KBBI: Difabel adalah Penyandang Cacat

0
334

Oleh: Barra

[Bandung, 17 Juli 2019] Bahasa memiliki peran penting dalam sistem komunikasi antar manusia. Bahasa terdiri dari unsur kosakata atau frasa (kata). Bahasa dan kata ini sangat unik karena sejarahnya begitu panjang hingga terbentuk kata dan sistem bahasa. Ilmu yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan bentuk dan maknanya adalah etimologi. Keberadaan frasa dan bahasa berdialektika bersama perkembangan makna secara sosiologis. Tentu kita semua setuju jika dalam berkomunikasi perlu memilih kata yang tepat agar tidak ada ketersinggungan. Selain itu, perkembangan kata juga bermakna ilmiah dalam ilmu linguistik.

Bahasa Indonesia pun demikian. Terus berkembang, bergerak, dan menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dalam teknis tata bahasa, sistem Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sudah diganti dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Secara teknis, PUEBI adalah pedoman dalam tata bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang terakhir, yaitu KBBI V 0.2.1 Beta (21) yang dibuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2016, kata di.fa.bel/difabêl/ memiliki arti penyandang cacat. Padahal, kata difabel adalah serapan dari “different ability” yang berarti perbedaan kegunaan; memiliki makna perbedaan cara penggunaan anggota tubuh. “Different ability” kemudian dipendekkan menjadi “difable”, dan dalam perkembangannya menjadi “difabel”.

Istilah “penyandang cacat” tentu sudah tidak relevan lagi terutama dalam lingkup disabilitas sekarang. Harusnya, artinya sudah diganti dengan istilah yang lebih nyaman untuk kaum difabel. Mengapa harus diganti? Karena pengistilahan “penyandang cacat” diasosiasikan dengan subyek yang konotasinya negatif dan memiliki asumsi (secara sosial) tidak bisa diberdayakan. Predikat negatif dari istilah “penyandang cacat” mengemuka karena pengistilahan tersebut sangat bias dan luas, beda dengan istilah difabel yang langsung menjurus hanya pada fisik. Sementara istilah “cacat” lebih bias karena bisa juga berarti cela, aib, mutu dan nilai yang tidak baik. Lebih parahnya lagi, dalam KBBI, kata “cacat” maknanya dicampur antara cela/aib secara nilai dengan kondisi ketubuhan.

Dari laman resminya (kbbi.kemdikbud.go.id) diyatakan bahwa pemutakhiran KBBI sudah dilakukan oleh Badan Bahasa pada april 2019 dengan rincian: 389 entri baru, 36 makna baru, 3 contoh baru, 179 perubahan entri, 222 perubahan makna, 11 perubahan contoh, dan 16 entri nonaktif. Meskipun KBBI sudah dimutakhirkan, namun istilah “penyandang cacat” tidak juga diganti sehingga membuat saya secara pribadi tidak nyaman.

Dalam teori linguistik/bahasa, ada pemikir besar bernama Ferdinand de Saussure. Ia menganalisa bahwa bahasa adalah sebuah sistem yang mengekspresikan ide sehingga, pembahasaan terkait dengan ide atau perspektif manusia bisa dilihat dari caranya memilih kata atau bahasa. Jika idenya tidak inklusif, maka cara menentukan kata dan bahasa juga tidak inklusif. Konsep linguistik Saussure juga menekankan bahwa bahasa terbentuk dari sebuah aturan linguistik sehingga memungkinkan manusia berkomunikasi secara bermakna.

Pemahaman konsep Saussure tentang bahasa diandaikan oleh dia dengan sebuah permainan catur. Terdiri dari bidak-bidak yang memiliki makna dan fungsi berbeda. Bidak raja, ratu, dan kuda, harus dimaknai dan dipahami sesuai konteksnya sehingga ketepatan menggunakan bahasa merupakan ekspresi dari nilai ide manusia. Sehingga timbul pertanyaan: Inklusif kah KBBI?