Ketika Kang Aries Bicara Tentang Difabel

0
119

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 21 September 2020] Berkesempatan ngobrol bareng dengan dewan, salah satunya ketua komisi yang berkedudukan di perwakilan rakyat daerah bukan termasuk hal mudah. Ada prosedur tertentu yang harus dilakukan untuk bisa bertemu atau berbicara dengan mereka. Tentu saja, disertai dengan alasan maksud dan tujuan dari pertemuan yang diajukan. Itu pun, masih perlu bersabar menunggu respon serta tanggapan sang dewan.

Namun, bagaimana bila kesempatan tersebut justru ada saat dipertemukan oleh sebuah kegiatan diluar gedung pemerintahan?

Sisi humanis antara pejabat dengan rakyat seolah tidak ada sekat. Ramah, hangat, terbuka dan tetap berwibawa. Obrolan mengalir saat berbicara tentang difabel antara H. Aries Supriyatna SH, MA. Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung dengan aktivis difabel Suhendar.

Kang Aries, begitu sapaan akrabnya. Ia menuturkan, selama ini dari sudut kebijakan pihaknya selalu komunikasi antara lain dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung salah satunya, sebagai representasi dari komunitas difabel. Ia mendukung agar pemerintah memperhatikan dari sudut anggaran pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh NPCI.

“Kita lihat apa yang dilakukan para difabel ini, melalui NPCI, adalah sebuah prestasi, salah satu contohnya,” kata Kang Aries.

Ia juga menyampaikan, dari sudut regulasi pihaknya terus mendorong agar regulasi-regulasi yang ada terutama pembangunan infrastuktur, betul-betul mempresentasikan keberpihakan pada masyarakat difabel.

“Pengawasannya kalau infrastuktur ada di Komisi C, mereka yang berwenang mengawasi bagaimana infrasuktur yang dibangun pemerintah itu ramah difabel,” ucapnya.

Sedangkan dari sudut kebijakan, Kang Aries bersama tim kerjanya selalu mendorong agar peraturan-peraturan daerah bersumber pada merefleksikan keberpihakan, atau kesadaran untuk memberikan perhatian pada kebutuhan-kebutuhan warga difabel.

Bicara terkait anggaran Kang Aries mengatakan, untuk dari sisi anggaran sendiri setiap ada ide, ada gagasan, ada dana yang harus dikeluarkan. Komisi D mendorong pihak eksekutif sehingga anggaran untuk difabel bisa terpenuhi walau tidak semuanya, karena melihat kemampuan juga.

“Kita melihat prioritas, mana yang sangat signifikan, tentu kita akan lihat juga kemampuan anggaran pemerintah. Tetapi pada intinya, kita selalu punya konsen terhadap kebutuhan-kebutuhan sarana atau pun prasarana untuk masyarakat difabel. Hanya kalau spesifiknya seperti apa, itu kasus per kasus. Kita harus lihat persoalannya apa, sejauh mana strategisnya, prioritasnya seperti apa, dan yang terakhir kemampuan anggaran bagaimana,” papar Kang Aries.

Di masa pandemi ini Kang Aries juga berpesan, persoalan pandemi tidak pandang difabel atau non difabel, artinya sama merupakan ancaman untuk semua orang. Maka dari itu, semua harus ikuti aturan protokol kesehatan yang sudah tersosialisasikan dengan baik.

“Yang paling penting adalah kesadaran bahwa pandemi itu adalah ancaman buat kita semua,” pungkasnya. Aries Supriyatna S.H, M.A Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung, yang dalam tugasnya membidangi dan bertanggungjawab pada bidang kesejahteraan rakyat, meliputi: pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, ketenagakerjaan, pemuda dan olahraga, keagamaan, kebudayaan, sosial, peranan perempuan, HIV/AIDS dan narkotika.