Kang Wawa, Montir Motor Roda Tiga

0
419

Redaksi

[Bandung, 29 Juli 2019] Sejak tahun 2009, Wawa Gunawan, seorang difabel daksa, sudah membuka usaha jasa bengkel sepeda motor. Lalu, pada tahun 2010, dirinya mengenal motor roda tiga.

“Sebenarnya saya sudah dari tahun 2004 jadi montir. Kerja di salah satu bengkel resmi, lalu pernah juga di bengkel motor umum.” tutur Kang Wawa.

Pria yang difabel daksa sejak lahir itu memiliki pelanggan dari sekitar Kota Bandung dan Cimahi. Mulai dari mereka yang memperbaiki motor biasa, hingga teman-teman difabel daksa yang ingin merakit motor roda tiga.

“Alhamdulillah, setelah Wawa buka bengkel di GOR, teman-teman jadi kenal motor roda tiga. Terus, pelanggan yang biasa juga pada dateng ke sini,” katanya.

“Pelanggan yang sudah pernah merasakan jasa Wawa biasanya suka kembali lagi. Bahkan sampai ngikutin ke GOR sini. Alhamdulillah, berarti mereka puas dengan pelayanan Wawa. Mereka nggak masalah dengan kondisi Wawa yang difabel.” imbuhnya.

Montir yang juga berprofesi sebagai atlet itu pernah meraih tiga kali penghargaan sebagai montir terbaik di bengkel resmi sebuah merek motor Cabang Derwati. Saat itu, dirinya ditarget untuk menyelesaikan perbaikan 8 unit sepeda motor setiap harinya. Itu artinya, Kang Wawa mampu menyelesaikan perbaikan 240 unit sepeda motor per bulannya.

Saat ini, Kang Wawa konsen mengembangkan bengkel pribadinya di dalam kawasan GOR Pajajaran Bandung.

“Wawa, sih, berharap ada perhatian dari pemerintah khususnya pemerintah kota untuk Wawa mengembangkan bengkel ini. Karena Wawa ingin berdikari, mandiri membesarkan bengkel ini. Dengan keterampilan yang dimiliki saat ini.” ujar Kang Wawa penuh harap.

Bermodal sertifikat silver yang diperolehnya dari bengkel sebelumnya, Kang Wawa menginginkan hal terbaik untuk bengkel yang dirintisnya.

Peran pemerintah dalam pengembangan usaha jasa seperti yang dilakukan Kang Wawa sangat dibutuhkan. Bukan saja selaku penyokong dana usaha kecil dan menengah, tetapi diharapkan juga berperan dalam melakukan promosi. Pengakuan masyarakat akan keterampilan para difabel yang mumpuni menjadi landasan utama usaha mereka. Sehingga, perspektif kesetaraan akan lahir seiring terbukanya pemikiran masyarakat luas.