Konferensi Internasional Seni dan Budaya Inklusif

0
600

Penulis: Barr.

Newsdifabel.com – Perhatian masyarakat Eropa terhadap seniman difabel rupanya serius, bahkan telah memiliki wadah khusus untuk mengembangkan seniman difabel di seantero Eropa. Seni dianggap sebagai alat efektif untuk menyosialisasikan dan memperjuangkan inklusi sosial dalam seni-budaya.

Asosiasi Penyedia Layanan untuk Penyandang Disabilitas Eropa (EASPD) memiliki 17.000 pendukung layanan untuk difabel di seluruh dunia. Tujuan utamanya, berdasarkan Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas, untuk mempromosikan pemerataan kesempatan bagi difabel melalui sistem layanan agar efektif dan berkualitas. Di Eropa, EASPD memiliki badan perwakilan bernama The European Network of Cultural Centers (Pusat Jaringan Kebudayaan Eropa) yang mewakili lebih dari 5.000 pusat budaya di seluruh Eropa.

Dilansir dari laman ENCC, mereka telah menyelenggarakan Konferensi Internasional Seni Inklusi dan Keberagaman  untuk Penyandang Disabilitas dalam Seni dan Budaya pada 14 dan 15 Oktober 2020 lalu. Konferensi itu awalnya akan diadakan di Cork, Irlandia. Karena efek pandemi Covid 19, EASPD, Cope Foundation, dan ENCC terpaksa mengadakan acara tersebut secara daring melalui platform Zoom.

Para advokat, ahli, pembuat kebijakan, pemikir, dan praktisi inspiratif yang terkemuka di lapangan berkumpul untuk membahas bagaimana kerja sama antara sektor budaya, seniman difabel, dan penyedia layanan difabel dapat membentuk peluang inklusif yang inovatif dan menarik.

Baca: 

Melalui empat panel tematik dan enam lokakarya interaktif yang melibatkan pembicara utama dari seluruh dunia, konferensi ini memiliki berbagai tujuan: Pertama, merefleksikan peran yang dimainkan Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas di sektor seni dan budaya, dan apakah implementasi tersebut berhasil; Kedua, pamerkan karyak  terbaiseniman secara internasional dalam berbagai disiplin ilmu kreatif termasuk seni visual, tari, film, dan musik; Ketiga, mendengarkan langsung dari seniman difabel tentang profesionalisme dan pemaparan program karya seniman difabel; Keempat, berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana seni dan budaya merupakan alat pemberdayaan bagi difabel dan penyedia layanan difabel; Kelima, mendiskusikan dengan para ahli dan pembuat kebijakan tentang bagaimana membangun perubahan di tingkat kebijakan;

Stigma dan Kurangnya Kesadaran

Seniman difabel distigmatisasi bahkan dalam dunia seni mereka sendiri. Hal ini bermula dari kesalahpahaman bahwa seni yang diciptakan oleh difabel hanyalah bagian dari eksplorasi dan ekspresi diri mereka. Ini tidak dianggap sebagai karya profesional dan harus dipamerkan di galeri dan acara mainstream, alih-alih dianggap ‘terlalu khusus’. Sangat penting untuk mulai melihat seniman difabel sebagai profesional, yang mampu menghadirkan inovasi dan ide-ide kreatif. Lebih banyak komunikasi dengan komunitas difabel diperlukan untuk mengembangkan strategi yang lebih baik guna melibatkan difabel dalam seni tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai seniman.

Rekomendasi untuk Pembuat Kebijakan

Pandemi telah mengisolasi manusia di seluruh dunia, di kelompok yang lebih spesifik, ada difabel yang lebih terisolasi. Sehingga, konferensi itu juga membuat beberapa rekomendasi yang ditujukan untuk pihak berwenang (pemerintah) dan pembuat kebijakan (DPR/DPRD). Rekomendainya antara lain: a) agar pemerintah memantau dan memastikan agar organisasi yang menerima dana publik benar-benar digunakan untuk meningkatkan kapasitas difabel, b) pemerintah daerah harus membina pelatihan artistik bagi difabel karena difabel lebih sulit mengakses pengajaran akademis asrtistik, c) pengadaan untuk memperluas akses pengetahuan seni dan budaya.

Konferensi tersebut ditutup oleh Luk Zelderloo sambil memuji kerja sama yang membuahkan hasil dan kerja keras dari ketiga organisasi. Tantangan dan hambatan yang masih dihadapi bidang seni budaya bagi difabel jelas muncul, terkonfirmasi oleh semua narasumber, dan diringkas dalam poin berikut:

  • Persepsi negatif seputar seniman difabel perlu diubah melalui visibilitas dan kesadaran yang lebih tinggi. Karya seniman difabel harus dipromosikan bukan sebagai pelengkap tetapi sebagai seni arus utama yang sama berharganya dengan seniman nondifabel.
  • Komitmen politik yang lebih jelas harus didukung demi memungkinkan pengambangan strategi jangka panjang pemberdayaan difabel.
  • Peluang harus diciptakan bagi difabel untuk mengakses pendidikan seni yang lebih baik dan mengembangkan serta menjadi profesional di bidang seni-budaya.

Di Indonesia, sejauh yang telah ada, belum memiliki program regular dan fokus tentang pengembangan seni inklusi atau mendorong maju seniman difabel. Seni sendiri sejak zaman Nusantara memiliki peran penting sebagai alat menyiarkan gagasan atau suatu ajaran. Sebut saja model syiar ajaran Sunan Kalijaga yang menjadikan seni sebagai alat menyebarluaskan gagasannya meski model seni yang digunakannya tidak berangkat dari tradisi Islam saat itu.

Efektifitas seni sebagai alat telah teruji ampuh memudahkan promosi gagasan, harusnya dimanfaatkan untuk mengampanyekan gagasan inklusi sebab seni adalah senjata perjuangan. Dan kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dimanapun dan di profesi apapun, difabel mengalami stigmatisasi dan diskriminasi. Perjuangan masih terlalu panjang, dan luas spektrumnya.