Kaum Difabel di Kuba (Bagian II)

1
458

Oleh: Barra

[Bandung, 18 November 2018] Di Amerika Serikat, kebijakan ekonomi kapitalisme tentang austerity (penghematan) telah menghancurkan orang-orang disabilitas dengan keras, menghilangkan atau memotong transportasi khusus, perawatan kesehatan dan sekolah untuk orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Isabel Moya, sekretariat nasional Federasi Perempuan Kuba, menjelaskan, “Ketika orang ditanya apa hal terbesar yang didapat dari revolusi, mereka biasanya mengatakan, kesehatan, pendidikan, olahraga. Dan saya mengatakan bahwa hal terpenting yang telah diberikan revolusi kepada individu adalah martabat. Dalam hal ini, martabat orang Kuba yang hidup dengan kondisi difabel.”

Tiga fokus utama pemerintah mengenai difabel terus didorong hingga titik maksimal, pertama, “perlindungan dari sudut pandang perawatan kesehatan dan jaminan sosial, legislasi dan (mampu) bekerja dengan subjektivitas karena tidak hanya dengan kemauan politik. Kedua, Kuba bekerjasama dengan tiga organisasi non-pemerintah yang fokus untuk meningkatkan kapasitas difabel. Salah satunya adalah untuk orang-orang dengan difabel fisik atau motorik. Ketiga, dibentuk National Association of the Blind, sebuah asosiasi orang-orang dengan keterbatasan pengelihatan, juga asosiasi untuk orang-orang dengan keterbatasan pendengaran.”

Program-program di atas juga menekankan diri pada pengarusutamaan jender (gender mainstreaming) bagi perempuan difabel yang bekerjasama dengan Federasi Perempuan Kuba.

Dalam praktiknya, mereka bergerak terus untuk mengatasi persoalan kesehatan bagi difabel di Kuba, sebagai contoh, ketika ada perempuan tunarungu akan melakukan persalinan maka diwajibkan ada seorang perawat yang membantu mereka untuk mengomunikasikan kepada dokter dalam proses persalinan.

Apapun kondisi yang dimiliki seseorang, mereka semua berhak atas pendidikan. Mereka semua memiliki rencana dan masa depan gemilang. Pemberdayaan difabel berkaitan dengan hak untuk mendidik dirinya sendiri dan meningkatkan harga diri mereka. Di Kuba, setiap hari seorang guru akan pergi ke rumah anak-anak yang kesulitan berangkat ke ruang kelas, baik karena dalam kondisi disabilitas ataupun karena sakit.

Komitmen pemerintah Kuba tentang pendidikan dan kesehatan memang tidak
main-main. Bagi pemerintah, pendidikan adalah investasi sosial (modal sosial)
bagi kemajuan manusia. Kuba memiliki tenaga guru paling berlimpah di dunia
dengan perbandingan 1 guru untuk 42 penduduk. Anak-anak di
Kuba mendapatkan perhatian dan pengajaran dengan kualitas terbaik dari guru. 88%
ruang kelas di Kuba hanya diisi 20 murid, jika ada yang lebih, maka gurunya
ditambah satu orang.

Negara yang pernah
ditinggali Che Guevara (gerilyawan terbaik di dunia) ini mengalokasikan 13% Produk
Domestik Bruto (PDB)-nya untuk membiayai semua lini pendidikan hingga bisa
menggratiskannya.

Baca Bagian I