Ivan Rahardian: Dari Bodyguard Hingga jadi Tukang di Rumahnya Sendiri

0
50

Oleh: Siti Latipah

[Cimahi, 29 November 2019] Namanya Ivan Rahardian. Sejak lima tahun yang lalu, Ivan hidup dengan hambatan penglihatan. Dirinya dijatuhi vonis tidak akan dapat melihat lagi setelah empat kali gagal operasi mata di sebuah rumah sakit mata ternama di Kota Bandung. Sedikitpun Ivan tidak menyangka dirinya akan hidup dalam kegelapan total sebagai seorang difabel netra.

Saat ini, Pak Ivan, begitu dirinya akrab disapa, tinggal di kawasan Kota Cimahi bersama istri dan anak-anaknya. Laki-laki yang pernah bekerja di salah-satu bank swasta itu kini menjalani rutinitas sehari-harinya sama seperti kepala rumah tangga yang lain. Ketika ada sesuatu yang mesti diperbaiki, Pak Ivan berusaha untuk tidak menyuruh orang lain sebelum dirinya mencoba terlebih dahulu.

“Banyak yang sudah diperbaiki. Misalnya, alat-alat rumah tangga yang rusak, kabel listrik yang putus, benerin ranjang shiatsu sendiri,” katanya mengawali perbincangan.

“Ketika misal saya ingin membetulkan kaki ranjang yang reyot, untuk mengukur kaki ranjangnya, saya tidak menggunakan meteran. Saya pakai benang, atau tali, atau lidi. Saya ukur dulu satu kaki ranjang dengan menggunakan lidi, dipotong tentu saja dengan memakai gergaji sesuai ukuran yang saya buat dari lidi tadi, lalu saya gunakan lidi itu untuk kaki-kaki ranjang yang lain. Gitu kalau ukur-mengukur, potong-memotong. Kalau untuk betulin kabel listrik, sebisa mungkin saya tidak akan menggunakan solder, tapi saya akan berfikir, bagaimana caranya, kabel-kabel itu dapat diperbaiki tanpa solder. Pernah juga saya harus membuat undakan untuk sekat lantai dapur dan kamar mandi agar air tidak mengalir ke dapur. Untuk mengerjakan ini, saya dibantu dua bilah balok yang dipasang melintang sepanjang undakan yang akan saya buat. Lalu, setelah itu, saya isi ruang kosong antara balok satu dan lainnya dengan adukan semen dan kawan-kawan sampai rata. Setelah beres, diamkan sampai kering. Nah, setelah kering, dua balok tadi dibuka. Meskipun udah gak kelihatan apa-apa, bisa juga saya menggunakan sendok tembok. Ya, intinya sih, kreatif.” lanjutnya panjang lebar.

Pak Ivan juga akrab dengan palu dan paku. Hambatan penglihatan yang dialaminya tak lantas membuat nyali laki-laki pernah berprofesi sebagai bodyguard artis ini ciut dengan pekerjaan paku-memaku.

“Awal-awal nyoba maku sendiri, sih, sering kepukul sampai biru-biru kata yang lihat, mah. Tapi, saya gak nyerah, nyoba lagi, nyoba lagi. Karena saya fikir paku-memaku ini akan sering dilakukan. Akhirnya bisa juga. Pasang gas LPG juga saya bisa. Gak takut. Tipsnya sih kalau untuk pasang gas, kita jangan panik, harus tenang, santai. Kesimpulannya, pengalaman dijadikan pelajaran.” tuturnya.

Saat dikonfirmasi mengenai motivasi terbesar dirinya dapat bangkit dari kesedihan dan keterkejutan mendapati dirinya harus menghabiskan sisa usia dalam kegelapan, Ivan Rahardian mengatakan bahwa, keluarga yang menjadi cemetinya. Ivan berfikir, “Hidup harus berlanjut, tidak bisa begitu saja berpangku tangan. Saya harus sesegera mungkin belajar untuk meneruskan hidup. Saya harus bisa hidup normal di tengah-tengah masyarakat.” ujarnya.