Hardiknas 2020, Refleksi Pendidikan di Tengah Pandemi

0
84

Oleh: Rafindra

Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei. Biasanya Hardiknas diperingati dengan mengadakan upacara bendera di tiap satuan pendidikan maupun kantor pemerintahan. Selanjutnya, aneka lomba kompetisi seputar bidang pendidikan digelar untuk tingkat pelajar hingga mahasiswa.

Namun, ada yang beda di tahun 2020 ini. Mengapa demikian?

Pandemi Covid-19 yang terjadi secara global di dunia termasuk Indonesia, membuat aktivitas manusia terbatasi. Hampir seluruh kegiatan seperti bekerja, belajar, dan beribadah harus dilakukan dari rumah. Peringatan Hardiknas pun mengalami modifikasi tersendiri.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai panitia peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2020 mengeluarkan Pedoman Penyelenggaraan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020.

Dalam pedoman tersebut, Kemendikbud meniadakan penyelenggaraan upacara bendera yang umumnya dilakukan satuan pendidikan, kantor Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah, serta perwakilan pemerintah Republik Indonesia di luar negeri sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19.

Pemberitahuan ini disampaikan melalui surat yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 42518/MPK.A/TU/2020 tanggal 29 April 2020.

Tema Hardiknas tahun ini adalah ‘Belajar dari Covid-19.’ Kemendikbud tetap akan mengadakan upacara Hari Pendidikan Nasional secara terpusat dan terbatas dengan protokol kesehatan, acara tersebut dapat lihat melalui Channel Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau televisi edukasi, Sabtu, 2 Mei pukul 08.00 WIB.

Pandemi Covod-19 berdampak langsung terhadap semua sektor kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Berlakukannya ‘social distancing,’ telah menutup semua akses sarana pendidikan. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Praktik model pembelajaran ini menjadi hal baru yang jalani selama pandemi.

Pembelajaran jarak jauh sendiri sebenarnya sudah lama dipakai di Indonesia. Umumnya dipakai oleh perguruan tinggi yang tidak menerapkan pertemuan tatap muka secara langsung di dalam kelas.

Awalnya pembelajaran jarak jauh hanya menggunakan media surat menyurat, yang kemudian seiring perkembangan zaman berubah secara daring dengan menggunakan jaringan internet, seperti sekarang ini. Medianya pun berubah, tidak lagi menggunakan surat menyurat yang dikirim melalui kantor pos, melainkan sudah memanfaatkan beragam aplikasi. Dengan pembelajaran jarak jauh ini siswa tetap dapat belajar dari rumah.

Apakah belajar dari rumah ini dalam pelaksanaanya sudah baik dan efektif?

Tujuan utama program belajar dari rumah, selain untuk melindungi pendidik maupun peserta didik agar tidak terpapar virus dan menekan penyebaran wabah, adalah agar melindungi hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan dengan mudah.

Namun yang muncul justru permasalahan baru. Interaksi belajar ada yang tidak dilakukan, sebagai gantinya pemberian tugas terus berjalan. Sebagian lain mencoba melakukan interaksi belajar lewat e-learning atau memanfaatkan aplikasi tertentu seperti webex, zoom, google meet, dan lainya, hingga memerlukan kuota untuk akses internet. Baru sekitar April, Kemendikbud meluncurkan program belajar dari rumah melalui siaran TVRI.

Ada yang terlupakan dan kurang mendapat perhatian dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh ini, mereka adalah para penyandang disabilitas. Sering kali tugas yang diberikan tidak memperhatikan kondisi dan kebutuhan khusus setiap jenis disabilitas, media aplikasi yang digunakan saat pembelajaran secara daring tidak aksesibel.

Adapun program belajar dari rumah melalui siaran TVRI yang digagas Kemendikbud, belum ada program tayangan untuk satuan pendidikan khusus/SLB. Padahal sangat dibutuhkan, mengingat tidak semua jenis disabilitas mampu mengikuti tayangan pembelajaran yang setara tingkatannya dengan siswa sekolah reguler.

Hal ini tentu perlu mendapat perhatian serius baik dari para praktisi pendidikan maupun dari pemerintah. Agar mereka tetap mendapatkan hak pendidikan yang berkualitas di tengah pandemi Covid-19. Pelatihan TIK guna mengenalkan tekhnologi asistif untuk siswa disabilitas, guru, dan dosen, juga sangat diperlukan agar semua dapat saling belajar memahami. Hingga saat akan menerapkan pembelajaran, baik tatap muka secara langsung maupun dengan model pembelajaran jarak jauh tidak banyak menemukan hambatan lagi.

Belajar dari Covid-19 tidak hanya semata-mata memindahkan atau mengubah kebiasaan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah. Pandemi Covid-19 mengajarkan kita tentang arti saling peduli terhadap sesama, saling kolaborasi, saling berinovasi, dan mengubah pola fikir dalam pembangunan dunia pendidikan agar semakin inklusif.

Semoga refleksi momentum Hardiknas 2020 ini, dapat membawa perubahan yang nyata di masa mendatang. Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional 2020.