Kesimpulan Hidup dari Laki-Laki Kecil Itu

0
235
Foto: Mother and Child, karya Kathe Kollwitz.

Oleh: Indra Putra |

[Bandung, 10 September 2018] Hal yang pernah membuatku terharu dan tak akan aku lupakan adalah peristiwa dua tahun lalu. Bermula di sore hari, ketika senja sudah begitu tua, dan magrib berkumandang. Aku tiba di komplek Wyata Guna, bertemu dengan seorang kawan. Singkat cerita, setelah aku turun dari angkutan umum Margahayu-Ledeng yang menuju kampus, kucari orang untuk membantu menyeberangkanku masuk kampus. Dan kudengar ada dua orang bapak sedang asyik mengobrol di sebuah warung yang tak jauh dari tempatku berdiri setelah turun dari angkot tadi.

Dan aku meminta tolong kepada salah satu dari bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol, namun tak digubris bahkan oleh keduanya. Jengkel, sih, perasaanku ketika tak digubris permintaan tolongku. Namun akhirnya Allah memberikan pertolongan melalui seorang laki-laki kecil yang berusia sekitar 9 tahun. Dia menawarkan bantuan.

Waktu itu kondisi jalanan di depan kampus sedang ramai-ramainya. Akhirnya kuterima tawaran dari anak kecil tersebut untuk menyeberangkan aku yang notabene, hal itu lebih baik dilakukan oleh orang dewasa saja, karena kondisi lalu-lintas begitu ramai sehingga, pikirku, berbahaya juga bagi anak kecil baik hati ini. Akhirnya aku nyebrang dengan bantuannya, dan sungguh perhatian sekali anak kecil ini ketika menginformasikan keadaan di sekitar lokasi dimana aku menyeberang.

Langkah demi langkah dengan tenang anak tersebut menggamitku sampai ke seberang, tepatnya di depan kampus. Kondisi jalanan empat-lajur itu begitu ramai, dan kebetulan tepat jam pulang kerja.

Sampai di depan pos satpam, kusempatkan berbincang sejenak dengan laki-laki kecil yang lembut-hati ini. Aku bertanya tentang kesehariannya. Anak itu memulai terlibat dalam perbincangan dengan menceritakan bahwa dia adalah anak yatim yang sudah lama ditinggal ayahnya sejak usianya 3 tahun. Ibunya seorang buruh-cuci-lepas. Anak itu bersekolah sambil jualan minuman dan makanan di persimpangan lampu-merah Kota Bandung. Penasaranku kepada keseharian hidupnya didorong oleh kebaikan anak itu menyeberangkanku meski itu juga bisa membahayakan keselamatannya sendiri. Ketika aku tanya kenapa mau membantuku, dia menjawab dengan menyampaikan satu cerita singkat bahwa di pengalaman hidupnya, anak kecil lembut-hati itu pernah menjumpai ada seorang tunanetra sedang menyeberang sendirian, lalu sebuah motor menabraknya. Hal itulah yang mendorong dia mau membantu menyeberangkanku karena tak mau lagi ada tunanetra mengalami hal serupa seperti dalam pengalaman hidupnya. Dan dia juga mengingat pesan dari orang tua, bantulah orang yang sedang mengalami kesulitan dengan kemampuan sendiri. Kejadian tersebut membuatku merasa terharu kepada anak kecil itu, karena sudah memiliki kehendak untuk saling menolong. Sikap yang dimiliki anak kecil tersebut, dalam kenyataannya, tidak selalu dimiliki oleh orang dewasa.