Melalui Sastra, Opik Melukis Dunia

0
905

Oleh: Agus Maja dan Annas 

Newsdifabel.com — Jalan hidup, tuan-puan, memiliki arah yang tak bisa engkau duga. Bisa jadi ia pernah berseteru dengan kehendakmu, meski di akhir hari, kehendakmu kalah, namun jalan hidup akan tetap begitu, sebab, kata Martin Heidegger, kita adalah makhluk yang terlempar ke dunia yang telah terberi. Dunia yang telah ada sebelum kita ada.

Lalu, bisakah mengubah jalan hidup? Tak ayal lagi, setelah ikhtiar akal cukup, barulah takdir kita letakkan di akhir, sebab Tuhan mengajak kita untuk menjadi ujung aktualisasi menapaki jalan hidup, lalu memperindah humaniora. Dengan begitulah dunia dilukiskan. Lukisan dunia menghampar dari ujung ke ujung, kita dipeluk matawari, ditimang rembulan.

Tugas menyiasati dunia agar menjadi tempat yang indah untuk manusia adalah beban penyair. Di kedalaman imajinasinya, ketidakmungkinan bisa menjadi sesuatu yang mungkin dan menyenangkan. Kira-kira, sah saja jika beban itu kita titipkan di pundak penyair bernama Taufik Hidayat.

Opik Geulang adalah nama pena dari Taufik Hidayat. Penyair yang entah berapa usianya itu seorang difabel cerebral palsy. Sambil memegang buku dengan jari manis dan tengah di tangan kanannya, senyum Opik mengambang-merekah. Seorang yang rendah hati, syarat dengan manis-pahit pengalaman hidup, penuh tawa, pun orkestra air mata.

Kumpulan kisah hidup, intuisi sastra, dan imajinasi, disatukan olehnya, jadilah buku puisi. Bahkan ini yang ketiga, ia beri tajuk Lukisan Dunia.

Taufik Hidayat a.k.a Opik Geulang

Sebelumnya, Opik meluncurkan buku pertama dengan tajuk Ruang Sunyi. Buku keduanya adalah Isi Otakku. Saat beramah-tamah dengan Newsdifabel.com tentang penulisan puisinya, Opik bertutur, “Saya belajar menulis mengalir saja, mengikuti perkembangan sel-sel dalam otak yang mengubah pola pikiran saya, membawa saya menjadi penulis. Penulis itu bermain rasa yang diolah jadi karya tulis.”

Di balik judul Lukisan Dunia

Opik telah menulis sejak SMP. Dengan segala pergulatan batin dan pemikirannya, ia terus menulis. Sampai pada puncaknya menghasilkan tiga buku sastra puisi.

Kita tentu telah setuju bahwa sastra bisa menghaluskan hati, dan menjadikan dunia bijaksana. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia pernah mengingatkan betapa pentingnya sastra untuk dunia, katanya:, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Dunia dalam lukisan Opik memiliki rotasinya sendiri yang terapung bak bandul pendulum. Dalam puisinya bertajuk Lukisan Dunia, Opik menyimpulkan bahwa dunia masih bisa memeluk jika ada yang hadir, meski dengan duka yang menangis disebabkan oleh kepergian.

Dunia masih saja memeluk penghuni, yang datang dengan tangisan bayi yang lahir dari rahim sang ibu, dan pergi dengan tangisan, serta doa duka yang ditinggal.”

Selain kisah itu, pada bukunya yang ke-3 dituturkan oleh Opik sebagai yang istimewa. “Bagi saya, istimewanya dalam buku ke-3 ini ada cerita-cerita dari rekan difabel, dan kenapa saya memilih judul itu, karena saya terinspirasi dari lagu band rock Edane. Selain itu, saya memaknai bahwa kita tak bisa menguasai dunia, sekuat apapun upaya kita. Sia-sia saja, kita tidak akan pernah bisa. Biarpun dengan harta yang kita miliki, tidak akan mampu menahan maut yang menjemput kita.”

Lalu, apakah Opik berhenti di buku ke-3? Opik menjawab, “Saya akan tetap menulis untuk buku yang ke-4 meski harus menyelam ke dalam dasar lautan.”

Di balik penerbitan buku puisi Opik

Dari semua buku puisinya, Opik mempercayakan ke penerbit Ultimus yang telah memulai berkontribusi dalam dunia literasi selama 16 tahun, sejak 15 Januari 2004. Newsdifabel.com kemudian memburu informasi langsung ke penerbitnya yaitu Bilven. “Tahun 2010 Ultimus menerbitkan buku Opik pertama kali, judulnya Isi Otakku. Tahun 2013, menerbitkan bukunya yang kedua, Opik bersama Budi, judulnya Ruang Sunyi.”

Mengenai penerbitan buku Opik, Bilven mengungkap bahwa, “Buku karya Opik ini penting untuk diterbitkan, agar menjadi bukti yang mampu menginspirasi teman-teman difabel lainnya untuk berkarya, selain itu keistimewaan dalam buku ketiga ini, Opik mengalami kemajuan luar biasa dalam menulis puisi dibanding buku pertama dan kedua. Pilihan diksinya lebih kaya dan pas. Susunan kata-katanya juga lebih kompleks juga indah. Buku-buku sebelumnya lebih sederhana. Buku ketiga ini juga lebih banyak tema personal. Kesabaran, kesendirian, dan ketegaran Opik.”

Bilven juga memberikan bocoran informasi tentang buku ketiga Opik. “Di bagian akhir dilampirkan cerita-cerita personal Opik dan beberapa teman difabel lainnya. Dalam bentuk cerita kesaksian, bukan puisi.” tutur Bilven dengan ramah.

Selain itu, pihak penerbit mengatakan bahwa ada sedikit kesulitan dalam proses penerbitan, “Kesulitan paling sering itu soal komunikasi dengan si penulis. Sebab ada keterbatasan penulis dalam berkomunikasi secara lisan dan langsung. Tapi setelah terbiasa dan sering ketemu intensif, komunikasi menjadi cair dan mudah”.

Penerbit Ultimus pun mengatakan jumlah buku yang dicetak untuk buku pertama sebanyak 1000 eksemplar, buku kedua dicetak 500 eksemplar. “Bukunya habis di kalangan teman-teman difabel.”

Mengenai distribusinya, penerbit menjelaskan, “Biasanya kita distribusikan melalui komunitas-komunitas difabel dan teman-teman penulis. Juga melalui situs website dan kanal-kanal media sosial yang kita punya. Termasuk ke toko-toko buku atau reseller online. Ini adalah pengalaman penting bagi penerbit sebab buku yang ditulis oleh difabel baru Opik saja sehingga bisa membuka harapan bagi khalayak luas. Ke depan mudah-mudahan banyak teman-teman difabel meniru Opik, menuliskan cerita-cerita pengalaman hidupnya, bisa dalam bentuk puisi, cerpen atau cerita-cerita kesaksian, dan lain sebagainya.”

“Itu menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan sebetulnya semua manusia Itu sama dan bisa berkarya, sama-sama memiliki kisah, sehingga bisa dibaca oleh banyak orang, sehingga dapat saling mendukung sebagai manusia.”

Ultimus sendiri adalah penerbit, sekaligus toko buku. Menjual buku-buku ilmu sosial dan humaniora sejak buka pertama kali pada 2004. Ultimus menerbitkan dan menyebarluaskan buku-buku bermutu sejak tahun 2005, juga mengoleksi bahan pustaka dan menyediakan taman bacaan.

Menjadi inisiator dan mitra dalam tiap kegiatan belajar bersama melalui berbagai kegiatan diskusi, peluncuran dan bedah buku, seminar, apresiasi sastra dan pertunjukan seni, pemutaran film, workshop, festival, pameran, bazzar, dan kegiatan mencerdaskan lainnya, di berbagai tempat dan jaringan literasi.

Para sahabat pendukung Opik

Selain ke penerbitnya, Newsdifabel.com juga menjelajah warta sampai ke Kang Dodi Kiwari. Dia adalah salah satu motor di balik acara peluncuran buku ketiga Opik. Tentu banyak orang yang mendampingi Opik, salah satunya adalah Tritangtu yang digawangi Nabila, Iyon, dan Dodi Kiwari.

Kang Dodi Kiwari adalah ketua pelaksana peluncuran buku Lukisan Dunia, dia memberi testimoni bahwa, “Opik sangat luar biasa, mempunyai semangat tinggi dalam proses penulisan. Saya hanya membuatkan kata pengantar saja. Saya dan Tritangtu hanya berkewajiban membantu untuk menjadikan orang biasa menjadi luar biasa, selain itu, ada isi tulisan yang membuat menarik bagi saya yaitu, di dalamnya ada cerita Opik merindukan cinta dari pasangan serta begitu ingin merasakan pelukan dari seorang pasangan. Dalam proses belajar menulis, Opik dididik dari beberapa komunitas antara lain Bengkel Kreasi, Gapat, Sanggar Olah Seni, Majelis Sastra Bandung, Yayasan Sidikara Bandung, Bandung Independent Living center, dan Smile Motivator.”

Acara bedah buku Lukisan Dunia

Peluncuran buku akan dilaksanakan bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020 di Brix Foodspot by Salis Hotel sekitar Jalan Setiabudi Bandung, depan kampus UPI. Dalam masa pandemi Covid-19, Kang Dodi sebagai ketua pelaksana akan membatasi peserta dengan jumlah 75 orang dengan beberapa unsur yaitu para mahasiswa, pekerja, ahli bahasa, dan komunitas difabel.

Keistimewaan acara ini adalah “Karya-karya ini dilahirkan dari seorang difabel, hal ini bisa memotifasi non difabel yang kebanyakan mengeluh tanpa karya sedangkan Opik tidak pernah mengeluh tetapi karyanya tetap lahir. Selain itu kegiatan ini diadakan dalam masa pandemi tentulah ada protokol kesehatan yang kita siapkan diantaranya dengan menyediakan alat pendeteksi suhu tubuh, tempat cuci tangan, dan pemberian masker kepada peserta.”

Dodi Kiwari

Selain Newsdifabel.com, media partner dalam kegiatan peluncuran buku Opik adalah NBS Radio, Sakti Media, dan Koropak.id.

Tentang pendanaan peluncuran buku Opik, acara ini diprakarsai secara gotong-royong, “Saat ini kita tidak ada dana sedikit pun, mudah-mudahan ada keajaiban.” ucap Kang Dodi penuh harapan.

Semoga karya dari Opik, seorang difabel cerebral palsy ini bisa mengubah non difabel untuk sadar akan pencarian potensi diri, saling membantu, dan menciptakan sebuah karya, apapun itu. Untuk Kang Opik, kami dari seluruh tim redaksi Newsdifabel.com menyatakan bangga dan terus menantikan karya Kang Opik berikutnya. Terus berkarya, dan produktif.

Satu-satunya yang tak bisa dimiliki penyair adalah kata-kata. Tapi di ujung pena mu, dunia menjadi bijaksana. Menulislah, dengan begitu dunia bisa membacamu.