Karisma Hakim Sang Gitaris

0
372

Penulis: Agus Maja 

Newsdifabel.com — Gitar adalah alat musik modern yang sangat akrab kita kenal, alunan nada dan suaranya yang khas membuat siapa saja mengenali alat musik ini. Petikan gitar bisa membuat sepasang anak Adam larut dalam kemesraan dengan romantisme kehidupan. Alat musik ini cukup mudah dipelajari, akan tetapi jika ingin menguasainya lebih dalam serta mahir maka harus dipelajari serius untuk menghasilkan harmoni antar nada.

Karisma Hakim yang akrab dipanggil Aris, adalah seorang difabel netra yang cukup mempuni kemampuan bermain giitarnya sebab ia sangat suka memainkan melodi dalam tiap permainannya. Aris fokus mempelajari gitar ketika ia pertama kali menjadi seorang difabel netra, namun dasar-dasar memainkan gitar ia dapatkan dari ibunda tercinta.

Ketika Aris pindah ke Bandung dan tinggal di asrama, menceritakan “Saya hampir setiap hari pegang gitar karena tidak ada alat musik lain yang bisa saya mainkan. Setiap hari pula saya mengulik nada lagu-lagu beserta melodinya, penyebab saya memegang serta memainkan gitar setiap hari adalah untuk membunuh stres karena saya menjadi seorang tunanetra”.

Hambatan Aris dalam mempelajari gitar adalah dari tangannya, sebab kedua tangan Aris berbeda (tidak sama) akan tetapi Aris tidak patah semangat, ia tetap belajar meski kedua tangannya pun berbeda dan pada akhirnya semangat tak kenal lelah untuk mempelajari gitar membuahkan hasil, kedua tangannya bisa memainkan gitar dengan baik.

Perlu waktu tiga tahun bagi Aris untuk mengolah kemampuan permainannya agar dapat tampil di atas atas panggung. Hingga saat ini, bermain gitar di atas panggung menjadi nafkah untuk dirinya.

Permaian gitar seorang Aris terinspirasi dari idolanya sebut saja Dewa Bujana, Andra, Tohpati, Joe Satriani, Steve Vai, dan Derek Trucks.

Selain itu Aris menceritakan, “Pengalaman saya manggung itu pernah mengiringi Yura Yunita, Kristin Panjaitan, Rizky Febian. Dan saat pandemi seperti ini, penghasilan saya sangat menurun karena hotel dan taman kota yang biasa tempat saya bermain sangat sepi.”

Harapan seorang Aris kepada siapa saja terkhusus para difabel, jangan ada kata mustahil sebelum mencoba dan berusaha. Buktikanlah kehidupan ini dengan karya bukan banyak bicara.

Kualitas Aris dalam bermusik tentu bisa sepadan dengan gitaris nondifabel. Ini menandakan bahwa kualitas seseorang tak bisa dinilai dari yang-tampak saja. Inilah fundamen dari semangat anti diskriminiasi.

Dari Persia ke Spanyol

Gitar setelah tersentuh teknologi modern berkembang dengan berbagai variasi, elektrik dan akustik. Gitar elektrik juga memiliki alat khusus secara terpisah agar bunyi yang ditimbulkan gitar bisa bermacam-macam.

Sedangkan gitar memiliki sejarah panjang, bahkan 1.500 tahun sebelum Masehi, telah ada alat musik seperti gitar tapi dalam bentuk sederhana. Penemuan sejarah itu ada di Persia sebagai alat musik petik yang dinamai “citar” dan “sehtar”.

Citar dan sehtar umumnya berleher panjang, soundboard yang bulat kecil, dan hanya empat dawai. Citar dan sehtar juga memiliki nut, fret, dan sadle.

Terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat kuno dalam perdagangan dan kontak budaya, sampailah ke Yunani hingga Romawi. Oleh bangsa Romawi, alat musik petik ini tiba di Spanyol 600 tahun kemudian.