Kecapi di Tengah Gempuran Musik Modern

0
531

Penulis: Agus Maja

Newsdifabel.com – Dalam buku The Clash Of Civilizations (Benturan Antar Peradaban), Samuel Huntington mengajukan sebuah tesis: ”Sumber utama konflik dunia-baru tidak lagi ideologi atau ekonomi, tetapi budaya”. Kemajuan zaman selalu menyeret segalanya, teknologi, ideologi, sistem politik, kebudayaan (termasuk dalam makna tradisi), corak hidup masyarakat, musik, dan lainnya. Itu keniscayaan. Sehingga, menolak kemajuan hanya akan membuat kita tergulung ombak perubahan, berakhir menjadi sampah zaman. Yang diperlukan adalah penyesuaian agar akulturasi (kontak budaya) tak membunuh budaya lokal. Koentjaraningrat punya istilah “glokalitas” yaitu sebuah interaksi yang kompleks antara global dan lokal.

Menyiasati kemajuan adalah hal substantif, termasuk bagaimana mempertahankan budaya tradisional agar bisa berdampingan dengan musik modern. Dalam tulisan ini akan menyajikan cerita pegiat seni musik tradisional kecapi yang sempoyongan untuk bisa bertahan.

***

Kecapi merupakan alat musik tradisional khas sunda yang cara memainkannya dengan dipetik. Instrumen kecapi biasanya dimainkan untuk sebuah tembang sunda atau disebut dengan Mamaos Cianjuran. Dimana iringan dari suara kecapi dapat menciptakan kesan pilu pada sebuah alunan lagu yang mendayu. Secara bahasa kedaerahan pengucapan dan penulisan kecapi dalam bahasa sunda menjadi kacapi. Alat musik ini sering ditampilkan oleh masyarakat sunda baik dalam acara formal ataupun non formal. Sebagai sebuah identitas budaya maka alat musik ini selalu menjadi pilihan bagi masyarakat sunda, apalagi jika alat musik kacapi kita dengarkan di suasana santai, di persawahan atau kebun disambut embusan angin sejuk dapat menggugah suasana dan semangat dalam aktivitas ataupun bersantai.

Edi Sundara adalah seorang master kacapi difabel netra. Jari-jarinya sangat lincah memainkan alat musik ini. Ketika ia duduk di bangku SLTP, Edi belajar dari gurunya yang pada saat itu berada di daerah Sumedang, Jawa Barat. Dengan penuh ketekunan, Edi mempelajari alat musik ini meski pada saat itu harus bergantian dengan temannya karena alat musik kacapi hanya ada satu. Tahun 1994 Edi melanjutkan sekolah di Bandung yang pada waktu itu bernama SKMPI. Sayangnya pada tak ada pelajaran kacapi hingga ia pun harus belajar secara mandiri. Saat ini keahlian Edi memainkan kacapi bisa menghidupi anak serta istrinya.

Hal yang paling unik dari kacapi adalah suaranya sangat berbeda dan tidak bisa ditiru oleh dubbing keyboard. Selain tak bisa ditiru, cara memainkan kacapi berbeda dengan gitar sebab alat musik kacapi saat dimainkan posisinya ditidurkan (di bawah) dan sang pemain duduk bersila menghadap kacapi.

Edi mengatakan, “Bermain kecapi itu sangat sulit karena kedua tangan harus digerakan semua. Teknik bermain kecapi pun cukup banyak di antaranya teknik jamret, petik, ranggeum, dan sintreuk. Tangan kanan untuk suara tinggi dan tangan kiri suara rendah.”

Baca: Difabel Tuli dan Musik: Pengalaman Rachel Kolb

Jenis atau bentuk kacapi ada tiga, kacapi indung (ada yang mengatakan kacapi parahu atau gelung), kemudian kacapi rincik (jenis ini sama, senarnya ada yang 18, 19, dan 20, namun suaranya lebih tinggi atau lebih nyaring dari kacapi parahu. Kanemudian yg terakhir adalah kacapi kawih (suaranya ada tiga tipe yaitu rendah, sedang, dan tinggi) banyak digunakan Edi sebagai alat pembelajaran kepada peserta didiknya.

Animo peserta didik untuk mempelajari kacapi pada umumnya tidak ada kendala, namun para peserta didik sering mengeluh karena alat yang satu ini cukup sulit dan berbeda dari alat musik lain. Oleh sebab itu Edi Sundara melibatkan para alumni yang sudah mahir bermain kacapi agar memotivasi anak didiknya tetap semangat dan berusaha mempelajari kacapi.

Sebagai tenaga panendidik yg mengajar di SLBN A Padjajaran, Edi Sundara berharap pemerintah provinsi lebih memperhatikan para pelaku seni tradisional, menghargai pelaku seni tradisional, dan menjaga kekayaan budaya daerah, karena antusiasme masyarakat terhadap musik tradisional semakin berkurang dan berada dalam kondisi kritis.

Baca: Kreativitas Seni bagi Difabel

Oleh karenanya perlu diadakan suatu terobosan agar musik tradisional khususnya musik kacapi tetap lestari. Edi Sundara adalah wakil dari pelaku seni tradisional yang mempunyai kualitas mempuni. Edi bercerita bahwa, “Difabel netra tidak kalah dan mampu bersaing”. Selain itu, dalam konteks pemenuhan bantuan alat musik bagi sekolah luar biasa, pemerintah provinsi masih salah sasaran, contohnya, ada sekolah yang memang tidak termasuk dalam konsen musik bisa mendapatkan alat kacapi tetapi sekolah luar biasa yang konsen dalam bidang musik malah tidak mendapatkan bantuan.

Alat musik kacapi bukanlah musik kampungan, sebab untuk mempelajarinya tidaklah mudah, diperlukan kegigihan dan ketekunan. Sehingga penting adanya pemenuhan fasilitas alat kepada pelaku seni khususnya untuk sekolah luar biasa yang mempunyai program unggulan di bidang musik seperti SLBN A Padjadjaran.

Negara luar seperti Jepang memiliki antusias terhadap kecapi, sehingga akan disayangkan jika Indonesia sebagai Negara kaya tradisi justru tak begitu memajukan potensi senimannya. Tantangan lain adalah rendahnya animo generasi muda menjaga kelestarian tradisi nusantara. Maka sangat perlu membuat program penyelarasan antara pemerintah melalui kementerian pendidikan dengan pelaku seni tradisional. Upaya ini untuk membangun jembatan agar kebudayaan daerah bisa hidup berdampingan dengan kemajuan zaman.