Difabel dalam Acara ‘Tiga Tahun Gerakan Rumah Bersama Advokat’

0
345
Sambutan Dera Sofiarani di acara Tiga Tahun Gerakan Rumah Bersama Advokat DPC Peradi Bandung (Foto: Barr)

Oleh:
Dera Sofiarani

[Bandung, 6 Oktober 2018] Menjadi warga difabel di negara yang kurang begitu memperhatikan keberadaan difabel adalah salah satu pekerjaan rumah yang tidak mudah. Jumlah warga difabel yang cukup mendominasi di negara ini membuat pemerintah harus memikirkan agar difabel tetap melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik tapi haknya harus dipenuhi sebagaimana amanat konstitusi yaitu UUD No 8 tahun 2016.

Tidak bisa dipungkiri masih ditemukan wujud
nyata pendiskriminasian pada warga difabel termasuk tidak menjalankan amanat
konstitusi yang dalam ranah normatif (yang tertulis dalam UU) saja belum bisa dijalankan
sepenuhnya oleh Negara, dengan banyak dalih, tentunya.

Berbicara mengenai orang-orang yang
bersolidaritas, dengan keikhalasan dan ketulusannya mepedulikan warga difabel,
serta mendorong penegakan hukum, kami menemukan mereka di sebuah acara yang
diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC
Peradi) Bandung, bekerjasama dengan Komite Rakyat Kebon Jeruk, Bandung.

Organisasi besar Peradi adalah salah satu organisasi pelopor hukum dan keadilan di Indonesia, yang di dalamnya beranggotakan para penegak hukum dan para pembela keadilan. Saya merasa beruntung ketika bisa secara langsung berdiskusi dengan mereka di acara peringatan 3 tahun Gerakan Rumah Bersama Advokat.

DPC Peradi Bandung yang dinahkodai oleh Dr. Musa Darwin Pane, S.H., M.H juga hadir bersama pengurus lainnya dengan berpakaian rapi dan penuh semangat.

Pada kesempatan tersebut kami mengajukan pertanyaan mengenai makna dan fungsi Peradi. Dr. Musa Darwin Pane, S.H., M.H menjawab dengan nada tegas, ‘Peradi ada untuk membela keadilan yang beradab, artinya kita harus ada di manapun, di istana, kita harus ada tetapi juga di gubug-gubug derita, dimana ada ketidakadilan, kita juga harus ada, dimanapun kita harus menjadi pelopor, termasuk kita harus ada untuk teman-teman difabel yang butuh pendampingan secara hukum. Ya, kita harus senantiasa mempersiapkan diri guna mempertahankan hak dan keadilan.’

Betapa senangnya kami mendengar bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang bersolidaritas kepada difabel di negara ini. Kesempatan lain yang kami dapatkan saat acara berlangsung adalah mewawancarai Asri Vidya Dewi, S.Si., S.H selaku Sekretaris DPC Peradi Bandung. Pertanyaan tentang bagaimana awalnya sehingga mau bersolidaritas kepada difabel, Asri Vidya Dewi menjelaskan, ‘Berawal dari tujuan hidup saya adalah, semakin banyak ilmu, kita harus semakin mengenal batas, dan berbagi pengetahuan. Jadi saya, ya, sudah sayang sama kalian, sama teman-teman difabel siapa pun. Saya gak punya harta banyak, saya juga bukan orang yang berada tapi, ya, yang bisa saya berikan hanya berbagi ilmu pengetahuan yang saya punya ke siapa pun yang memang membutuhkan. Ya, pokoknya saya memang tulus dari hati sayang sama kalian,’ ujar Asri dengan intonasi yang meyakinkan.

Selain acara sembutan dari DPC Peradi Bandung, juga ada pidato dari perwakilan warga Komite Rakyat Kebon Jeruk, Isti Rengganis. Dikatakan Isti bahwa kehadiran advokat-advokat Peradi Bandung melalui Ibu Asri Vidya Dewi, S.Si., S.H sangat membantu warga yang sedang berjuang mempertahankan haknya atas lahan. Di kegiatan tersebut juga ada pembacaan puisi oleh Alasmsyah, S.H dan perwakilan dari kelompok difabel.

Kemeriahan acara tak kunjung usai. Setelah pembacaan
puisi, dan ditutup dengan doa oleh Dahman Sinaga, S.H, salah-satu acara yang dinanti
adalah seremoni ucapan syukur atas pencapaian 3 tahun gerakan rumah bersama
advokat dengan meniup lilin di atas kue ulang tahun dan pemotongan tumpeng oleh
Dr. Musa Darwin Pane, S.H., M.H.

Memang benar, solidaritas antar elemen
masyarakat dan lintas profesi adalah kunci utama kekuatan arus bawah di
tengah-tengah kokohnya aktor-aktor yang secara nyata tak patuh pada hukum. Sinergitas
antar elemen tersebut terasa hadir dalam acara ini.

Kami dari kelompok difabel semakin bertambah percaya diri karena hadirnya solidaritas dari luar kelompok kami. Jadi, pelajaran yang dapat kami petik dari acara tersebut adalah, tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini selagi kita berniat memperjuangkanya, dan kepedulian bisa datang dari hati dan sanubari siapa pun.