Luar Biasa, Potensi Difabel Netra di Bidang Profesi Barista

0
231

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 12 Juli 2019] Kopi begitu banyak digemari. Seni meracik secangkir kopi pun kini sudah mulai marak dipelajari. Pun, demikian dengan masyarakat difabel yang memiliki hambatan pada penglihatannya. Mereka mendapatkan kesempatan untuk terjun di bidang profesi barista.

Badan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung bersama pihak Siloam Korea, di bawah Kementerian Sosial Republik Indonesia, belum lama ini melakukan kerja sama pengayaan pelatihan barista untuk difabel Netra Low Vision. Kelas angkatan pertama yang sudah dimulai sejak Maret lalu, menurut rencana akan selesai pada pertengahan Juli.

Barista kopi telah memberikan pelatihan seni meracik kopi bagi difabel Netra Low Vision ini sekitar tiga bulan, dan sebagai wujud keseriusannya pihak penyelenggara melakukan uji praktik seni meracik kopi yang akan dilakukan oleh difabel yang memiliki hambatan pada penglihatannya, bertempat di Wyata Guna Bandung. Kegiatan tersebut mengusung tema Barista Experience Day dan dilangsungkan pada Rabu dan Kamis (19-20 Juni 2019) lalu di ruang training kelas barista.

Dalam gelaran acara tersebut, keenam siswa yang telah mengikuti pelatihan akan mencoba mempraktikkan proses pembuatan kopi, penyajian seta mengajarkannya kepada difabel Netra lainnya yang belum pernah mengikuti kelas barista.

Menurut Dewi Yuliawati, selaku penanggung jawab sekaligus koordinator kelas barista ini menyampaikan, untuk tingkat kemampuan semua peserta kelas angkatan pertamanya sangat luar biasa. Hampir mencapai seratus persen atau maksimal dari yang diharapkan. Siswanya sudah mampu menyerap materi teori, dan praktek dari mulai membuat kopi, menyajikan, meracik dan mengajarkan kembali kepada rekannya. Pencapaian proses belajar yang cepat, mengingat baru sekitar tiga bulan saja mereka menekui dan mengenali dunia barista. “Mungkin tingkat kemampuan mereka bisa dikatakan sudah sekitar 90%,” tutur Dewi.

Sementara Yuniarti siswi kelas barista mengakui dirinya dapat dengan mudah mengikuti dan mengakses materi yang diberikan. “Kalau dibilang sudah menguasai sepenuhnya mungkin belum seratus persen, karena harus sering dipraktikkan. Namun, dari banyaknya jenis olahan kopi kami rata-rata dapat membuatnya dengan takaran dan rasa yang cukup baik,” ungkapnya.

Dalam mengakses ragam peralatan dan mesin yang digunakan pun, para siswa barista ini mengakui tidak menemukan kendala yang sangat sulit. Sebagian besar mesin menggunakan tombol putaran yang masih dapat diraba. Bahkan ada mesin filter yang menggunakan angka tulisan braile pada salah satu tombol yang memang sering digunakan. Dan itu sangat memudahkan untuk diakses oleh barista difabel Netra Low Vision dengan sisa penglihatan hanya 20% saja.

Sedangkan sebagai tamu undangan, Putra dan Zaenal mengaku senang dapat belajar membuat kopi ala barista dan diajarkan langsung oleh rekannya yang telah mengikuti kelas pelatihan. Senada dengan para siswa, mereka pun mengakui masih dapat mudah mengakses proses pembuatan kopi ala barista yang baru kali pertama mereka coba.

Barista rupanya akan menjadi salah satu profesi baru yang sangat diminati difabel Netra. dan akan semakin menemukan banyak alternatif pekerjaan yang dapat dilakukan oleh para difabel yang memiliki hambatan pada penglihatannya.