Kehidupan Disabilitas Zaman Kuno

0
633
Patung Valentin Hauy di Depan Institut National des Jeunes Aveugles (Sumber foto: www.nyise.org)

Oleh: Barr

[Bandung, 25 Desember 2018] Dalam bukunya, Edvard Befring dan Enerstvedt menuliskan pertanyaan retoris; “Bagaimana orang dapat belajar jika satu indera tidak berfungsi?” Lalu mereka mengutip Girolamo Cardano (filsuf cum matematikawan), “….mengenalkan pendapat bahwa indera-indera itu saling menggantikan, sehingga bila indera penglihatan atau pendengaran hilang, indera lain akan berfungsi sebagai dasar bagi aktivitas kognitif dan belajar.”

Konon, di Yunani Kuno, tidak ada kesempatan beraktivitas bagi penyandang disabilitas, bahkan kesempatan hidup pun pernah dipupuskan oleh penguasa. Dipandang hina. Di Roma Kuno juga demikian. Karena kepentingan memperbanyak pasukan perang untuk penguasaan dan perluasan teritori, orang-orang Roma zaman dahulu terobsesi mengunggulkan performa tubuh yang ideal sehingga jika dilahirkan sebagai disabilitas atau fisik yang sakit-sakitan, tidak bisa lagi dianggap ideal. Bahkan seorang filsuf besar Yunani pun tak bisa berlaku adil terhadap disabilitas. dalam buku The Republic, Plato berujar: “Ini adalah ketentuan medis yang harus dibuatkan undang-undang… berikan perawatan untuk warga negara yang fisiknya baik. Sedangkan untuk yang lain (yang fisiknya ‘tidak baik’/disabilitas—pen), yang terbaik adalah membiarkannya untuk mati … ”

Idealisasi tubuh dengan menggunakan ukuran “kesempurnaan” sangat memengaruhi pikiran orang-orang zaman kuno. Di artikel www.nytimes.com yang mengulas pementasan kelompok teater The Apothetae menjelaskan bahwa, selain ancaman kematian bagi disabilitas, masyarakat Sparta, Roma, memiliki tradisi buruk yaitu seleksi fisik bayi yang baru lahir. Jika dinyatakan tidak memenuhi fisik yang baik menurut anggapan tradisi maka, gerousia (julukan bagi sang pengadil) akan memerintahkan agar bayi atau orang dewasa itu ditampung dalam apothetae (the place of exposure; tempat pameran) untuk dipamerkan ke publik.

Patung Valentin Hauy di Depan Institut National des Jeunes Aveugles (Sumber foto: www.nyise.org)

Studi Persepsi Disabilitas di Yunani Kuno

Dalam bukunya The Staff of Oedipus: Transforming Disability in Ancient Greece, Martha Rose menyajikan studinya tentang disabilitas di Yunani Kuno. Buku itu menyodorkan pelurusan persepsi disabilitas yang disalahpahami di masa lalu. Sering diasumsikan, orang-orang Yunani memiliki definisi “kecacatan” yang ketat, yang digunakan untuk memisahkan orang-orang ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Kesalahpahaman ini digunakan hari ini untuk memvalidasi sikap dan pemahaman terhadap mereka yang diklasifikasikan sebagai disabilitas.

Persepsi umum tentang pengasingan disabilitas di Yunani Kuno dipecah oleh Martha, menunjukkan tidak ada dikotomi kemampuan dan ketidakmampuan fisik secara kedokteran, itu hanyalah kondisi yang didefinisikan oleh masyarakat. Dengan demikian, masa lalu tidak boleh digunakan untuk membenarkan dan menjelaskan pendapat saat ini tentang gaya hidup disabilitas moderen.

Capaian Positif untuk Disabilitas di Masa Silam

Model huruf ukiran untuk orang tunanetra ditemukan pada zaman Mesir Kuno, dan juga pada zaman Renaissance di Eropa masa Erasmus dari Rotterdam (1469- 1536). Mereka menggunakan alfabet ukiran dalam pelatihan keterampilan menulis bagi siswa-siswa. Informasi lain mengatakan bahwa sejak abad ke lima telah ada berbagai kelompok orang tunanetra yang bisa beraktivitas sendiri dan mengatur pelatihan pekerjaan internal. Satu contoh tentang mengajarkan membaca bibir kepada orang tunarungu ditemukan di Keuskupan York pada abad ke delapan. Namun, menurut Enerstvedt (1996), pengetahuan mengenai cara mendidik orang yang tunarungu-berat mulai disebarkan dari apa yang disebut “revolusi Spanyol yang tidak begitu terkenal” ke berbagai bagian benua Eropa lainnya dan kepulauan Inggris pada akhir abad 16.

Institut untuk Pendidikan Khusus, New York, dalam History of Writing Codes for the Blind juga memberikan referensi tentang program bagi disabilitas di masa silam, seperti: Valentin Haüy (1745-1822) mendirikan sekolah khusus pertama bagi tunanetra di Paris pada tahun 1784, Michel de l’Epée (1712-1789) mendirikan sekolah khusus pertama bagi tunarungu di Paris pada tahun 1770. Anak seorang pastor dari Norwegia, Peter A. Castberg (1779-1823) mendirikan Lembaga Kerajaan bagi orang tunarungu-wicara pada tahun 1807 di Kopenhagen.

Foto: Dead Roman Infant Sculpture. Diambil dari https://earlychurchhistory.org

Tradisi mengirimkan anak yang “tak sempurna” secara fisik berkurang ketika kekaisaran romawai berusia 200 SM. Ahli hukum Romawi, Ulpian, menyatakan bahwa orang tua harus bertanggung jawab atas anak mereka bahkan jika ia memiliki kelainan bentuk. Dan menurut Gracer, “pada abad ketiga sebelum masehi, meninggalkan seorang anak dianggap sebagai pembunuhan.” Namun, sekali lagi, tradisi pembunuhan bayi-bayi “cacat” masa Yunani Kuno dikoreksi oleh Martha bahwa tradisi itu tidak semeluas yang diceritakan oleh sejarah tentang Yunani. Martha menyodorkan sebuah karakter disabilitas yang disandang Dewa Hephaetus, dan seolah dijadikan indikasi bahwa masyarakat Yunani Kuno tidak membedakan disabilitas.

Namun, di atas segalanya, sejarah apapun yang kelam-kelam, kita harus membuat kenyataan baru. Memperbaiki kesalahan yang telah terjadi di masa silam, agar tak mengulangi kejahatan atas kemanusiaan. Dimanapun, diskriminasi adalah kejahatan.