Keluarga Korban Kebakaran Menggugat Pemerintah

0
372

Oleh: Barra

[Bandung, 13 Oktober 2020] Keluarga seorang perempuan difabel yang meninggal karena terperangkap di Menara Grenfell menempuh upaya hukum terhadap pemerintah untuk memaksa pemilik gedung membuat rencana evakuasi bagi setiap penghuni gedung difabel.

Sakina Afrasehabi, pengguna kruk yang menderita radang sendi parah, meninggal di lantai 18 dalam kebakaran pada Juni 2017 di usia 65 tahun. Sekarang keluarganya menginginkan peninjauan yudisial (hukum) atas usulan pemerintah. Secara umum meminta kepada pemerintah untuk menerapkan aturan ketat tentang prioritas penyelamatan bagi penghuni gedung difabel.

Penyelidikan publik terhadap kebakaran tersebut tahun lalu telah merekomen-dasikan bahwa rencana evakuasi harus segera diperkenalkan secara lebih luas untuk semua difabel. Pada Theguardian.com, Boris Johnson mengatakan Oktober lalu: “Kami, pada prinsipnya, menerima semua rekomendasi dari pemerintah pusat.”

Keluarga Afrasehabi percaya bahwa dia akan tetap hidup jika pemerintah membuat rencana evakuasi, karena akan terungkap bahwa dia seharusnya tidak ditempatkan di tempat yang begitu tinggi. Dia (Sakina Afrasehabi) tidak dapat memaksakan langkah kakinya secara cepat, sedangkan posisinya berada di lantai 18, dan lift tidak bisa beroperasi ketika malam terjadinya kebakaran.

Situasi terbaru dalam proses yudisial (hukum) membuat keluarga korban frustrasi dengan adanya tanggapan resmi dari pemerintah atas bencana yang merenggut 72 nyawa itu. Ketua Grenfell United, Natasha Elcock, masih melalui Theguardian.com menyatakan pada akhir minggu lalu bahwa pemerintah “tidak memahami atau peduli dengan kepentingan para korban.”

Gugatan hukum dari keluarga Afrasehabi juga mencerminkan adanya kekhawatiran dari komunitas tentang kemampuan penyelidikan untuk memberikan perubahan luas pada keamanan bangunan.

Dalam laporan fase pertama Oktober 2019, ketua penyelidikan, Sir Martin Moore-Bick, mengatakan rencana evakuasi bagi difabel harus diwajibkan oleh hukum di semua gedung bertingkat tinggi, termasuk untuk membantu melindungi lebih dari 160.000 orang di Inggris.

Kami sangat senang [dengan rekomendasi penyelidikan],” kata Aghlani, adik korban. “Sungguh melegakan melihat Sir Martin Moore-Bick mengakui kami. Tetapi kenapa kemudian tidak terjadi apa-apa dalam penyelidikan, itu menghancurkan perasaan kami.”

Peristiwa yang terjadi di Inggris itu penting untuk dijadikan pengalaman berharga bagi pemerintah Indonesia agar mulai sekarang memikirkan aksesibilitas bangunan bertingkat serta meninjau ulang menempatkan difabel di lantai tinggi bangunan bertingkat.