Kiprah Neneng Darliance Melatih Atlet Voli Duduk

0
694

Penulis: Zaenal 

Newsdifabel.com — Ketar-ketir seorang pelatih dalam melatih atletnya untuk menaklukkan lapangan bukanlah hal yang mudah. Butuh semangat juang tingkat dewa dalam melatih dan mengawasi sebuah tim meskipun harus bermandikan lautan keringat.

Kesempatan biasanya hanya datang satu kali tapi tidak untuk NPCI Kota Bandung yang selalu memberikan kesempatan pada semua orang untuk mengambil alih kemudi kapal di samudera olahraga dengan mengembangkan kemampuannya tanpa memandang siapa aku, kamu, atau dia. Dibuktikan langsung oleh Neneng Darliance (39). Ketika dihubungi via telepon, Neneng sedang melatih atletnya di GOR Pajajaran Bandung (03/01). Saat ini ia masih aktif mengasah pukulan maut atlet voli duduk di NPCI Kota Bandung dalam memberikan kesempatan kepadanya untuk melatih voli duduk sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya.

Sesi latihan atlet voli duduk.

Perempuan yang akrab dipanggil Nenda ini sudah 3 tahun lamanya menancapkan panji komandonya dalam melatih barisan atlet voli duduk sejak Agustus 2017. Dalam menyatukan puzzle yang rumit, dibutuhkan pikiran yang fokus dan tulus dalam merangkai potongan semangat, disiplin, kerja keras bahkan sesekali melontarkan notasi-notasi heavy metal untuk membangkitkan jiwa predator lapangan yang haus kemenangan sehingga tersusun lah sebuah puzzle yang indah. Begitulah gambaran tatkala Neneng menemukan kendala pada saat melatih atletnya yaitu pada saat jurus-jurus gerakan yang kurang maksimal karena adanya perbedaan penggunaan kemampuan fisik sehingga dalam melatih gerakan harus mudah dan bisa diikuti sesuai dengan kemampuan anatomi tubuhnya.

Cukup dengan bahasa kalbu serta komunikasi yang baik bisa membuat Nenda memiliki ikatan yang dalam antara dia dan atletnya. Untuk itu tidak ada metode khusus yang harus diterapkan dalam melatih karena pada umumnya permainan voli duduk sama seperti voli umum, hanya beda penyebutan dan posisi pemain. Kalau permainan voli umum dimainkan berdiri sedangkan voli duduk dimainkan sambil duduk.

Kiprah Nenda dalam mengarahkan timnya menyusuri derasnya arus sungai yang berbekal dayung pantang mundur dan perahu karet solidaritas mampu menuai padi kemuning yang berisikan emas. Mulai dari Pekan Olahraga Daerah (Porda) tahun 2019 di Bogor dan kejuaraan nasional tahun 2017 di Solo mampu merebut medali emas kategori putra dan putri. Dari prestasi itulah mampu menyalakan dinamit untuk meledakkan gunung berlian dengan dukungan penuh dari NPCI Kota Bandung dalam menyejahterakan pelatih dan atletnya.

Untuk menjadi petarung yang legendaris, tidak mungkin hanya memiliki satu keahlian saja, tentu saja ada banyak keahlian dan itu diperoleh dari banyak guru pula. Sama halnya orang-orang istimewa yang ada di tim voli duduk Kota Bandung ini. Nenda menjelaskan “Dalam melatih atlet voli duduk saya dibantu dua pelatih senior, dimana kita bertiga saling tukar pikiran ketika melatih. Dalam melatih atlet difabel memang sedikit sulit karena membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan, itu pun harus rutin latihannya setelah itu baru bisa memahami dan bermain voli dengan baik.”

Latihan rutin di GOR Pajajaran, Kota Bandung

Tentu saja banyak kesan yang Nenda dapatkan selama melatih tim voli duduk di NPCI Kota Bandung, kebersamaan mereka tidak mempedulikan bising atau heningnya suasana tempat latihan, tapi dari sanalah mereka bisa saling membongkar pikiran dan hati yang masih tertutup rapat, menjadikan mereka bisa saling tahu dan mengerti rasa saling menyayangi satu sama lain. Situasi itu mengondisikan terbentuknya rasa kekeluargaan yang erat dan solidaritas di antara teman sangat kuat seperti terumbu karang yang kokoh meski dihantam gelombang.

Perempuan yang aktif bekerja di Dinas Oemuda dan Olahraga ini tidak merasa terganggu dengan pekerjaannya karena sudah mendapatkan izin untuk bisa melatih para atlet voli duduk yang ada di NPCI Kota Bandung. Sebagai seorang pelatih dan juga pemerhati difabel, Nenda sangat berharap terhadap pemerintah dan masyarakan agar terus mendukung atlet difabel, dan jangan memandang sebelah mata atlet difabel agar mampu bersaing sehingga bisa diandalkan dan dibanggakan.