Kebangkitan Setelah Jatuh: Putaran Nasib Sang Penggembala

0
674

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Hari yang cerah tanpa hujan adalah harapan setiap penggembala kambing. Namun, harapannya lain lagi ketika berkarung-karung rumput segar telah didapatkan. Berharap titik air jatuh membasahi bumi agar esok banyak rumput diperoleh. Harapan sederhana seorang pemuda penggembala kambing. Angin sejuk dan cahaya matahari temannya, sabit senjatanya. Ilman, namanya. Tiap hari, ia berkeliling dari satu desa ke desa lain demi sekarung rumput untuk mengisi perut beberapa ekor kambing yang dimiliki keluarganya. Kondisi kaki Ilman tak menjadi halangan. Ada apa gerangan dengan kaki Ilman?

Sejak kelahirannya, tubuh Ilman diboncengi makhluk renik berukuran 25 mikrometer yang kemudian menginfeksi saraf pusat. Dunia kedokteran menamainya sebagai poliomielitis. Entah bagaimana makhluk mikroskopis itu bisa masuk ke tubuhnya.

Kakinya mengecil nyaris tak tumbuh. Ilman tumbuh hanya meninggi saja, tak membesar. Alhasil, laki-laki yang berasal dari sebuah desa di Indramayu itu harus menghadapi harinya dengan tubuh yang ia miliki. Mencari rumput dan menggembala kambing kesehariannya, hingga datang waktu yang mengubah segalanya.

Waktu itu aku biasa, kan, lagi nyari rumput. Eh, tiba-tiba ada bapak-bapak yang nyamperin aku. Terus ngajak aku ikut sama dia. Ya, aku enggak mau, lah. Orang aku enggak kenal,” Ilman mulai berkisah.

Terus, dia nanya alamat, tuh. Ya udah, aku kasih.” lanjutnya.

Sejak hari itu, laki-laki yang diceritakan Ilman mendatangi rumahnya. Membujuk Ilman agar mau pergi bersamanya. Namun, sang penggembala enggan. Ia belum sepenuhnya percaya dengan cerita-cerita yang dipaparkan tamunya. Hingga suatu hari, Ilman benar-benar dipaksa untuk turut dengannya. Karena telah beberapa kali bertemu, sekaligus penasaran, Ilman pun akhirnya luluh. Ia lalu dibawa ke kantor Nasional Paralympic Comeetee of Indonesia (NPCI) Cabang Kabupaten Indrmayu. Di sana ia ditunjukkan berbagai jenis olahraga dan diminta untuk mencoba semua. Mulai dari lempar lembing, hingga tolak peluru, dan lain-lain. Akan tetapi, satupun tak ada yang cocok.

Hari penentuan tiba. Di desa tempat tingggal ketua NPCI Indramayu, akhirnya pemuda penggembala itu diketahui dapat berenang. Pak Yetno, ketua NPCI Indramayu yang menemukan batu permata di gunung lumpur itu dengan terus-menerus menyemangati Ilman agar giat berlatih.

Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) Karawang, Jawa Barat 2006 menjadi ajang kejuaraan pertamanya. Pemuda penggembala berhasil mengantongi 2 perak. Menjadi atlet renang yang mampu mengharumkan kabupatennya sama sekali tak ada dalam benak Ilman. Ia tak pernah bermimpi dikalungi medali. Namun, 2 perak yang diperolehnya seolah berkedip-kedip memberi sinyal semangat untuk tak berdiam diri.

Berbagai perhelatan olahraga tingkat daerah ia ikuti. Hingga puncaknya, pemuda desa itu mampu terbang lintasi laut, gunung, dan hutan guna mengukir prestasi di negaraa tetangga, Myanmar. Pesawat yang menerbangkannya dari Jakarta membawa serta doa dan mimpi seorang pemuda desa. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekatnya dikantongi juga. Di ajang Asean Para Games Myanmar 2013, Ilman mampu menggemakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dua emas menggantung di lehernya.

Ilman, manusia biasa, merasakan suka cita pun nestapa, rintangan dan tantangan. Pernah suatu masa hidupnya yang tengah pasang, ia terjerumus dalam buaian nafsu hingga rupiah-rupiah yang dikumpulkan menguap tertiup angin kesenangan semu. Tapi, inilah pelajaran hidup yang harus ditelan oleh Ilman, juga kita. Bahwa, setiap manusia, entah bagaimanapun kondisinya, tetaplah manusia, bukan malaikat.

Seorang difabel bukanlah malaikat yang selalu berjalan pada kebaikan. Difabel atau tidak, Tuhan memberikan lengkap dengan nafsu dan keinginan sama. Namun demikian, ia sadar bahwa ada masanya manusia dihantarkan Tuhan ke titik dimana makhluk harus merenung.

Penyelenggaraan Asean Para Games Singapura 2015, membawa Ilman pada kekalahan telak. Tak satu medalipun diperolehnya. Ilman menafsirkan bahwa badai itu adalah teguran Tuhan, sebab, Tuhan menyayanginya. Ia tak patah arang. Dengan tekad perbaikan diri, dilukisnya kembali prestasi. Pada gelaran pesta olahraga Pekan Paralimpik Nasional Jawa Barat 2016, tidak tanggung, 2 emas kembali didapatkannya.

Sejuta prestasi Ilman, sang pemuda penggembala, hasil peperangan batinnya melawan keserakahan dan kesombongan manusia yang begitu daif, penuh khilaf. Lupa bahwa segala yang kita kenakan hanya titipan, bahkan jasad dan ruh.

Pada akhirnya, Ilman bertekad lebih menghargai waktu yang telah menempanya. Ilman berharap ia akan melangkah ke arah yang lebih baik dan terus mengukir prestasi di kanvas mimpi. Lebih jauh lagi, Ilman sanggup melalui mimpi buruk, mengentaskan diri dari jurang ilusi.