.” lanjut Iwel.

Menurut Iwel, set up adalah bagian yang tidak lucunya, menceritakan atau menjelaskan kejadian. Sedangkan punchline adalah bagian lucu.

Punchline yang buat penonton ketawa. Tapi bagian set up jangan terlalu banyak. Karena jika terlalu banyak malah jadi anekdot,” kata pria 44 tahun ini dikutip dari Republika.co.id.

Tak disangka ternyata profesi sebagai stand up comedian mampu merambah dunia difabel. Melalui media, komedi dianggap mampu menyampaikan informasi seputar difabel dari difabel itu sendiri. Seperti yang kita tahu, stand up comedy membuat sebuah kegelisahan yang dialami sehari-hari menjadi lawakan.

Menurut informasi dari kanal YouTube bertajuk Inilah Joke Pertama Komika Disabilitas milik Raditya Dika dikatakan akan ada pertunjukan dari 3 komika difabel pada 6 Februari 2021.

Tiga orang yang dihadirkan pada video tersebut adalah Rian, Adhit, dan Blindman Jack. Pertunjukan lawak yang akan digelar dianggap sangat menarik karena memiliki judul unik: Apa Itu Normal. Rian menjelaskan, mulanya tema acara adalah Di Atas Normal, tapi tema tersebut sudah pernah digunakan oleh acara anak-anak stand up comedian yang ada di Cimahi. Rencananya, Apa Itu Normal akan diisi oleh 6 komedian dari berbagai komunitas dan jenis kedifabelannya.

Riuh tawa di ruangan studio membuat pembawa acara cum komedian, dan penulis terkenal Indonesia ini bertanya kepada para difabel yang hadir di lokasi tentang apa itu difabel dan hubungannya dengan pertunjukan lawak yang akan digelar.

“Zaman dulu kita taunya istilah cacat, sedangkan sekarang itu istilah yang lebih diterima teman-teman adalah disabilitas atau difabel.” jawab Blindman Jack. Kemudian, Radit kembali bertanya, apa hubungannya dengan judul Apa Itu Normal?

Jack yang seorang difabel netra menjawab, “Kita, tuh, sering banget dibandingin sama orang normal kalau kita, tuh, nggak normal. Jadi, misalnya ada orang yang bertanya ke kita, kayak Bang Jack kalau makan kayak gimana, sama enggak kayak orang normal?” jawaban Jack langsung membuat Radit terbahak-bahak. “Padahal gue makan pakai tangan juga, pake mulut juga, dari situlah kita nanya: Apa itu normal?” sambung Jack.

Dari pertunjukan ini diharapkan mampu menggugah hal-hal tabu di masyarakat terhadap kebiasaan difabel dan menunjukkan bahwa seperti itulah normalnya difabel. Bagaimana seorang difabel dapat beraktivitas dengan satu tangan, kursi roda, dan berjalan dengan tongkat.

Beberapa hal hal-hal yang membuat difabel ini bisa membawakan materi tentang difabel di atas panggung dan menyampaikannya kepada orang-orang yang sama sekali belum tahu tentang difabel disebabkan karena mereka mampu berdamai dengan diri mereka sendiri serta menerima kondisi masing-masing. Perasaan ini membuat mereka percaya diri menampilkan kegelisahan sebagai difabel ke dalam bungkus komedi yang epik di atas panggung untuk menyatakan diri bahwa itu normal.

Bit-bit yang cukup menumpahkan gelak tawa penonton menjadi daya tarik awal seorang stand up comedian. Adhit yang merupakan difabel daksa bercerita, banyak orang bertanya apa penyebab dia menjadi difabel. Dalam lawaknya tentu saja Adhit mengatakan ini sebuah kegelisahan. “Kesel juga, kan, kalau ditanyain pertanyaan yang sama setiap kali ketemu dengan orang baru, makanya pas ada yang nanya lagi, gue bilang penyebab disabilitas gue gara-gara salah bantal ”

Sedangkan bit pertama dalam stand up comedy Blindman Jack menceritakan kerisauan tentang kebiasaannya melakukan perjalanan sendirian. “Jadi, gue, kan, orangnya suka travelling sendirian, waktu itu lagi duduk di bis. Kan, biasanya orang awas suka ngeliatin, ya, kalau ada yang difabel, gitu. Terus dia nanyain, masnya kerjanya apa, tukang pijat, ya? Gue bilang, bukan, terus gue bilang lagi kalo gue kerjanya jadi trainer. Eh, tuh orang bilang lagi, oh ngelatih pijat, ya? sambil senyum-senyum. Abis itu dia nanya lagi, perginya sendirian aja? Gue jawab, enggak, ini gue perginya satu bis, cuman gue nggak kenal semua. Emang nggak takut nyasar pergi sendirian? Orang itu lanjut bertanya. Enggak, lah, soalnya, kan, bukan gue yang nyupir.”

Sebuah perhatian dari orang lain inilah yang terkadang membuat risih seorang difabel. Menganggap bahwa keterbatasan seorang difabel merenggut keinginan dan pekerjaan yang seharusnya bisa dan biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.