Hidangan Buka Puasa dari Ibu Difabel Netra

0
141

Oleh: Tim Redaksi

[Bandung, 20 Mei 2019] Kali ini, Newsdifabel.com berkesempatan berkunjung ke dapur salah seorang difabel netra yang telah menjabat sebagai ibu rumah tangga, Siti namanya. Perempuan dari satu orang anak itu tinggal di kawasan utara Kota Bandung. Meskipun dirinya difabel netra total (tidak memiliki sisa pengelihatan sama sekali), namun terjun ke dapur sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. Siti piawai memasak, mulai dari membuat mie instan, membuat telur mata sapi, mengolah ayam goreng, hingga membuat gulai dengan berbagai rempah-rempah, dapat dia lakukan sendiri.

“Memasak dalam keadaan tidak dapat melihat apa pun, bukan berarti tanpa kendala.” ujar Siti bersemangat. Istri dari Ari itu menjelaskan bahwa, sebelum terampil memasak, difabel netra pun harus dapat membedakan bermacam-macam bumbu dapur.

“Kunyit, jahe, lengkuas, kencur, bisa saya bedakan dari aromanya. Gores sedikit pakai kuku sampai baunya tercium,” tutur Siti seperti memberi tip. Tangan kirinya memegang jahe, sementara kuku telunjuk kanannya menggores permukaan jahe yang dipegangnya. Lalu Siti mencium jahe tersebut.

“Sedangkan bawang putih dan merah dapat dibedakan dari bentuk, bau, serta lapisannya. Jika dipotong, bawang merah berlapis-lapis, bawang putih lapisannya hampir tidak teraba. Sebenernya ‘nggak tahu juga, sih, bawang putih ada lapisannya atau tidak.” imbuhnya seraya tersenyum.

Untuk membedakan garam dan gula pasir, perempuan berkerudung itu menggunakan toples yang berbeda bahannya. “Saya pakai toples kaca untuk garam, toples plastik untuk gula pasir, jadi tidak akan tertukar. Begitu juga dengan merica dan ketumbar. Tapi, biji keduanya pun berbeda. Ketumbar lebih kecil-kecil, sedangkan merica lebih besar dan bulatnya nyaris sempurna.” kata Siti menjelaskan.

Siti melakukan kegiatan masak-memasak satu sampai dua kali setiap hari. “Tergantung kebutuhan, sih, kalau masak berapa kali dalam sehari. Yang pasti, setiap hari pasti masak.” ujarnya. Dirinya mengetahui olahan yang dimasak telah matang dengan berbagai cara. Misal, jika sedang menggoreng tahu, maka bunyinya akan berubah jika tahu telah kering. Siti lalu akan merabanya dengan menggunakan spatula. Tahu yang teraba telah kering, Siti membalik tahunya hati-hati. Pun demikian caranya menggoreng yang lain, tempe, ayam, ikan, dan sebagainya.

“Saya menggoreng tahu, tempe, ayam sedikit-sedikit. Empat sampai lima dahulu. Minyaknya dibanyakin biar gampang meraba sudah kering atau belum. Terus, ngebaliknya juga lebih mudah. Kalau banyak-banyak susah nanti ngebaliknya,” perempuan periang itu menjelaskan panjang lebar.

“Kalau masak sayur dan tumis, sih, mudah. Tinggal didengerin air rebusannya udah mendidih atau belum. Kalau udah mendidih,  tunggu bentar, terus dicobain sayurannya sudah empuk atau belum. Kalau udah empuk, tinggal dikasih bumbu. Beres!” seloroh Siti.

Perempuan yang suka sekali mendengarkan musik itu mengaku bahwa, hal yang paling ditakutinya saat memasak adalah suara yang dihasilkan dari masakan yang sedang digorengnya. Misal, suara tahu saat dicelup ke dalam wajan yang berisi minyak panas. Saat mencelupkan tahu, tempe, ayam, ikan, dan lain-lain ke dalam wajan, Siti menggunakan jepitan gorengan atau sudip (saringan minyak) yang berfungsi sebagai perpanjangan tangannya.

“Kalau dicelupin langsung ke wajan, saya takut. Takut tangan saya kena minyak panas. Atau minyaknya muncrat pas saya celupin pakai tangan. Oh, ya, kemampuan memasak saya akan sedikit berkurang kalau hujan besar. Atap dapur saya terbuat dari seng, jadi berisik. Saya ‘nggak bisa denger masakan saya udah mateng atau belum. Pinginnya, sih, punya dapur yang kalau hujan ‘nggak berisik karena air hujan.” tuturnya mengungkapkan keinginannnya.

Di bulan ramadan ini, Siti ingin selalu menghidangkan menu berbuka dan sahur yang istimewa untuk anak dan suaminya. Rasa lapar di siang hari dan kantuk di malam hari tidak mengurangi konsentrasi yang sangat dibutuhkan saat dirinya memasak.