Mata Uang Rupiah, Bisakah Tunanetra Mengetahui Nilainya?

0
533
Foto: https://foto.jpnn.com

Oleh: Arwani |

[Bandung, 14 September 2018] Rupiah adalah mata uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang merupakan salah satu simbol kedaulatan bangsa yang harus dihormati dan dijunjung tinggi oleh seluruh warga negara sesuai fungsinya sebagai alat pembayaran yang sah. Sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2011, pemerintah sudah mencetak uang rupiah yang terdiri dari sebelas pecahan nominal, yaitu 4 uang terbuat dari logam, dan 7 terbuat dari kertas. Masing-masing pecahan mempunyai ciri dan karakter lengkap dengan kode untuk tunanetra (Sumber: Bank Indonesia).

Lantas bagaimana cara teman-teman disabilitas netra menggunakan pecahan uang untuk proses pembayaran dan atau proses transaksi lainnya? Menurut Indra Rukmana, seorang tunanetra total yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, mengatakan sangat sulit untuk membedakan pecahan uang rupiah yang terbuat dari kertas, apalagi jika uang tersebut sudah lecek. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dari panjangnya, itu pun sangat tidak akurat, karena kadang uang yang telah dilipat agak sulit untuk diukur panjangnya. Cara yang paling mujarab dan praktis adalah dengan menanyakan kepada orang lain yang bisa melihat. Sedangkan untuk membedakan uang logam, Indra mengaku dapat membedakannya dengan baik dan akurat karena bentuknya jelas berbeda. Indra berharap agar pemerintah mencetak pecahan rupiah yang mudah diakses oleh tunanetra total sekalipun.

Sedangkan Ari (31 tahun), seorang tunanetra yang juga total, bercerita, ‘Aku pernah salah kasih uang ke sopir angkot pas turun dan bayar.’ Terus sopirnya bilang, ‘Jang itu mah bon, bukan uang.’ Lalu, dengan rasa malu, Ari menarik kembali tangannya dan menyodorkan beberapa pecahan uang kertas, ‘Ini berapa, Pak?’ Bapak sopir pun menunjukkan uang yang benar dan pas untuk membayarnya. Ari menuturkan bahwa, hal tersebut terjadi karena dia buru-buru. Biasanya, Ari tidak pernah salah memberikan pecahan uang rupiah kertas kepada orang lain. Sebelum pergi atau berkegiatan yang akan melibatkan pecahan uang kertas, Ari bertanya kepada orang rumah, berapa saja uang yang dibawanya. Lalu, Ari menyusun sesuai dengan nominalnya. Misal, dua lembar Rp50.000, satu lembar Rp20.000, tiga lembar Rp5.000, lima lembar Rp2.000, disusun berurutan dengan nominal terbesar diletakkan di belakang, hingga nominal terkecil ada di depan. Ari tinggal menghafal jumlah pecahannya. Jadi, tersusun dari paling belakang hingga depan di dompetnya adalah, dua lembar uang Rp50.000, satu lembar uang Rp20,000, tiga lembar uang Rp5.000, dan lima lembar uang Rp2.000. Ari akan hafal berkurangnya uang yang telah dia pakai, sekaligus perubahan formasinya. ‘Aku akan kesulitan lagi pas pakai uang Rp50.000, terus ada kembalian. Bingung, kan, pecahan berapa saja itu. Biasanya aku tanya ke orang yang kasih kembalian itu. Terus aku susun kaya’ tadi uangnya. Tapi kalau ‘nggak keburu nanyain, biasanya aku pisahin uang kembalian dan ‘enggak disimpen di dompet, tapi disimpen di tempat lain, misal, saku celana. Baru kalau aku punya kesempatan buat tanya ke orang, aku susun lagi uang sesuai formasinya.’ tutur Ari. Senada dengan Indra, Ari pun berharap agar pemerintah mencetak pecahan uang rupiah yang dapat diakses dengan mudah oleh para tunanetra.

Sebenarnya, dengan kemajuan teknologi, tunanetra sudah dapat mengakses pecahan mata uang. Terutama mereka para pengguna iPhone, karena, aplikasi pembaca uang pada gawai tersebut sudah sangat akurat. Akan tetapi, masih sedikit di antara teman-teman tunanetra yang menggunakannya dikarenakan harga gawai yang satu ini masih di atas awan.