Kedudukan Difabel Netra Zaman Rasulullah

0
186

Ditranskrip dan dinarasikan oleh Sri Hartanti dari rekaman suara Yayat Ruhiyat

[Bandung, 10 September 2020] Pada era dakwah Nabi Muhammad Saw – Rasulullah shallallahu alaihi wasallam periode Mekah setelah melaksanakan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, Rasul kemudian diperintah oleh Allah untuk berdakwah secara terang-terangan.

Diriwayatkan, dalam suatu hari saat menjalankan dakwahnya Rasul melakukan pembicaraan dengan para tokoh quraisy Ketika pembicaraan bersama para tokoh pembesar quraisy berlangsung dengan berbagai argumentasi yang cukup alot, datanglah seorang difabel netra bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum.

Abdullah Ibnu Ummi Maktum, datang dengan penuh semangat untuk memperoleh informasi yang lebih banyak dan mendapatkan pelajaran tentang Islam yang lebih mendalam. Kehadirannya pada saat itu dirasa mengganggu konsentrasi pertemuan, sehingga Rasul merasa kurang berkenan, ada ketidakenakan dalam dirinya dan bersikap abai. Padahal, secara psikologis kita menganggap sikap Rasul yang seperti itu sangat wajar.

Menurut ijtihad (sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang) pembicaraan dengan pembesar quraisy sesuatu yang sangat penting, dengan kalkulasi dakwah ketika para pembesar tersebut sudah percaya dan menganut Islam tentu masyarakat quraisy akan mengikuti pimpinannya.

Seperti dalam sejarah untuk dapat menaklukan sebuah bangsa atau negara, ditaklukanlah terlebih awal pimpinannya atau rajanya. Namun demikian tindakan Rasul langsung mendapat teguran dari Allah Swt. dengan diturunkannya Surat Abasa (42 ayat) yang memiliki isi kandungan sebagai teguran tegas Allah Swt. kepada seseorang yang tidak memperlakukan sosok difabel netra yang sedang mencari kebenaran dengan baik.

Melalui diturunkannya Surat Abasa, merupakan satu firman Allah yang menunjukan bahwa Islam sangat menghormati, melindungi dan memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada difabel, khususnya difabel netra. Allah Swt. menegur Rasul-Nya agar tidak bersikap diskriminasi, jangan memaksakan sesuatu kepada orang yang tidak berkenan seperti halnya ajaran Islam didakwahkan pada kaum yang sudah menolak dakwah Rasul, sehingga kemungkinannya sangat kecil untuk mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan dakwahnya. Tentu bukan dengan sikap spekulasi, tapi Allah langsung yang sudah mengingatkan agar Rasul-Nya memberikan pelayanan kepada yang sungguh-sungguh mengharapkan untuk belajar, seperti Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang ingin mensucikan dirinya karena merasa takut kepada Allah Swt. Rasul pun menyadari dan akhirnya bersikap sangat baik dan memuliakannya secara pribadi.

Abdullah Ibnu Ummi Maktum sebagai sahabat yang awal mengakui dan masuk Islam. Dalam beberapa keterangan lain, saat Rasulullah hijrah ke Madinah Abdullah Ibnu Ummi Maktum termasuk tim terdahulu.

Setelah hijrah tersebut, bukti Islam memuliakan difabel netra adalah dengan kesantunan Rasul yang selalu tegur sapa Abdullah Ibnu Ummi Maktum, ‘Wahai orang yang telah menyebabkan Aku mendapatkan teguran dari Allah,’ sapaan tersebut senantiasa menjadi sapaan terindah.

Lalu, secara kepercyaan karena Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang berkeinginan tinggi, memiliki ilmu yang baik, yang banyak tentang agama sehingga ia pun menjadi salah satu sahabat yang mendapatkan kepercayaan dari Rasul.

Kepercayaan Rasul yang pernah diamanatkan pada Abdullah Ibnu Ummi Maktum adalah ketika Rasul pergi berjihad, yang menggantikan tanggung jawab kepemimpinan di Madinah diserahkan kepada Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Kemudian, ia juga diangkat menjadi muadzin. Kedudukan muadzin adalah sebagai seorang yang mengajak untuk menyembah Allah, mendapatkan derajat dan martabat yang tinggi serta pahala yang banyak.

Hal ini menjadi jelas, Islam telah memberikan kedudukan kepada difabel netra secara mulia dan terhormat, tentu saja dengan disertai difabel netra nya itu sendiri yang berbekal kesungguhan, semangat yang tinggi untuk belajar, untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa, sehingga betul-betul bisa menjadi orang yang memperoleh kemuliaan.

Allah melarang diskriminasi dan harus memperlakukan difabel netra dalam posisi yang terhormat, memberikan skala prioritas pembelajaran kepada mereka yang sungguh-sungguh ingin belajar, dan ingin mencusikan diri dan memberikan kepercayaan diri kepada mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas.