Lagi Sayang-Sayangnya

0
161

Penulis: Delia 

Pagi ini tak seperti biasanya, tak kudengar nyanyian burung yang selalu membangunkanku, matahari pun bersinar namun tak seperti hari-hari kemarin, begitupun hatiku, yang teriris kala mendapati tempat tidur di sampingku kosong.

Aku tersenyum miris menghadapi perpisahan yang tak pernah aku kehendaki, rindu yang menjelma menjadi sebuah ancaman berhasil menguraikan titik-titik bening yang keluar dari mataku.

Aku menangis, seketika aku menarik kasar tisu yang ada di tempatnya, lalu aku pun menghapus cairan kepedihan yang ada di pipiku.

Dengan gusar aku bangkit dari tempat tidurku, melangkahkan kaki malas menuju kamar mandi.

Aku membilas wajahku, agar jejak air mataku tak terlihat.

Setelah selesai beraktivitas di kamar mandi, aku segera turun untuk sarapan pagi.

Aku ambil dua gelas, 1 kecil dan 1 besar, lalu aku berjalan ke tempat teh dan gula berada, namun sepertinya aku melupakan sesuatu.

Aku pun kembali menaruh satu gelas besar, aku lupa bahwa hari ini tak ada yang menemani ku minum di pagi hari.

Dan hatiku rasanya seperti diremas kembali, kucoba tadahkan kepalaku agar tak ada lagi air mata yang jatuh, lalu, berhasil. Aku menarik nafas lalu berjalan kembali membuat minuman, dan aku tersenyum miris kala kudapati di atas meja hanya ada satu gelas kecil.

Aku buat roti seadanya untuk menemani pagiku hari ini, dengan hening kulahap roti itu hingga tandas, dan aku minum juga minumanku hingga tak berbekas.

“Key, habis makan gak boleh melamun”, Mamaku berucap lembut.

“Oh, iya, lupa”, kujawab sambil senyum tipis

Namaku Keyna, Mama biasa memanggilku Key.

Mama duduk di sampingku, lalu dia menatapku dengan penuh kasih sayang.

“Jangan terlalu dipikirkan, lagian Calvin pergi untuk bekerja, kamu juga jangan terlalu tergantung sama dia, karena bisa jadi ini bukan pertama kalinya kalian berpisah”. Mama mencoba memberitahuku dengan sabar.

“Mama benar, mungkin aku hanya terbiasa melakukan sesuatu berdua dengan Mas Calvin, setelah semuanya dilalui sendiri itu terasa jauh lebih berat. Aku hanya belum terbiasa, Mah, belum terbiasa melakukan segala hal sendiri”, jawabku lemas.

“Sudah dong, kamu jangan seperti anak kecil, kamu cuma ditinggal kerja bukan ditinggal selingkuh!”, seru Mama gemas menanggapiku.

Aku pun tertawa lepas, sejak kemarin, aku baru bisa menunjukkan keceriaanku lagi karena mendengarkan ocehan Mama itu.

Aku berpamitan kepada Mama untuk kembali ke kamar, sesampainya di kamar, aku tertawa, menertawakan kekanakanku yang masih melekat dalam diri.

Aku segera mengambil handphone di atas meja, aku tulis pesan untuk Mas Calvin. “Semoga usahamu lancar, kamu betah kerja di sana, dan kamu selalu baik-baik saja.”

Aku menarik nafas lalu mengembuskannya pelan, semua terasa ringan sekarang, meski masih harus beradaptasi dengan ketiadaannya Mas Calvin di sampingku.

Mama memang selalu bisa menyadarkanku akan kekeliruan yang sering kali aku lakukan. Sejak itu aku tak terlalu sedih memikirkan perpisahan, meski rindu selalu gencar menggodaku untuk menangis.

Selesai.

(Penulis adalah difabel netra)