Mata Gadis Ojek Payung

0
244
Foto: https://saultonline.com

Oleh: Dera |

[Bandung, 11-09-2018] Terlahir sebagai seorang tunanetra tidak membuat saya ingin selalu dimaklumi pada setiap hal, tidak membuat saya ingin selalu dipedulikan oleh orang lain dengan alasan dan dasar kasihan saja. Meskipun saya berterimakasih atas empatinya. Ini memang takdir saya yang hanya mampu melihat dalam jarak tertentu. Berlalunya kehidupan, berlalunya manusia, bertemunya kehidupan juga bertemunya manusia, sebenarnya kita memang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainya. Tapi tak jarang juga kita masih menemukan beberapa di antara kita yang bahkan tidak merasa membutuhkan orang lain, biasanya dipengaruhi dan mempertahankan gengsi zaman sekarang. Padahal kalau kita mau sedikit lebih peduli dengan mereka yang keadaanya tak seberuntung kita, mereka juga bisa berkata, bahkan berterima kasih, karena kita telah membantu mereka. Tidak memandang apakah kita penyandang disabilitas atau bukan. Melalui pengalaman yang saya rasakan ini justru membuat saya senantiasa mensyukuri semua perbedaan kegunaan fisik yang ada pada diri saya.

Waktu itu, secara kebetulan saya sedang berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Bandung. Kiranya memang tidak ada hal penting yang harus saya beli sampai saya mendapatkan pesan singkat dari teman yang ingin menitip minuman, dan sayapun membelikanya. Sayangnya, saat ingin pulang, dan saat itu pula hujan turun sangat deras, saya langsung mengambil ponsel dan akan memesan angkutan online. Tetapi itu semua terhenti ketika saya melihat mata itu, mata seorang gadis remaja yang terus menatap ke arah saya dengan membawa payung berwarna biru, kemudian menghampiri saya dengan wajah yang sedikit ketakutan. Lalu dia menawarkan payungnya pada. Saat itu yang saya merasakan ingin menangis. Kemudian setelah menerima tawaran payungnya, terucap sebuah perkataan yang membuat saya terenyuh, ‘Kakak pegang saja payungnya sendiri, biar saya ikuti kakak dari belakang,’ Seketika saya langsung menolak, ‘Enggak-enggak, kamu saja yang pegangin payungnya, Dik, karena saya takut jatuh, soalnya saya kurang bisa melihat, dan supaya kamu tidak kehujanan, tapi saya minta tolong, ya, tunggui saya sampai naik ke angkot,’ Akhirnya saya berjalan dengan gadis itu menuju ke angkutan umum yang memang sedang mencari penumpang. Saya berikan uang Rp5.000,00 padanya, tetapi katanya, ‘Kak maaf, tapi uang ini kebanyakan.’ Karena sudah berada di dalam angkutan itu, dan tidak tega mengambil kembalian, saya hanya berujar, ‘Tak apa, Dik, terima kasih, ya, sudah bantuin saya, kamu hati-hati ya, Dik,’

Betapapun kita sebagai penyandang disabilitas, betapapun kita yang seringnya meminta bantuan pada orang lain karena ada beberapa hal dalam ketidakmampuan, ternyata kita masih dan justru dianggap membantu orang lain juga pada situasi tertentu.