Ma’ruf Amin Lontarkan ‘Buta-Budeg,’ Forum Tunanetra Langsung Bereaksi

1
547

Oleh: Sri

[Bandung, 12 November 2018] Forum Tunanetra langsung memberikan reaksi terhadap ungkapan ‘buta dan budeg’ yang dilontarkan Ma’ruf Amin. Mereka meminta agar yang bersangkutan segera meminta maaf.

Bertempat di ruang sekretariat Ikatan Alumni Wyata Guna (AIWG) kawasan Jalan Pajajaran Bandung, perwakilan forum tunanetra menggelar konferensi pers Senin (12/11/2018). Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk reaksi terhadap kekeliruan memilih diksi kata yang diucapkan oleh seorang calon wakil pemimpin di tanah air.

“Kalaupun kemudian ada penjelasan dari yang bersangkutan, tentang diksi yang dipakai itu konotatif, tidak dalam buta dan budeg atau tuli yang sebenarnya, diharapkan kegiatan berpolitik pun dilaksanakan tanpa harus menyudutkan kelompok atau individu,” ungkap Suhendar, juru bicara forum tunanetra. Bentuk reaksi ini pun mendapat dukungan dari komunitas difabel lainnya seperti Forum Tunanetra Indonesia (Fortuni) dan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI). Secara moral, forum tunanetra hanya menghendaki KH. Ma’ruf Amin untuk segera meminta maaf atas ungkapan yang dinilai telah menyinggung masyarakat difabel, khususnya tunanetra.

“Kami berharap agar yang bersangkutan segera meminta maaf,” tegas Yudi Yusfar, Ketua Bidang Organisasi ITMI. Dijelaskan Yudi, forum tunanerta akan memberikan rentang waktu sepuluh hari kerja untuk permintaan maaf tersebut, terhitung sejak konferensi pers ini dilakukan. Langkah lain yang akan diambil sebagai alternatif dari melencengnya batas waktu permintaan maaf tadi yaitu dengan melayangkan surat kepada Ma’ruf Amin.

Senada dengan Yayat Ruhiyat, Ketua Perkumpulan Pemijau Tunanetra ini pun menyayangkan ungkapan yang disampaikan Ma’ruf Amin tersebut. Menurutnya, kata buta dan budeg dapat menyinggung masyarakat difabel. “Ungkapan ini seperti ada di luar kendali yang dapat menampikan sisi kemanusiaan,” kata Yayat.

Forum tunanetra sudah berdiri sejak 2014 silam. Sebagai bentuk reaksi semata konferensi pers ini dilakukan tanpa bertujuan untuk menjurus kepada keberpihakan atau unsur lain yang berkaitan dengan politik. Konfirmasi kenetralan ini perlu disampaikan mengingat ini adalah tahun politik, bisa saja aksi ini dimanfaatkan kubu lain. Lebih lanjut, Yudi menegaskan “Kami tidak berafiliasi dengan pasangan calon pemimpin manapun, tidak ada urusan dengan itu. Kami hanya ingin meluruskan ungkapan Ma’ruf Amin yang dapat membentuk stigma negatif kepada kami,” pungkas Yudi.

Para ahli psikoanalis mengatakan bahwa bahasa atau kata-kata adalah salah satu cerminan dari kesadaran manusia (kognitif). Bahasa Indonesia kaya akan ragam bahasa, sehingga kita bisa memilih diksi mana yang harus digunakan agar tidak menyinggung kelompok lain. Sekali lagi, ini murni persoalan pemilihan diksi agar tidak timbul stigma dan diskriminasi, bukan urusan politik Pemilu. Dan peringatan ini berlaku bagi semua kubu yang bertarung dalam Pilpres.

1 COMMENT