Kehidupan Difabel yang Difilmkan

0
992
Foto: www.braunability.com

Oleh: Barra

[Bandung, 3 Oktober 2018] Menyoal film, kita perlu melihat bagaimana kekuatan pesan yang hendak disampaikan oleh teks, alur, setting, dan karakter utama. Sejak lama film sudah dijadikan medium penyampai pesan, kritik, protes, edukasi. Namun film juga bisa digunakan untuk membuat propaganda palsu atas kejadian sebenarnya dengan tujuan untuk memalsukan sejarah sebuah peristiwa. Ini biasanya dilakukan oleh penguasa pemerintahan guna memalsukan keputusan politik yang dibuatnya.

Film adalah salah satu media yang mudah kita nikmati, dan mudah melekat di ingatan. Sudah banyak film yang mengangkat peristiwa nyata dari kisah tokoh, politik, percintaan, musik, perang, dll. Dari sekian banyak latar belakang film, tentu kali ini dalam newsdifabel.com, saya hendak mengangkat film yang mengangkat kisah nyata tentang kehidupan difabel. Di bawah ini adalah beberapa referensi filmnya:

My Left Foot

Film yang berhasil menggaet dua penghargaan Oscar pada tahun 1990 ini kami rekomendasikan agar pembaca memasukkan dalam daftar film penting untuk ditonton. Sang sutradara, Jim Sheridan, mengangkat kisah nyata ini dari kehidupan Christy Brown yang ada gangguan di saraf otaknya (cerebral palsy) sehingga mempengaruhi gerak motorik semua tubuhnya kecuali di kaki kirinya. Christy punya otak brilian, dia pelukis, juga penulis novel. Christy tumbuh besar dalam keluarga kelas pekerja yang hidupnya penuh dengan penindasan, ini merupakan ciri utama sistem ekonomi kapitalisme, si majikan memeras habis keringat pekerja, si pekerja hanya bisa menjual tenaga pada majikan kapitalisnya. Dalam film ini, Christy memiliki cara bagaimana menunjukkan pada dunia tentang bagaimana kita menghidupi kehidupan. Kisahnya juga beririsan dengan persoalan asmara. Ketika tumbuh menjadi dewasa, prestasi Christy dalam dunia artistik semakin menanjak sukses, di situlah dia jatuh cinta, mengecap manisnya buah asmara meski pernah patah hati hampir di sepanjang jalan hidupnya. Di situlah kita akan melihat bagaimana Christy berjibaku merenangi kerasnya dunia, dan terus mencari remah-remah bahagia yang disajikan dunia kepadanya.

The Diving Bell and the Butterfly

Hanya mata kirinya yang berkedip. Adalah Jean-Dominic Bauby (selanjutnya ditulis Jean-Do), otobiografinya menginspirasi film The Diving Bell and the Butterfly, peraih puluhan penghargaan dari Cannes dan Golden Globe, meski gagal dalam Academy Awards, namun penempatannya di empat nominasi Oscar cukup mengokohkan eksistensinya sebagai salam satu film terbaik. Jean-Do adalah seorang editor majalah busana yang tergolong sukses. Di satu ketika, Jean-Do terserang stroke langka hingga melumpuhkan seluruh tubuh, tapi tidak mata kirinya. Sempat frustasi, putus asa dan mengutuk dunia, Jean-Do akhirnya memenangkan pertarungan hidup yang awalnya selalu berayun ke arah keputusasaan atau melanjutkan berjuang.

Sebelum stroke, Jean-Do menjalani kehidupan glamor, bersenang-senang, dan profan. Dia baru saja meninggalkan Céline (Emmanuelle Seigner), pasangan hidupnya yang telah melahirkan ketiga anaknya, dari situlah Jean-Do berulang melakukan pengkhianatan-pengkhianatan cinta berikutnya.  Ketika Jean-Do strok, Céline muncul di rumah sakit sambil menahan air mata yang terlihat sulit sekali dicegah agar tak tetes ke bumi. Céline tetap menunjukkan kesetiaannya, bahkan, A. O. Scott (peresensi film di The New York Times) menyebutnya sebagai gambaran nyata dari sebuah kesetiaan yang mendekati masokisme. Terlepas dari kesalahannya, dia jelas mencintai Jean-Dominique, dan dia tidak sendirian. Bagian yang paling memeras kesabaran kita adalah ketika Jean-Do belajar berkomunikasi dengan kedipan matanya, dan bagaimana dia belajar sangat keras mengeja satu kata di beberapa bagian film. Dan, kami menganggap, ini yang terpenting dari seluruh kisahnya; Karena pembatasan fisik Jean-Do, ia hanya memiliki satu saluran untuk berkomunikasi dengan dunia luar: aktivitas okuler (melalui mata; kedipan mata). Dengan menggerakkan matanya dan berkedip, ia tidak hanya mulai berinteraksi lagi dengan dunia di sekitarnya, tetapi – ini yang menakjubkan – menulis memoarnya melalui kode yang digunakan untuk menandai huruf tertentu dari alfabet.

Lives Worth Living

Ini mungkin semacam revolusi yang paling tidak dipublikasikan dari kita namun akhirnya memiliki capaian terjauh. Sebuah gerakan sosial di Amerika Serikat yang dimotori oleh kaum difabel mengubah cara pandang hingga infrastruktur Amerika (meski belum maksimal), mempengaruhi bagaimana cara membangun stasiun, terminal bis, fasilitas sekolah dan bisnis (tentang bagaimana rekruitmen pekerja difabel). Bahkan keluarnya Americans With Disabilities Act of 1990 (UU tentang difabel di Amerika).

Film dibuka dengan gambar-gambar dari masa lalu yang sangat suram, terutama dari Willowbrook State School, sekolah untuk anak-anak penyandang difabel (kesulitan berfikir) di Staten Island. Tempat itu, oleh seorang reporter televisi bernama Geraldo Rivera, disebut sebagai “mimpi buruk”.

Para pembuat film mewawancarai beberapa tokoh sentral dalam pembentukan gerakan, yang juga berbicara tentang gerakan feminis dan hak-hak sipil. Salah satu penggerak protesnya adalah Fred Fay, King Jordan, Judi Chamberlin dan Judith Heumann. Termasuk legislator (anggota dewan) bernama Tony Coelho dan Tom Harkin.

Pada plot lain film ini dijelaskan bahwa gerakan sosial juga dipicu oleh veteran perang yang sekembalinya dari Perang Dunia II menjadi difabel. Mereka menuntut diakhirinya diskriminasi terhadap penyandang difabel, akses pekerjaan yang lebih baik dan atas fasilitas sosial lainnya. Live Worth Living adalah film yang menelusuri sejarah gerakan di Amerika Serikat dalam urutan kronologis. Film ini mendokumentasikan bagaimana, pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, aktivis penyandang disablitas mulai mengadopsi beberapa taktik dan strategi yang digunakan oleh aktivis hak-hak sipil satu dekade sebelumnya, termasuk pawai, protes, dan pembangkangan sipil.

Lives Worth Living juga mendokumentasikan bagaimana, pada tahun 1988, mahasiswa tunarungu di Gallaudet University di Washington D.C. memprotes pengangkatan presiden untuk kedua kalinya dengan berbaris sepanjang jalan, dan sebagai gantinya, menuntut untuk mengangkat presiden dari kelompok tunarungu.

Orang-orang penyandang difabel membentuk koalisi lintas-difabel untuk menuntut akses ke semua hal yang tidak disuarakan mayoritas orang, termasuk transportasi umum, perumahan, akomodasi umum, dan pekerjaan.

Kritikus Film

Film-film ini termasuk film bertema tentang kehidupan difabel, namun tidak ada aktor terkenal atau individu lain dengan difabel yang dinominasikan untuk Oscar. Ada lebih dari 95 persen karakter dengan difabel yang dinominasikan oleh aktor yang bukan difabel.

RespectAbility, tulis Jennifer Laszlo Mizrah di huffingtonpost.com, telah mengajak Hollywood untuk menyertakan orang-orang penyandang difabel di semua acara televisi dan film. RespectAbility adalah sebuah komunitas besar penyandang difabel di Amerika Serikat yang bergerak dalam isu difabel. Anggotanya bukan hanya penyandang difabel saja, namun siapapun yang respect boleh terlibat.

“Tetapi mengapa representasi difabel itu penting?,” David Proud (seorang aktor dan penulis The Art of Disability) mengeluarkan pertanyaan retoris. “Adalah tugas seni untuk menyoroti dan mengubah persepsi. Masalahnya muncul ketika orang-orang yang bukan difabel adalah satu-satunya orang yang menciptakan narasi. Meskipun mereka mungkin dapat memahami beberapa aspek medis, untuk mewakili kita mereka harus memahami budaya kita dan di sanalah sebagian besar penggambaran difabel gagal.”

Ada  13 juta penyandang difabel yang tinggal di Inggris, itu adalah 20% dari populasi. Tetapi, minoritas besar tersebut tidak menjadi sasaran oleh media sebagai penonton yang berharga.

Selain film-film di atas, masih ada banyak lagi film yang mengangkat kisah nyata dari orang-orang penyandang difabel sebut saja The Sessions, I Am Sam, The Theory of Everything, Mask, Jingga, Sebuah Lagu untuk Tuhan. Ini adalah sebuah sodoran kecil referensi dari newsdifabel.com yang harapannya bisa memperluas cakrawala pengetahuan, saling belajar tentang hidup, memaknai dunia melalui film. Silahkan pembaca bisa mencari film terbaik lainnya.