Kaum Difabel di Kuba (Bagian I)

0
859

Oleh: Barra

[Bandung, 2 November 2018] Isabel Moya, seorang difabel bergelar profesor jurnalisme di Universitas Havana, mengatakan: ‘Kuba memberi kita harga diri‘.

Kuba, Negara yang pernah menjadi penentang terkuat kapitalisme ini adalah pulau terbesar di Karibia. Rakyatnya pernah secara gemilang menjungkalkan kediktatoran Fulgencio Batista yang begitu membebek pada Amerika Serikat. Kolonel angkatan darat itu sukses mengorganisir kudeta dalam meraih kekuasaannya sebagai presiden. Revolusi Sersan tahun 1933 dibuat oleh Batista untuk mendongkel Gerardo Machado.

Negara berpenduduk lebih dari 11 juta orang itu memiliki sistem pendidikan yang mengagumkan. Setelah kemenangan Revolusi Kuba atas diktator Fulgencio Batista pada 1959, Fidel Castro mengonsentrasikan diri untuk dua hal: pendidikan dan kesehatan. Castro sadar bahwa, setelah revolusi, yang dihadapi oleh Kuba adalah kenyataan setengah rakyat Kuba tidak bisa membaca dan menulis. Pada 1961, dua tahun setelah revolusi, program pendidikan dimasifkan.

Sebelumnya, 50% anak-anak di Kuba tidak pernah menyentuh bangku sekolah. 72% anak-anak berusia 13-19 tahun tidak bisa
melanjutkan ke sekolah menengah (setingkat SMP). Dan satu juta rakyat Kuba buta-huruf. Kemudian, lebih dari satu juta orang dijadikan tenaga pengajar untuk pendidikan gratis. Alhasil, lebih dari 700.000 rakyat Kuba ikut dalam program belajar dan menulis. Angka buta-huruf terjun bebas dari 21% menjadi 3,9%. Hingga kini, Kuba adalah salah-satu negara dengan melek-huruf tertinggi dunia.

PBB pernah merilis 100% rakyat Kuba usia 17-24 tahun melek huruf. Bahkan 99,8% melek-huruf untuk dewasa. Program pendidikan ini diberi nama, Yo sí Puedo (Ya, Saya Bisa).

Pendidikan untuk Difabel

Konsep pembangunan bangsa di Kuba diletakkan pada prinsip mendemokratiskan semua sumber pengetahuan dengan mendorong partisipasi publik secara maksimal. Saat ini, 5.093 siswa berkebutuhan khusus terdaftar di berbagai institusi pendidikan khusus di seluruh negeri. Anak-anak autis ini dari Sekolah Khusus Abel Santamaría di Provinsi Holguín.

Dora Laborí Kindelán, seorang spesialis ahli metodologi pendidikan dari Kementerian Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa sejalan dengan perubahan yang diterapkan pada sistem pendidikan nasional di Kuba, Pendidikan Khusus sedang menjalani proses perbaikan yang ekstensif, dengan tujuan untuk menyempurnakan pembelajaran dan pendidikan komprehensif bagi siswa dengan kebutuhan-khusus.

 

Dukungan pendidikan untuk siswa dengan berbagai kebutuhan dan keadaan, peran program pelatihan spesialis dan staf, semuanya merupakan aspek penting dari proses ini. Inisiatif eksperimental ini bekerjasama dengan siswa difabel netra, berfokus pada bidang-bidang seperti dukungan untuk siswa dengan ketidakmampuan belajar yang parah, saat ini diterapkan di enam provinsi di negara tersebut. Hasil program ini kemudian diperluas ke seluruh wilayah negara.

Saat ini setiap sekolah merancang skema pendidikan institusionalnya sendiri, berdasarkan kurikulum yang lebih fleksibel dan memiliki konteks spesifik. Sistem Pendidikan Khusus Kuba ditujukan untuk memastikan pengembangan komprehensif orang-orang dengan kesulitan belajar secara maksimal.

Salah satu tujuan program Pendidikan Khusus ini adalah agar sebuah agenda pembelajaran difokuskan pada potensi setiap siswa. “Dampak faktor sosial dan pendidikan jauh lebih penting daripada pembatasan biologis yang mungkin dimiliki siswa,” kata Menteri Pendidikan.

Proposal lainnya adalah merestrukturisasi sistem penilaian dan bertujuan menyediakan pendidikan berkualitas di sekolah yang harus terus berupaya lebih inklusif. Program Pendidikan Khusus bertanggung jawab untuk menangani kebutuhan siswa.

Januari 2018 yang lalu, menandai 56 tahun sejak sistem ini pertama kali diimplementasikan. Capaian kecilnya adalah setiap tahun, 1.400 siswa lulus dari berbagai institusi pendidikan khusus, dan bergabung langsung dalam angkatan kerja produktif. Saat ini ada lebih dari 12 sekolah TK khusus dan 98 tempat khusus anak usia dini di Kuba. 360 sekolah khusus di negara ini memenuhi kebutuhan siswa penyandang difabel, termasuk bagi yang kesulitan belajar.

Lanjut ke Bagian II