Harapan Kaum Difabel Amerika pada Pemerintahan Baru

0
439

Penulis: Barra.

Newsdifabel.com — Dalam kampanyenya, Joe Biden berkomitmen mengedepankan sebuah rencana memperluas penanganan dan pemenuhan kebutuhan para difabel di Amerika. Rencana itu didukung oleh banyak kalangan termasuk para advokat dan ahli hukum. Joe Biden sendiri adalah seorang advokat sebelum menjadi senator dan kini Presiden ke-42.

Joe Biden mengatakan akan membuat janji tentang kesetaraan-penuh menjadi nyata untuk semua orang tanpa peduli ras, etnis, keyakinan, identitas, dan kedifabelan warga Amerika. Komitmen pada kesejahteraan difabel juga dijanjikannya dengan mendanai penuh pelaksanaan amanat undang-undang tentang pendidikan untuk difabel (Individuals with Disabilities Education Act), termasuk akan menunjuk seorang direktur kebijakan difabel di Gedung Putih.

Penanganan “krisis” pengasuh (pendamping) akan dijawab dengan menggelontorkan dana besar untuk layanan domestik bagi difabel. Para advokat menyatakan bahwa mereka menantikan untuk melihat rencana Biden membuahkan hasil.

Pada Disabilityscoop.com, Julia Bascom, direktur eksekutif Autistic Self Advocacy Network mengatakan bahwa presiden terpilih, Joe Biden, telah membuat banyak komitmen konkret kepada komunitas disabilitas, termasuk memperkuat dan memperluas layanan berbasis rumah tangga dan komunitas, mengakhiri upah di bawah minimum. Mereka berharap tim transisi akan terus terlibat bersama organisasi difabel dan menyiapkan ruang kemitraan solid untuk pemerintahan yang akan datang.

Nicole Jorwic, direktur senior kebijakan publik di The Arc juga menyampaikan dia optimis bahwa kebutuhan difabel akan diperhitungkan dalam rencana bantuan Covid-19 di bawah pemerintahan yang akan datang. Mengingat penanganan pencegahan penularan Covid-19 di Amerika selama kepemimpinan Trump adalah sesuatu yang tak begitu serius ditangani.

Baca: Menakar Aksesibilitas Pemilu Amerika 2020

Sementara itu, Jaringan Nasional Hak Disabilitas (National Disability Rights Network) meminta Joe Biden untuk menunjuk difabel ke dalam tim transisi di semua level pemerintahan, termasuk dalam kabinet Biden-Harris.

Tampaknya, kaum difabel Amerika memiliki ekspektasi besar pada pemerintahan baru Amerika yang telah meletakkan rencana ambisius pemenuhan hak difabel. Para aktivis hak-hak difabel akan terus memantau implementasi dari janji manis Biden.

Presiden Amerika yang Difabel

Rupanya, Amerika yang telah melewati 42 kali pergantian presiden dan pernah melahirkan enam presiden yang difabel, beberapa di antaranya adalah:

Pertama ada Franklin Delano Roosevelt yang terkena polio. Tiap acara kenegaraan, ia selalu menggunakan korset dan tongkat untuk membantunya berdiri dan berjalan kaki. Dengan kondisi itu, Roosevelt selalu optimis akan membuat Amerika maju, ia tidak pernah takut pada apapun yang bisa menghalangi mimpinya memimpin Amerika sebagaimana kalimatnya yang terkenal, “The only thing we have to fear is fear itself.”

Kedua adalah Theodore Roosevelt. Meski nama belakangnya sama, namun Theodore Roosevelt dan Franklin Roosevelt tidak ada hubungan darah. Theodore Roosevelt mengalami rabun jauh ditambah dengan asma bronkial yang menghambat perkembangan fisiknya. Theodore Roosevelt menjadi presiden dua periode dari 1901 sampai 1909.

Ketiga, Woodrow Wilson. Dilantik pada 1913, dokter militer paling terkenal saat itu, Silas Weir Mitchel pesimis akan kesehatan Wilson. Bagian mulut Wilson tak bisa digerakkan, lalu suatu pagi ketika bangun dari tidur, Wilson mengalami kelumpuhan. Wilson yang lulus doktoral sejarah dan politik pernah mendapatkan nobel perdamaian atas upayanya membuat “Fourteen Points” yang menjadi dasar perjanjian damai ketika perang melawan Jerman. Wilson dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1920, tahun yang sama ketika ia menderita stroke kedua yang membuatnya lumpuh dan sisi kiri matanya tak bisa lagi melihat.

Indonesia juga pernah memiliki presiden difabel, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden humoris dan berpemikiran luas itu menjabat sebagai presiden ke-4 republik ini. Gus Dur terkena glaukoma sehingga kualitas penglihatannya turun secara drastis, terutama di mata bagian kiri yang telah rusak sarafnya. Namun Gus Dur semakin tajam mata hatinya, ia membuka lebar hatinya untuk berwelas asih pada kaum minoritas.

Syarat menjadi presiden di Indonesia diatur dalam UUD 1945 Pasal 6 dan 6A, lalu secara teknis diatur lebih lanjut dalam Pasal 169 Undang-Undang No. 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang salah satunya menyatakan “Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai presiden dan wakil presiden serta bebas dari penyalahgunaan narkotika.”